https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633
Selasa 04 Juni 2019, 16:08 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Lebaran dan Pulihnya Kemanusiaan Kita
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4576201/lebaran-dan-pulihnya-kemanusiaan-kita?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.82192402.582497026.1559672633-906780563.1559672633#>
Lebaran dan Pulihnya Kemanusiaan Kita Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi
Wahyono)
*Jakarta* - Apa itu kemanusiaan? Saya melihat banyak orang melupakan
kata dasarnya.
Saking seringnya kita mendengar istilah "aksi kemanusiaan", misalnya,
maka kata "kemanusiaan" pun sering dipahami secara sepintas lalu sebatas
dalam wujud bantuan-bantuan sosial, tanggap bencana, pengobatan gratis,
hingga donor darah. Kita lupa bahwa dalam kata "kemanusiaan" ada
"manusia", hal tentang (bagaimana menjadi) manusia.
Maka, alangkah luasnya makna kemanusiaan. Sebab apa pun yang bisa
membuat kita meneguhkan karakter sebagai manusia adalah kemanusiaan.
Kita turut berbahagia melihat seorang sahabat yang sedang berbahagia,
maka kita sedang menjadi manusia. Dan, itulah wujud kemanusiaan.
Ketika kita "bukber" dan berkumpul bersama kawan-kawan lama, lalu
ngakak-ngakak bersama untuk menertawakan setumpuk khazanah kekonyolan
masa lalu, itu pun satu mekanisme agar kita mengutuhkan diri sebagai
sebenar-benar manusia. Itulah wujud kemanusiaan.
Ketika hati kita perih melihat tetangga tidak mampu membelikan baju baru
untuk anak mereka yang merengek-rengek, sementara kita sendiri tidak
memiliki kelonggaran untuk membantu dia, rasa sedih itu sendiri pun
sudah menjadi bukti bahwa kita masih manusia. Itulah kemanusiaan.
Tak terkecuali dengan segenap tontonan massal kita di layar televisi,
juga di layar telepon genggam.
Ketika kita melihat wajah Bu Ani yang memucat waktu sakit berat, kita
tidak sedang melihat seorang istri mantan presiden. Kita melihat
manusia. Dan, itulah kemanusiaan.
Ketika kita melihat Pak Joko Widodo menggendong sambil melekatkan
tatapan hangat ke wajah cucunya, kita tidak sedang melihat Presiden
Indonesia yang dipuja jutaan pendukungnya sekaligus dibenci setengah
mati oleh jutaan orang lainnya. Kita melihat seorang kakek. Kita melihat
seorang manusia. Dan, itulah kemanusiaan.
Ketika kita melihat foto Ustaz Tengku dengan setia mendorong kursi roda
tempat duduk istrinya, kita tidak sedang melihat salah satu tokoh 212
yang twit-twitnya sering sekali terasa provokatif dan memanaskan hati
massa. Tidak. Kita sedang melihat seorang suami yang sangat baik kepada
istri. Kita melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.
Ketika kita ikut gemas dan terharu melihat Pak Haikal Hassan menciumi
pipi anaknya yang /chubby/ itu, kita tidak sedang melihat seorang
propagandis paling aktif tagar "2019GantiPresiden". Kita melihat seorang
ayah. Kita melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.
Ketika kita melihat wajah Susilo Bambang Yudhoyono yang menangis pedih,
amat pedih karena ditinggal pergi istri terkasihnya, kita tidak sedang
melihat seorang politisi dan mantan presiden yang entah kenapa sesekali
masih suka melontarkan celetukan yang membingungkan rakyat Indonesia.
Kita sedang melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.
Ketika kita melihat sesosok jenazah terbujur dan ditangisi oleh
orang-orang terdekatnya, juga oleh jutaan orang yang bersimpati pada
semangat dan daya tahannya, tentu saja yang sedang kita lihat adalah
manusia.
Dan, kematian adalah kisah pamungkasnya sebagai seorang manusia. Ya,
sebagai manusia. Bukan sebagai warga negara yang punya nomor KTP, yang
punya legalitas administratif di bawah Disdukcapil, apalagi yang punya
hak pilih dan hak-hak politik lainnya. Persetan dengan fungsi-fungsi
teknis wadag seperti itu, di saat apa yang sedang kita hayati adalah
keutuhan sisi kita sebagai manusia.
Maka, saat kemarin seorang pengucap duka cita malah sibuk
menekan-nekankan pilihan politik Bu Ani, itu membuat kita
bertanya-tanya: "Sesempit itukah kemanusiaan di dalam diri kita?"
Bu Ani sudah melepaskan tugas-tugas keduniaannya. Ia menanggalkan
segenap predikat formalnya, segenap beban administratifnya, segenap
tempelan-tempelan produk kesepakatan sosial yang pernah terpajang di
dadanya. Momen kematian membawa seorang manusia tiba di puncak
kesuciannya sebagai manusia. Sebab hanya kematianlah yang membuat
manusia tak lagi membawa pamrih apa-apa, tak lagi mengusung orientasi
profan apa-apa, selain menyerah pasrah menghadap Sang Pemberi
Kemanusiaan semata.
Maka, memang kurang elok membahas-bahas dan mengkapitalisasi pilihan
politik seseorang, pada saat bahkan tanah makam orang itu belum kering jua.
Pilihan politik adalah coblosan di kertas surat suara. Coblosan itu
menjadi penyumbang angka. Ya, pilihan politik adalah sekadar sumbangan
angka. Membicarakan seorang manusia yang sudah kembali sempurna ke dalam
kemanusiaannya hanya dalam batas-batas urusan angka, rasanya memang
tidak sepatutnya.
Ini bukan cuma tentang Bu Ani. Ini juga tentang Ustaz Arifin Ilham,
tentang ratusan anggota KPPS yang meninggal kelelahan karena pemilu
serentak, bahkan tentang mereka yang tumbang tertembus peluru tajam saat
kerusuhan tempo hari, entah dari senapan milik siapa.
Mereka manusia. Mereka berhak dimanusiakan dalam upaya kita untuk
meneguhkan kemanusiaan kita sendiri. Mereka bukan cuma angka-angka,
bukan cuma data, bukan cuma pilihan politik, bukan cuma deretan grafik
dan statistik.
Esok pagi Lebaran akan tiba. Lebaran memang bukan kematian. Tapi dalam
momen Lebaran pula, kita bersama-sama menanggalkan segenap predikat
sosial yang tidak ada urusannya dengan kedirian kita sebagai manusia.
Kita mudik, kita saling berjabat tangan, berkumpul bersama keluarga dan
handai taulan, bukan sebagai orang yang menjalankan peran politik
ataupun tugas publik ini dan itu.
Kita akan datang dalam kapasitas dan fungsi kita sebagai manusia.
Lebaran memang seharusnya mengembalikan kemanusiaan kita, mencampakkan
hal-hal yang tidak relevan di luar iktikad kita untuk mengutuhkan diri
sebagai sebenar-benar manusia.
Selamat berlebaran. Mari memulihkan kemanusiaan kita.
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*