*Kalau pertumbuhan ekonomi mendatar, apakah artinya tidak ada
pertumbuhan?Kalau begitu larinya tidak kencang atau....?*


https://news.detik.com/kolom/d-4548736/saatnya-ekonomi-indonesia-berlari-kencang?_ga=2.203821776.1778841751.1559338831-1789166400.1545758683



Selasa 14 Mei 2019, 14:10 WIB
*Kolom* *Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang*

Jusup Silitonga - detikNews

*Jusup Silitonga*
<https://connect.detik.com/dashboard/public/jusupsilitonga>



[image: Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang]Ilustrasi: Andhika
Akbarayansyah/detikcom

*Jakarta* -

Penghitungan suara Pilpres 2019 pada portal KPU sudah mencapai kisaran 70%,
di mana secara *historical* maupun statistik, jika tidak ada hal luar biasa
yang terjadi, sudah dapat dipastikan siapa pemenang pemilu tahun ini.
Dengan demikian, sudah seharusnya pasangan yang diperkirakan menang
menyiapkan langkah-langkah besar dan strategis untuk menumbuhkan ekonomi
lebih tinggi lagi agar bisa segera dieksekusi pada waktu dilantik.

*Again, it's the economy!*

*Pertumbuhan yang Datar*Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis
pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2019 di angka 5.07%, yang tentu saja berada
di bawah prediksi pemerintah, bank sentral, maupun pasar. Hal ini tentu
saja kontras dengan ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh lebih tinggi
daripada konsensus pasar. Hingar-bingar (kampanye) pemilu di dalam negeri
tampaknya tidak berdampak cukup banyak untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia di triwulan pertama 2019. Ekspor dan impor yang justru
anjlok menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita belum tertata dengan
cukup baik.



Jika tren pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kisaran hanya 5% yang
merupakan *the new normal* terus berlanjut, mimpi untuk menjadi kekuatan
ekonomi dunia tampaknya hanya menjadi kenangan. Kita menyadari bersama
bahwa pertumbuhan yang biasa-biasa saja tidak dapat membawa Indonesia
melangkah lebih cepat. Diperlukan strategi dan eksekusi yang jauh lebih
baik di masa yang akan datang.

*Lompatan Besar*

Pemerintah, pelaku bisnis, maupun akademisi perlu duduk bersama untuk
merumuskan strategi ekonomi di masa depan. Reformasi menyeluruh pada
ekonomi Indonesia sangat diperlukan. Sangat penting untuk melakukan *big
leap forward* untuk mengubah pola ekonomi Indonesia yang berjalan
belakangan ini, sehingga pertumbuhan ekonomi yang optimal dapat dicapai.

Wacana ibu kota baru yang dihembuskan akhir-akhir ini tentu saja tidak
cukup untuk melakukan lompatan ekonomi. Pemerintah perlu melakukan *big
push*terhadap pasar. Hal yang mendesak untuk dilakukan adalah penguatan
fundamental ekonomi kita. Sumber pertumbuhan yang konstan dan membosankan
mengindikasikan bahwa kita berjalan lambat. Ekspor yang juga tidak
bertumbuh dengan pesat membuktikan bahwa kita kurang memanfaatkan potensi
dalam negeri.

Berikutnya, pertumbuhan konsumsi yang landai jika dibandingkan dengan
pertumbuhan penduduk membawa pesan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
berkembang dengan biasa-biasa saja. Dengan demikian, hal yang mendesak
dilakukan adalah mengubah skema pertumbuhan dalam negeri. Pemerintah perlu
menguatkan keunggulan komparatif Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan
transformasi besar-besaran di sektor barang dan jasa.

Pemanfaatan nilai tambah terhadap barang dan jasa terhadap ekonomi perlu
lebih dioptimalkan lagi. Kemudian, infrastruktur yang dibangun dengan cukup
masif belakangan ini juga wajib dibarengi dengan menumbuhkan
industri-industri baru, sehingga dapat menimbulkan *multiplier effect*.



*Bukan Stabilitas*Jika menilik pertumbuhan negara-negara yang ekonominya
bertumbuh cukup tinggi di *emerging market*, salah satu kuncinya adalah
investasi. *Foreign Direct Investment* (FDI) adalah hal yang penting dalam
investasi. Saat ini FDI Indonesia masih sangat kecil, di kisaran 2% dari
PDB. Di masa yang akan datang, pemerintah perlu membuka FDI dengan
besar-besaran. *Ease of doing business* perlu diperbaiki dan ditingkatkan
agar lebih baik dibandingkan dengan negara *emerging market* lainnya, dan
insentif fiskal wajib diberikan kepada investasi baru, sehingga Indonesia
dapat menjadi tujuan utama investasi.

Selanjutnya, kebijakan suku bunga rendah adalah sangat penting untuk
menumbuhkan investasi. Suku bunga yang cukup tinggi belakangan ini perlu
diturunkan berbarengan dengan penguatan ekonomi domestik. Perlu disadari
bersama bahwa suku bunga belakangan ini menimbulkan kekurangyakinan di
pasar. Oleh karena itu, kebijakan yang akhir-akhir ini lebih berfokus
kepada stabilitas ekonomi, wajib diubah dengan berfokus kepada pertumbuhan.

Kebijakan impor akhir-akhir ini yang cukup tinggi yang sedikit banyak
berdampak terhadap inflasi yang rendah juga perlu diubah. Dengan adanya
defisit *current account* tentu saja mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi
kita. Pemerintah perlu mengurangi main aman dengan menghilangkan hal-hal
yang menghambat potensi bangsa kita.

Pemerintah juga perlu mendorong dan memfasilitasi iklim usaha yang lebih
kondusif. Diperlukan sinergi yang lebih baik dan lebih nyata antara Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi. Kemudian, BUMN yang
seharusnya menjadi salah satu motor ekonomi perlu direstrukturisasi.
Skandal Garuda Indonesia yang diduga memanipulasi laporan keuangan
menunjukkan buruknya pengelolaan BUMN. Bisa jadi, hal tersebut juga terjadi
di korporasi negara lainnya jika dilakukan audit secara menyeluruh.

Selain itu, ditetapkannya Direktur Utama PLN sebagai tersangka oleh KPK
juga menjadi bukti kurang berintegritasnya pengelolaan BUMN kita.
Restrukturisasi BUMN dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung
pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dalam memberikan manfaat langsung
kepada negara berupa pajak, dividen, dan PNBP yang lebih optimal di masa
depan, serta terbukanya lapangan kerja yang lebih besar di berbagai sektor.



*Bergerak Dinamis*Menilik hasil penghitungan sementara KPU, sudah
semestinya petahana akan melanjutkan ke periode berikutnya. Kita menyadari
bersama bahwa pasangan ini adalah *win-win solution* terhadap isu agama
yang belakangan berkembang. Pasangan ini boleh jadi tidak cukup maksimal
untuk menjadi kekuatan besar bagi bangsa kita untuk lima tahun ke depan.

Perlu dipikirkan adanya *shadow leader* ataupun Menteri Pertama yang dapat
menguatkan pasangan terpilih untuk membawa Indonesia bergerak cepat. Sosok
ini kiranya bebas dari kontroversi dan sangat lincah bergerak sehingga
dapat menyelaraskan segala proses pemerintahan agar dapat berjalan lebih
baik dan lebih cepat. Dalam kondisi perlambatan ekonomi dunia, diperlukan
kematangan berpikir dan kecepatan serta ketepatan eksekusi agar Indonesia
tidak terjebak dalam *middle income trap*, dan supaya dapat membawa
Indonesia ke *next level*.



*Maju Bersama*Hal yang harus segera dilakukan berbarengan dengan penguatan
ekonomi adalah rekonsiliasi. Dari kedua belah pihak perlu menyudahi segala
kegaduhan politik. Dari sisi penantang perlu meyakinkan pendukungnya untuk
menyudahi segala kontroversi. Dari sisi petahana pun perlu menyudahi
ketidakadilan hukum yang selama ini dikeluhkan oleh pihak yang lain.

Pihak lawan perlu dirangkul dalam pemerintahan yang akan datang. Ide dan
pemikiran yang baik dari pihak yang kalah perlu diakomodasi dalam bentuk
kebijakan yang nyata. Diperlukan dukungan dari semua komponen bangsa untuk
memajukan Indonesia. Stabilitas politik tentu saja sangat penting untuk
pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Proses politik yang panjang selama ini
sudah sepantasnya membawa dampak nyata bagi masyarakat.

*Jusup Silitonga, MBA **pemerhati ekonomi*


*(mmu/mmu)*

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? *Klik di sini*
<https://news.detik.com/kolom/kirim>sekarang!

Kirim email ke