https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa
Jumat 31 Mei 2019, 13:30 WIB
Kolom
Jokowi dan Politik Falsafah Jawa
Anwar Kurniawan - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#>
Anwar Kurniawan
<https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#>
4 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#>
Jokowi dan Politik Falsafah Jawa Presiden Jokow Widodo (Foto: Istimewa)
*Jakarta* - Dalam sebuah wawancara eksklusif bertajuk /Merajut Kembali
Persatuan Bangsa/ di Istana Negara, Presiden Joko Widodo (Jokowi)
membeberkan filosofi Jawa saat menjawab pertanyaan reporter Retno Pinasti.
Ada tiga falsafah yang diutarakan oleh Presiden Jokowi sebagai pegangan
hidupnya. Pertama, "/Lamun sira sekti ojo mateni --/meskipun kamu sakti
jangan suka menjatuhkan." Kedua, "/Lamun sira banter aja ndhisiki
--/meskipun kamu cepat jangan suka mendahului." Dan ketiga, "/Lamun sira
pinter aja minteri --/meskipun kamu pintar jangan sok pintar."
Ini wajar, mengingat Jokowi merupakan sosok yang lahir dan besar dalam
tradisi Jawa. Maka referensi /kasunyatan/-nya pun adalah falsafah Jawa.
Sebetulnya, petuah-petuah setamsil itu adalah hal biasa. Menjadi luar
biasa bahkan bertenaga ketika yang menciptakan atau yang menutur adalah
seorang yang memiliki pengaruh, baik sosial maupun spiritual. Lebih
jauh, filofosi itu ditengarai merupakan/ibrah/ dari Sayyid Ja'far Shodiq
alias Sunan Kudus yang ditularkan kepada murid dan disampaikan secara
turun temurun.
Langgam serupa juga terdapat di bilangan Masjid Kampus UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta yang memajang kalimat "/anglaras ilining banyu,
angeli ananging ora keli/" dan dinisbahkan pada Sunan Kalijaga.
Atau, pada sebuah falsafah yang cukup terkenal dari sastrawan
Sosrokartono. Sekurang-kurangnya ada sepuluh falsafah Sosrokartono, dan
kini sering menjadi tembang andalan Ki Dalang Sujiwo Tedjo.
Jawa itu unik. Bukan karena saya, Anda, dan kebanyakan orang adalah
Jawa. Tapi memang demikian faktanya. Tidak hanya sarat dengan hal-hal
spiritual, Jawa juga dikenal sebagai ladang kekuasaan.
Sejak abad ke-8 hingga ke-9, bahkan sampai menjelang kemerdekaan
Republik Indonesia, sebagaimana dicatat seorang pengamat Jawa Iman Budhi
Santosa (2012), pemerintah masa lalu Jawa adalah kerajaan.
Mulai dari dinasti Sanjaya dan Syailendra pada zaman Mataram kuna,
misalnya, berlanjut Kerajaan Medang, Kahuripan, Kadiri, Jenggali,
Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram (Islam) yang
akhirnya terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran,
Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Pakualaman.
Senapas dengan itu, KH Abdurrahman Wahid (2009) mempertegas dalam prolog
buku /Ilusi Negara Islam/, bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah mewarnai
tanah Jawa di atas-dan juga kerajaan lain yang tersebar di seluruh
Nusantara tentu saja-telah memperkuat kesadaran kita tentang pentingnya
melestarikan kekayaan dan keragaman budaya serta tradisi bangsa.
Lebih jauh, seperti dikutip Ariel Heryanto (2019) dari sebuah novel
sejarah Mataram karya sejarawan legendaris Anthony Reid, bahwa Jawa
mengajarkan betapa kita tidak dapat membela Tuhan dengan jalur
peperangan, pembunuhan, dan kebencian satu sama lain di tengah realitas
kemajemukan paham kendati atas nama kebenaran.
Pasalnya, masyarakat Jawa sejak awal telah sadar bahwa di dunia ini
terdapat sudut pandang yang bermacam-macam. Dengan demikian, setiap ide
dan perbuatan dapat dinilai dan disimpulkan berdasarkan sudut pandang
yang berbeda sehingga menstimulasi pendapat yang beraneka ragam pula.
Sistem pengetahuannya pun, mengutip Kuntowijoyo (1995), cenderung akrab
dengan masyarakat agraris. Kalau kita lihat buku /Mujaroba/t, misalnya,
dengan mudah ditemukan banyak/wifiq, rajah/, dan doa yang berkenaan
dengan keperluan masyarakat agraris. Demikian halnya, penguasaan
terhadap Jin yang banyak terdapat dalam masyarakat Islam juga
menunjukkan ciri masyarakat agraris.
Rupanya, lanjut Kunto, kepandaian Jin juga agraris. Jin dapat
berperilaku individual, tetapi tidak massal. Jin dapat menggendong satu
orang dari Banyuwangi ke Surabaya, tetapi tidak untuk 500 orang
sekaligus karena itu adalah tugas kereta api.
Itulah mengapa dalam mitologi Muslim Jawa lalu dikenal adanya Syaikh
Syubakir yang konon telah lebih dulu melakukan "kontrak dakwah" dengan
/danyang-danyang/ Jawa sebelum menyebarkan Islam.
Perpaduan antara yang sakral dengan profan itu ternyata dimengerti betul
oleh para misionaris Islam masa lalu. Meski mereka bukan orang Jawa,
kecuali Sunan Kalijaga, tetapi mereka mampu mendialogkan yang langit
dengan yang bumi.
Atau dalam bahasa Sultan Agung (1603-1645), kalau agama itu ibarat
sastranya, maka budaya adalah gendingnya, lagunya. Sastra itu tetap,
sedang gendingnya-lah yang dapat berubah. Demikian dengan teks Islam
yang tetap, sementara konteksnya sangatlah dinamis, dapat berubah.
Ternyata Jawa juga tidak selamanya menjanjikan. Ada banyak ancaman yang
mengintai masyarakat. Melihat kondisi alam dan letak geografisnya, cukup
wajar jika Jawa dikenal sebagai "gudang bencana alam".
Bencana demi bencana itu tidak hanya fenomena belakangan ini saja. Ia
telah berulang-kali terjadi sepanjang zaman. Kisah tertimbunnya Candi
Prambanan dan Borobudur serta candi-candi lain di masa lalu cukup
menjadi contoh untuk mengatakan betapa letusan Gunung Merapi pernah
memorak-porandakan sebuah peradaban megah.
Selain ancaman di luar kuasa manusia itu, masih ada persoalan lain yang
tak kalah krusial. Fakta bahwa ada banyak kerajaan di Jawa sebagaimana
tersebut di atas sekaligus menegaskan bahwa ia tidak bisa lepas dari
keniscayaan ideologi monarkhi: perang dan perebutan kekuasaan.
Dan, kendati yang bersengketa adalah para raja, elite, atau bangsawan
untuk memenuhi ambisi kekuasaan, tentu saja ia berdampak pada
ketenteraman, kesejahteraan, dan ketenangan hidup rakyat masing-masing
negara atau pihak-pihak yang berseteru.
Dalam skema yang berbeda tapi masih sama di tataran konteks, pertarungan
kekuasaan dengan segala pertaruhannya itu senyatanya masih menghantui
Indonesia hingga hari ini. Kita sudah menyaksikan kengerian itu dengan
sangat melimpah ruah.
Lebih-lebih sebelum, pada saat, dan selepas Pilpres 2019. Sungguh,
"perang" dapat terjadi manakala semua orang suka berebut benar,
mati-matian mempertahankan ego kebenarannya, dan ngotot mencari menang
sendiri.
Mungkin, kita tidak mengharapkan kalau di Indonesia terjadi perang
gara-gara Pemilu. Tapi satu hal yang patut digarisbawahi, kita pernah
berabad-abad jadi bangsa terjajah dan terpecah-belah oleh ambisi politik
adu domba yang dipraktikkan Koloni.
Pertanyaannya sekarang, apakah hanya karena Pemilu yang tentu saja akan
berulang lima tahun lagi, kita lalu tega saling mencaci bangsa sendiri?
Semoga saja falsafah Jawa yang Presiden Jokowi pegang itu tidak hanya
sebatas retorika, tetapi juga bisa mengejawantah dalam berbagai sikap
dan keputusan politik untuk masa depan Indonesia yang /gemah ripah loh
jinawi/, /tata titi tentrem kertaraharja/.
Lagi pula, seperti diakui Presiden Jokowi sendiri, kalau ia tidak
dibebani oleh dosa politik masa lalu bukan? Ya, meskipun kalau
dihitung-hitung pada periode pertamanya, dosa politik masa lalu yang
pernah ada tidak sepenuhnya tuntas ia selesaikan.
*Anwar Kurniawan* /alumnus STAI Sunan Pandanaran, aktif di Komunitas
Santri Gus Dur Jogja/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*