https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100
Selasa 21 Mei 2019, 15:30 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Cukup Sampai di Sini Kampanye Jokowi
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100#>
15 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4558737/cukup-sampai-di-sini-kampanye-jokowi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.188653358.74305764.1558461100-1415547343.1558461100#>
Cukup Sampai di Sini Kampanye Jokowi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi
Wahyono)
*Jakarta* - KPU ternyata bekerja lebih cepat dari rencana. Rekapitulasi
suara versi /real count/ KPU atas Pilpres 2019 sudah selesai, dan sudah
diumumkan. Jokowi-Ma'ruf Amin menang.
Ya, memang masih banyak masalah di balik pengumuman hasil Pilpres itu.
Pihak Prabowo-Sandi tampaknya masih akan mempersoalkan hasil itu,
berbekal tudingan kecurangan ini dan itu. Namun, saya percaya, energi
untuk itu tak akan bertahan lama. Jokowi akan melanjutkan kepemimpinan
pada periode kedua.
Ini adalah periode kedua bagi Jokowi. Periode terakhir bagi perannya
sebagai Presiden Republik Indonesia. Ia tak akan bisa maju nyapres lagi
di Pilpres 2024. Artinya, etape ini semestinya menjadi lahan bekerja
habis-habisan untuknya. Apakah hasil karyanya akan dikenang oleh
mayoritas rakyat Indonesia atau tidak, sesungguhnya periode inilah
penentunya.
Maka, Mas Joko seharusnya tak perlu/jaim-jaim/ lagi. Bukan lagi
popularitas yang ia kejar, bukan lagi elektabilitas yang ia perjuangkan.
Apalagi dia juga tidak tampak menanam anak-anaknya untuk diberi tugas
melanjutkan estafet peran-peran politiknya. Pendek kata, kali ini Joko
Widodo cuma perlu bekerja, tak perlu lagi berkampanye dan menjaga citra.
Saya yakin, sosok seliat Jokowi sudah paham itu. Yang saya khawatirkan
belum paham akan soal-soal seperti itu justru para pendukungnya dari
level massa.
Bicara tentang massa dan sikap-sikap mereka tentu saja sangat penting
pada waktu ini. Segenap dinamika yang mengiringi polarisasi politik
selama 4,5 tahun terakhir menjadi sesuatu yang mencemaskan, karena
benar-benar melibatkan masyarakat hingga level terbawah. Pembelahan
sosial, konflik-konflik yang menyedihkan, retaknya sendi-sendi
lingkungan terkecil hingga lingkup keluarga, adalah fakta-fakta nyata.
Dengan demikian, penyamaan frekuensi pemahaman bagi umat pendukung
Jokowi menjadi sangat penting. Pesannya jelas: Jokowi tak akan lagi bisa
maju pada 2024. Tak ada lagi relevansinya kampanye terus-menerus bagi
kemenangan Jokowi. Maka, yang mestinya dilakukan adalah bersama
menjalankan kembali peran-peran penting masyarakat sipil dalam kehidupan
bernegara.
Akibat polarisasi politik, selama ini peran-peran masyarakat sipil
memang tidak dapat berjalan baik. Selalu ada tekanan sosial yang
menghambat, tak terkecuali ego-ego kolektif yang terlalu kuat.
Kita telah terjebak pada klasifikasi simplistis atas golongan-golongan
sosial. Hanya ada dua kelompok manusia di atas bumi Indonesia ini, yang
kadung lazim disebut dengan cara dehumanis, yaitu cebong dan kampret.
Titik. Tak ada kadal, kupu-kupu, jangkrik, apalagi tonggeret. Nyaris
setiap interaksi sosial di zaman remang-remang ini ditingkahi dengan
identifikasi: apakah seseorang di hadapan kita itu cebong, atau kampret?
Hasilnya, alam sadar ataupun bawah sadar kita membentuk stempel-stempel
instan. Jika Anda melontarkan kritik kepada langkah-langkah Jokowi, maka
jelas Anda kampret. Jika Anda berani tidak setuju kepada Habib Rizieq
atau Amien Rais, sudah pasti Anda cebong.
Cara berpikir massal sedangkal itu menjadikan Jokowi selalu mendapatkan
pasukan pembela yang amat kuat bagi setiap tindakannya, mau sekeliru apa
pun tindakan itu. Setiap kritik kepada langkah Jokowi serta merta
dihadang oleh laskar /so called/ cebong. Pihak oposisi alias /so called/
kampret memang sudah pasti menyerang, tapi peta pertempurannya hanya
akan berakhir seimbang. Jokowi tetap bergeming, tak akan merasakan
tekanan apa pun, sebab tekanan massa sudah ada yang otomatis menghadapinya.
Ini berbahaya. Pada situasi seperti ini, kita jadi lupa bahwa presiden
adalah pemegang mandat rakyat. Pemahaman atas posisi seorang presiden
dilumpuhkan oleh pengidolaan total, dirangkai dengan pandangan dunia
yang terlalu biner. Padahal, pola yang ideal bagi keberlangsungan
pemerintahan yang sehat adalah pemerintah menjalankan kebijakan, dan
rakyat mengontrolnya. Ya, rakyat mengontrol, bukan membela habis-habisan.
Jika pembelaan habis-habisan senantiasa dijalankan, mekanisme kontrol
itu akan hilang pelan-pelan. Bahkan meski ada kelompok oposisi pun,
kekuatan kontrol itu tetap terasa lemah. Kenapa? Sebab setiap upaya
kontrol sesehat apa pun tidak akan pernah dilihat sebagai kontrol,
melainkan secara gampangan langsung divonis sebagai kenyinyiran para
kampret. Mentahlah ia seketika.
Saya setuju, bukan berarti masyarakat sipil wajib senantiasa bersikap
kontra kepada pemegang tampuk pemerintahan. Kontrol dan kontra itu beda.
Jelas sekali, selama ini Jokowi juga sering diserang secara tidak
proporsional. Dengan aneka fitnah, hoaks, pelintiran. Mulai isu PKI
hingga anti-Islam. Pada ruang-ruang itulah edukasi publik tetap wajib
dijalankan, dengan pelakunya lagi-lagi masyarakat sipil.
Pelurusan fakta berbeda dengan pemujaan dan kampanye. Batas-batasnya
memang seringkali masih kabur, tapi lambat laun akan terlihat. Kita
ambil contoh. Jika kita membantah sebuah tuduhan ngawur kepada Jokowi
sambil membawa data, itu pelurusan fakta. Tapi jika kita
/selfie/-/selfie/ di tol Transjawa sambil pasang /caption,/ "Pakde
hebat! Keren! Lop yu pul, Pakdeee!" maka itulah kampanye. Kira-kira
begitu hehehe.
Oh, ada lagi. Jika Anda melihat sebuah kritik tanpa dasar atas kebijakan
Jokowi, lalu Anda membantahnya sambil menyajikan argumen yang lebih
rasional, itu merupakan dialektika. Tapi jika Anda melengkapinya dengan
ejekan sadis kepada kaum oposisi, maka boro-boro pelurusan fakta, itu
cuma akan jatuh jadi pelanggengan polarisasi.
Masih banyak contoh tindakan lain yang bisa saling dibandingkan dan
diperhadapkan. Selama proses lima tahun ke depan, kita akan terus
belajar. Syaratnya sudah pasti, yaitu kita sama-sama memahami bahwa
Jokowi tidak perlu berkampanye lagi. Karena Jokowi tak lagi perlu
kampanye, begitu pun pendukungnya.
Yang kita perlukan saat ini memang bukan lagi kampanye. Kita jauh lebih
butuh meredam polarisasi, berorientasi sama-sama kepada perbaikan
negeri, sambil kompak menurunkan ego dan gengsi. Berat? Ya, memang
berat. Tapi mau tak mau harus dijalankan bersama-sama, sebab kita ingin
kembali menjadi Indonesia.
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)
*
**