Lari kencang, tetapi tiap kali berhenti untuk kencing..........

Pada tanggal Sab, 1 Jun 2019 pukul 08.08 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
> *Kalau pertumbuhan ekonomi mendatar, apakah artinya tidak ada
> pertumbuhan?Kalau begitu larinya tidak kencang atau....?*
>
>
>
> https://news.detik.com/kolom/d-4548736/saatnya-ekonomi-indonesia-berlari-kencang?_ga=2.203821776.1778841751.1559338831-1789166400.1545758683
>
>
>
> Selasa 14 Mei 2019, 14:10 WIB
> *Kolom* *Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang*
>
> Jusup Silitonga - detikNews
>
> *Jusup Silitonga*
> <https://connect.detik.com/dashboard/public/jusupsilitonga>
>
>
>
> [image: Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang]Ilustrasi: Andhika
> Akbarayansyah/detikcom
>
> *Jakarta* -
>
> Penghitungan suara Pilpres 2019 pada portal KPU sudah mencapai kisaran
> 70%, di mana secara *historical* maupun statistik, jika tidak ada hal
> luar biasa yang terjadi, sudah dapat dipastikan siapa pemenang pemilu tahun
> ini. Dengan demikian, sudah seharusnya pasangan yang diperkirakan menang
> menyiapkan langkah-langkah besar dan strategis untuk menumbuhkan ekonomi
> lebih tinggi lagi agar bisa segera dieksekusi pada waktu dilantik.
>
> *Again, it's the economy!*
>
> *Pertumbuhan yang Datar*Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis
> pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2019 di angka 5.07%, yang tentu saja berada
> di bawah prediksi pemerintah, bank sentral, maupun pasar. Hal ini tentu
> saja kontras dengan ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh lebih tinggi
> daripada konsensus pasar. Hingar-bingar (kampanye) pemilu di dalam negeri
> tampaknya tidak berdampak cukup banyak untuk meningkatkan pertumbuhan
> ekonomi Indonesia di triwulan pertama 2019. Ekspor dan impor yang justru
> anjlok menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita belum tertata dengan
> cukup baik.
>
>
>
> Jika tren pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kisaran hanya 5% yang
> merupakan *the new normal* terus berlanjut, mimpi untuk menjadi kekuatan
> ekonomi dunia tampaknya hanya menjadi kenangan. Kita menyadari bersama
> bahwa pertumbuhan yang biasa-biasa saja tidak dapat membawa Indonesia
> melangkah lebih cepat. Diperlukan strategi dan eksekusi yang jauh lebih
> baik di masa yang akan datang.
>
> *Lompatan Besar*
>
> Pemerintah, pelaku bisnis, maupun akademisi perlu duduk bersama untuk
> merumuskan strategi ekonomi di masa depan. Reformasi menyeluruh pada
> ekonomi Indonesia sangat diperlukan. Sangat penting untuk melakukan *big
> leap forward* untuk mengubah pola ekonomi Indonesia yang berjalan
> belakangan ini, sehingga pertumbuhan ekonomi yang optimal dapat dicapai.
>
> Wacana ibu kota baru yang dihembuskan akhir-akhir ini tentu saja tidak
> cukup untuk melakukan lompatan ekonomi. Pemerintah perlu melakukan *big
> push*terhadap pasar. Hal yang mendesak untuk dilakukan adalah penguatan
> fundamental ekonomi kita. Sumber pertumbuhan yang konstan dan membosankan
> mengindikasikan bahwa kita berjalan lambat. Ekspor yang juga tidak
> bertumbuh dengan pesat membuktikan bahwa kita kurang memanfaatkan potensi
> dalam negeri.
>
> Berikutnya, pertumbuhan konsumsi yang landai jika dibandingkan dengan
> pertumbuhan penduduk membawa pesan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
> berkembang dengan biasa-biasa saja. Dengan demikian, hal yang mendesak
> dilakukan adalah mengubah skema pertumbuhan dalam negeri. Pemerintah perlu
> menguatkan keunggulan komparatif Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan
> transformasi besar-besaran di sektor barang dan jasa.
>
> Pemanfaatan nilai tambah terhadap barang dan jasa terhadap ekonomi perlu
> lebih dioptimalkan lagi. Kemudian, infrastruktur yang dibangun dengan cukup
> masif belakangan ini juga wajib dibarengi dengan menumbuhkan
> industri-industri baru, sehingga dapat menimbulkan *multiplier effect*.
>
>
>
> *Bukan Stabilitas*Jika menilik pertumbuhan negara-negara yang ekonominya
> bertumbuh cukup tinggi di *emerging market*, salah satu kuncinya adalah
> investasi. *Foreign Direct Investment* (FDI) adalah hal yang penting
> dalam investasi. Saat ini FDI Indonesia masih sangat kecil, di kisaran 2%
> dari PDB. Di masa yang akan datang, pemerintah perlu membuka FDI dengan
> besar-besaran. *Ease of doing business* perlu diperbaiki dan ditingkatkan
> agar lebih baik dibandingkan dengan negara *emerging market* lainnya, dan
> insentif fiskal wajib diberikan kepada investasi baru, sehingga Indonesia
> dapat menjadi tujuan utama investasi.
>
> Selanjutnya, kebijakan suku bunga rendah adalah sangat penting untuk
> menumbuhkan investasi. Suku bunga yang cukup tinggi belakangan ini perlu
> diturunkan berbarengan dengan penguatan ekonomi domestik. Perlu disadari
> bersama bahwa suku bunga belakangan ini menimbulkan kekurangyakinan di
> pasar. Oleh karena itu, kebijakan yang akhir-akhir ini lebih berfokus
> kepada stabilitas ekonomi, wajib diubah dengan berfokus kepada pertumbuhan.
>
> Kebijakan impor akhir-akhir ini yang cukup tinggi yang sedikit banyak
> berdampak terhadap inflasi yang rendah juga perlu diubah. Dengan adanya
> defisit *current account* tentu saja mengurangi potensi pertumbuhan
> ekonomi kita. Pemerintah perlu mengurangi main aman dengan menghilangkan
> hal-hal yang menghambat potensi bangsa kita.
>
> Pemerintah juga perlu mendorong dan memfasilitasi iklim usaha yang lebih
> kondusif. Diperlukan sinergi yang lebih baik dan lebih nyata antara Badan
> Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi. Kemudian, BUMN yang
> seharusnya menjadi salah satu motor ekonomi perlu direstrukturisasi.
> Skandal Garuda Indonesia yang diduga memanipulasi laporan keuangan
> menunjukkan buruknya pengelolaan BUMN. Bisa jadi, hal tersebut juga terjadi
> di korporasi negara lainnya jika dilakukan audit secara menyeluruh.
>
> Selain itu, ditetapkannya Direktur Utama PLN sebagai tersangka oleh KPK
> juga menjadi bukti kurang berintegritasnya pengelolaan BUMN kita.
> Restrukturisasi BUMN dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung
> pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dalam memberikan manfaat langsung
> kepada negara berupa pajak, dividen, dan PNBP yang lebih optimal di masa
> depan, serta terbukanya lapangan kerja yang lebih besar di berbagai sektor.
>
>
>
> *Bergerak Dinamis*Menilik hasil penghitungan sementara KPU, sudah
> semestinya petahana akan melanjutkan ke periode berikutnya. Kita menyadari
> bersama bahwa pasangan ini adalah *win-win solution* terhadap isu agama
> yang belakangan berkembang. Pasangan ini boleh jadi tidak cukup maksimal
> untuk menjadi kekuatan besar bagi bangsa kita untuk lima tahun ke depan.
>
> Perlu dipikirkan adanya *shadow leader* ataupun Menteri Pertama yang
> dapat menguatkan pasangan terpilih untuk membawa Indonesia bergerak cepat..
> Sosok ini kiranya bebas dari kontroversi dan sangat lincah bergerak
> sehingga dapat menyelaraskan segala proses pemerintahan agar dapat berjalan
> lebih baik dan lebih cepat. Dalam kondisi perlambatan ekonomi dunia,
> diperlukan kematangan berpikir dan kecepatan serta ketepatan eksekusi agar
> Indonesia tidak terjebak dalam *middle income trap*, dan supaya dapat
> membawa Indonesia ke *next level*.
>
>
>
> *Maju Bersama*Hal yang harus segera dilakukan berbarengan dengan
> penguatan ekonomi adalah rekonsiliasi. Dari kedua belah pihak perlu
> menyudahi segala kegaduhan politik. Dari sisi penantang perlu meyakinkan
> pendukungnya untuk menyudahi segala kontroversi. Dari sisi petahana pun
> perlu menyudahi ketidakadilan hukum yang selama ini dikeluhkan oleh pihak
> yang lain.
>
> Pihak lawan perlu dirangkul dalam pemerintahan yang akan datang. Ide dan
> pemikiran yang baik dari pihak yang kalah perlu diakomodasi dalam bentuk
> kebijakan yang nyata. Diperlukan dukungan dari semua komponen bangsa untuk
> memajukan Indonesia. Stabilitas politik tentu saja sangat penting untuk
> pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Proses politik yang panjang selama ini
> sudah sepantasnya membawa dampak nyata bagi masyarakat.
>
> *Jusup Silitonga, MBA **pemerhati ekonomi*
>
>
> *(mmu/mmu)*
>
> Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
> tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? *Klik di sini*
> <https://news.detik.com/kolom/kirim>sekarang!
>
>
> 
>

Kirim email ke