Bahasa Indonesianya kata mateni dri bhs Jawa itu: membunuh. Bukan sekedar menjatuhkan. Kwalitas ungkapannya sangat berbeda.
Am Fri, 31 May 2019 20:37:40 +0200 schrieb "'j.gedearka' [email protected] [nasional-list]" <[email protected]>: > https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa > > > Jumat 31 Mei 2019, 13:30 WIB > > > Kolom > > > Jokowi dan Politik Falsafah Jawa > > Anwar Kurniawan - detikNews > <https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#> > Anwar Kurniawan > <https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#> > Share *0* > <https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#> > Tweet > <https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#> > Share *0* > <https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#> > 4 komentar > <https://news.detik.com/kolom/d-4572011/jokowi-dan-politik-falsafah-jawa#> > Jokowi dan Politik Falsafah Jawa Presiden Jokow Widodo (Foto: > Istimewa) *Jakarta* - Dalam sebuah wawancara eksklusif > bertajuk /Merajut Kembali Persatuan Bangsa/ di Istana Negara, > Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan filosofi Jawa saat menjawab > pertanyaan reporter Retno Pinasti. > > Ada tiga falsafah yang diutarakan oleh Presiden Jokowi sebagai > pegangan hidupnya. Pertama, "/Lamun sira sekti ojo mateni --/meskipun > kamu sakti jangan suka menjatuhkan." Kedua, "/Lamun sira banter aja > ndhisiki --/meskipun kamu cepat jangan suka mendahului." Dan ketiga, > "/Lamun sira pinter aja minteri --/meskipun kamu pintar jangan sok > pintar." > > Ini wajar, mengingat Jokowi merupakan sosok yang lahir dan besar > dalam tradisi Jawa. Maka referensi /kasunyatan/-nya pun adalah > falsafah Jawa. > > Sebetulnya, petuah-petuah setamsil itu adalah hal biasa. Menjadi luar > biasa bahkan bertenaga ketika yang menciptakan atau yang menutur > adalah seorang yang memiliki pengaruh, baik sosial maupun spiritual. > Lebih jauh, filofosi itu ditengarai merupakan/ibrah/ dari Sayyid > Ja'far Shodiq alias Sunan Kudus yang ditularkan kepada murid dan > disampaikan secara turun temurun. > > Langgam serupa juga terdapat di bilangan Masjid Kampus UIN Sunan > Kalijaga Yogyakarta yang memajang kalimat "/anglaras ilining banyu, > angeli ananging ora keli/" dan dinisbahkan pada Sunan Kalijaga. > > Atau, pada sebuah falsafah yang cukup terkenal dari sastrawan > Sosrokartono. Sekurang-kurangnya ada sepuluh falsafah Sosrokartono, > dan kini sering menjadi tembang andalan Ki Dalang Sujiwo Tedjo. > > Jawa itu unik. Bukan karena saya, Anda, dan kebanyakan orang adalah > Jawa. Tapi memang demikian faktanya. Tidak hanya sarat dengan hal-hal > spiritual, Jawa juga dikenal sebagai ladang kekuasaan. > > Sejak abad ke-8 hingga ke-9, bahkan sampai menjelang kemerdekaan > Republik Indonesia, sebagaimana dicatat seorang pengamat Jawa Iman > Budhi Santosa (2012), pemerintah masa lalu Jawa adalah kerajaan. > > Mulai dari dinasti Sanjaya dan Syailendra pada zaman Mataram kuna, > misalnya, berlanjut Kerajaan Medang, Kahuripan, Kadiri, Jenggali, > Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram (Islam) yang > akhirnya terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten > Mangkunegaran, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Pakualaman. > > Senapas dengan itu, KH Abdurrahman Wahid (2009) mempertegas dalam > prolog buku /Ilusi Negara Islam/, bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah > mewarnai tanah Jawa di atas-dan juga kerajaan lain yang tersebar di > seluruh Nusantara tentu saja-telah memperkuat kesadaran kita tentang > pentingnya melestarikan kekayaan dan keragaman budaya serta tradisi > bangsa. > > Lebih jauh, seperti dikutip Ariel Heryanto (2019) dari sebuah novel > sejarah Mataram karya sejarawan legendaris Anthony Reid, bahwa Jawa > mengajarkan betapa kita tidak dapat membela Tuhan dengan jalur > peperangan, pembunuhan, dan kebencian satu sama lain di tengah > realitas kemajemukan paham kendati atas nama kebenaran. > > Pasalnya, masyarakat Jawa sejak awal telah sadar bahwa di dunia ini > terdapat sudut pandang yang bermacam-macam. Dengan demikian, setiap > ide dan perbuatan dapat dinilai dan disimpulkan berdasarkan sudut > pandang yang berbeda sehingga menstimulasi pendapat yang beraneka > ragam pula. > > Sistem pengetahuannya pun, mengutip Kuntowijoyo (1995), cenderung > akrab dengan masyarakat agraris. Kalau kita lihat buku /Mujaroba/t, > misalnya, dengan mudah ditemukan banyak/wifiq, rajah/, dan doa yang > berkenaan dengan keperluan masyarakat agraris. Demikian halnya, > penguasaan terhadap Jin yang banyak terdapat dalam masyarakat Islam > juga menunjukkan ciri masyarakat agraris. > > Rupanya, lanjut Kunto, kepandaian Jin juga agraris. Jin dapat > berperilaku individual, tetapi tidak massal. Jin dapat menggendong > satu orang dari Banyuwangi ke Surabaya, tetapi tidak untuk 500 orang > sekaligus karena itu adalah tugas kereta api. > > Itulah mengapa dalam mitologi Muslim Jawa lalu dikenal adanya Syaikh > Syubakir yang konon telah lebih dulu melakukan "kontrak dakwah" > dengan /danyang-danyang/ Jawa sebelum menyebarkan Islam. > > Perpaduan antara yang sakral dengan profan itu ternyata dimengerti > betul oleh para misionaris Islam masa lalu. Meski mereka bukan orang > Jawa, kecuali Sunan Kalijaga, tetapi mereka mampu mendialogkan yang > langit dengan yang bumi. > > Atau dalam bahasa Sultan Agung (1603-1645), kalau agama itu ibarat > sastranya, maka budaya adalah gendingnya, lagunya. Sastra itu tetap, > sedang gendingnya-lah yang dapat berubah. Demikian dengan teks Islam > yang tetap, sementara konteksnya sangatlah dinamis, dapat berubah. > > Ternyata Jawa juga tidak selamanya menjanjikan. Ada banyak ancaman > yang mengintai masyarakat. Melihat kondisi alam dan letak > geografisnya, cukup wajar jika Jawa dikenal sebagai "gudang bencana > alam". > > Bencana demi bencana itu tidak hanya fenomena belakangan ini saja. Ia > telah berulang-kali terjadi sepanjang zaman. Kisah tertimbunnya Candi > Prambanan dan Borobudur serta candi-candi lain di masa lalu cukup > menjadi contoh untuk mengatakan betapa letusan Gunung Merapi pernah > memorak-porandakan sebuah peradaban megah. > > Selain ancaman di luar kuasa manusia itu, masih ada persoalan lain > yang tak kalah krusial. Fakta bahwa ada banyak kerajaan di Jawa > sebagaimana tersebut di atas sekaligus menegaskan bahwa ia tidak bisa > lepas dari keniscayaan ideologi monarkhi: perang dan perebutan > kekuasaan. > > Dan, kendati yang bersengketa adalah para raja, elite, atau bangsawan > untuk memenuhi ambisi kekuasaan, tentu saja ia berdampak pada > ketenteraman, kesejahteraan, dan ketenangan hidup rakyat > masing-masing negara atau pihak-pihak yang berseteru. > > Dalam skema yang berbeda tapi masih sama di tataran konteks, > pertarungan kekuasaan dengan segala pertaruhannya itu senyatanya > masih menghantui Indonesia hingga hari ini. Kita sudah menyaksikan > kengerian itu dengan sangat melimpah ruah. > > Lebih-lebih sebelum, pada saat, dan selepas Pilpres 2019. Sungguh, > "perang" dapat terjadi manakala semua orang suka berebut benar, > mati-matian mempertahankan ego kebenarannya, dan ngotot mencari > menang sendiri. > > Mungkin, kita tidak mengharapkan kalau di Indonesia terjadi perang > gara-gara Pemilu. Tapi satu hal yang patut digarisbawahi, kita pernah > berabad-abad jadi bangsa terjajah dan terpecah-belah oleh ambisi > politik adu domba yang dipraktikkan Koloni. > > Pertanyaannya sekarang, apakah hanya karena Pemilu yang tentu saja > akan berulang lima tahun lagi, kita lalu tega saling mencaci bangsa > sendiri? > > Semoga saja falsafah Jawa yang Presiden Jokowi pegang itu tidak hanya > sebatas retorika, tetapi juga bisa mengejawantah dalam berbagai sikap > dan keputusan politik untuk masa depan Indonesia yang /gemah ripah > loh jinawi/, /tata titi tentrem kertaraharja/. > > Lagi pula, seperti diakui Presiden Jokowi sendiri, kalau ia tidak > dibebani oleh dosa politik masa lalu bukan? Ya, meskipun kalau > dihitung-hitung pada periode pertamanya, dosa politik masa lalu yang > pernah ada tidak sepenuhnya tuntas ia selesaikan. > > *Anwar Kurniawan* /alumnus STAI Sunan Pandanaran, aktif di Komunitas > Santri Gus Dur Jogja/ > > > *(mmu/mmu)* > > * > * > > * > * > > * > * > > * > * > > * > * > > * > * >
