Begitu banyak modal, kok jadinya Modar..... Masing-masing iri keluarkan modal ?? Habis kalau kalah, apa suruh jatuh miskin.....
Pada tanggal Sen, 27 Mei 2019 pukul 14.25 Al Faqir Ilmi [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > MORAL vs MODAL > > Seorang birokrat yang juga teknokrat dan punya hubungan dekat dengan > keluarga Cendana pernah bilang, bila uang keluarga itu kompak bersatu > (anak-anak Suharto), maka mereka bisa membeli Indonesia. Itu setahun > memasuki pilpres 2014, dan juga disampaikan kepada mbak Titiek sebagai > petinggi Golkar kala itu. Namun keluarga Cendana belum kompak, mbak Titiek > pun mengakui dan akhirnya sang ex suami, Prabowo pun gagal Presiden 2014. > > Menjelang 2019, Prabowo berhasil menyatukan keluarga Cendana. Merebak > kabar mbak Titiek juga siap jadi ibu negara kalau Prabowo naik istana. > Artinya, uang Cendana siap mendanai kampanye Prabowo. Ditambah uang > keluarga Prabowo, cucu pendiri Bank BNI serta anak begawan ekonomi Sumitro > yang jadi menteri berulang kali jaman orba. Hashim, adik Prabowo pun > dikenal sebagai konglomerat elite yang ikut menjadi petinggi Gerindra. > > Tidak cukup sampai di situ, Prabowo menggandeng Sandiaga Uno konglomerat > elite generasi lebih muda sebagai cawapres. Lalu memberi hak kepada mitra > partai koalisi untuk mengatur kampanye, asalkan membawa dana segar. PKS dan > PAN menjawabnya dengan mantap lantaran juga punya backing modal raksasa. > Sumber modal lain yang tak kalah raksasa, adalah para pengusaha dan > kelompok usaha Multinasional, korban kebijakan Jokowi, dari Petral hingga > Freeport yang bermain mata dengan Prabowo. Tak ketinggalan rente ekonomi > korup ikut ambil bagian. > > Maka terbayang akumulasi modal yang terkumpul. Sepertinya bisa membeli > suara 3x orang Indonesia. Dengan kondisi luar biasa ini, mereka memasuki > kancah pilpres 2019. Moral mereka ada di modal. Satu persatu mereka beli. > Konsultan post true ala Brexit dan Trump dipanggil. Konsultan elite lokal > macam RG, dan RR dicomot. Disertai membangun selain cyber army aktif, juga > jejaring kerja dengan informal leader yang memiliki massa yang masif. > > Sampai di sini, rasanya mustahil mereka bisa kalah. Apalagi, ini menjadi > semacam pertaruhan terakhir Prabowo, dan keluarga Cendana serta nama besar > Suharto. Kembali berkuasa atau hilang ditelan sejarah. Sehingga apapun akan > mereka bayar dengan modal se raksasa itu. Mereka siap memasuki pertarungan > bahkan kehadiran kubu SBY seakan tidak digubris lagi, dianggap cuma > bermodal kecil mungkin. Semua dianggap sudah pada relnya, jargon merekapun > sangat percaya diri, Indonesia menang. > > Tak ada yang salah, mereka pun sudah berhitung, hanya saja, tak ada yang > bisa melawan kehendak Tuhan. Celakanya, lawan Prabowo adalah Jokowi, orang > pilihan yang modalnya di moral. Semua yang ia perbuat selalu punya landasan > moral, bukan modal. Seberapapun modal tercurah, tak kan bisa mengalahkan > moral. Ini sudah hukum semesta, diwahyukan oleh Sang Khalik. > > Jokowi hanya orang biasa tapi ia dimuliakan dengan kekuatan cinta dan > moral. Tukang kayu yang dirinya sendiri adalah kayu cendana, kayu harum > yang maha kuat tak lekang dan retak hanya digempur oleh keluarga Cendana. > Malaikat ada di bahu kanan Jokowi dan rakyat ada di bahu kirinya. Siap bahu > membahu melawan kedurjanaan. Di pilpres 2019 ini, jadi ajang pembuktian, > terberkatinya seorang Jokowi. > > Orang baik modalnya di moral. Dan yang sebaliknya, adalah mereka yang > moralnya di modal. > > Richard Mandang > > > Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone > <https://overview.mail.yahoo.com/?.src=iOS> > > >
