https://news.detik.com/kolom/d-4575967/pulanglah-kembali-pada-rumpun-sejati
Selasa 04 Juni 2019, 11:40 WIB
Kolom
Pulanglah, Kembali pada Rumpun Sejati
Suhardi Behrouz - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/behrouz>
Suhardi Behrouz <https://connect.detik.com/dashboard/public/behrouz>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4575967/pulanglah-kembali-pada-rumpun-sejati#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4575967/pulanglah-kembali-pada-rumpun-sejati#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4575967/pulanglah-kembali-pada-rumpun-sejati#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4575967/pulanglah-kembali-pada-rumpun-sejati#>
Pulanglah, Kembali pada Rumpun Sejati Pemudik di Stasiun Senen Jakarta
(Foto: Rifkianto Nugroho)
*Jakarta* -
/Sayu.../ hati ini makin sayup/ Rindu.../ terkenangkan desa permai/
/Wajah ayah bonda bermain di mata/ Mengajakku pulang ke desa//
/Di hari bahagia hari raya/
Bait di atas adalah penggalan lagu /Air Mata Syawal/ dendangan penyanyi
popular negeri jiran Malaysia, Siti Nurhaliza. Lagu itu dikirim sahabat
saya dari seberang dan tanpa sengaja si bungsu dan abangnya memutarnya
kala mencari /file/ sebuah video /Nussa/. Dan spontan mereka berkata,
"Yah, kapan kita pulang kampung ke rumah atuk dan nenek, Yah? Saya hanya
bisa terdiam dalam, terpaku kaku. Bukan karena tak mampu menjawabnya,
tapi mendengar kata pulang kampung, ayah, ibu bagai sengatan listrik
yang langsung menyebar ke seluruh sendi tulang. Ingatan berkejar-kejaran
melintasi lorong-lorong waktu dari dulu hingga kini.
Terbayang asyiknya bermain di pematang sawah sembari menanti mata kail
dimakan ikan, berlari bersama teman jelang petang menutup tirai.
Mengejar dan menendang bola plastik tanpa taktik, yang penting kaki
menyentuh bola dan bisa menendangnya. Mandi dan berenang di sungai dan
bila senja datang bergegas pergi ke surau untuk mengaji. Dan bila
Ramadhan tiba gembira itu datang berlipat ganda. Maklum, juadah yang
tidak ada pada bulan sebelumnya, terhidang kala waktu berbuka datang.
Bahkan daging kerbau atau ayam yang "menghilang" selama 11 bulan,
terkadang hadir menampakkan dirinya di atas tikar pandan, tempat jamuan
itu dihidangkan.
Kini, kala Ramadhan menuju purna, pulang atau mudik mengusik relung hati
setiap insan perantau. Antrean berjejal panjang, berdesak-desakan dan
letih di perjalanan tidak lagi menjadi pertimbangan. Semuanya dilakukan
agar pulang kampung atau mudik menjadi kenyataan. Tenggelam sudah
kalkulasi materi dan segenap penghalang untuk kembali pulang. Begitulah
aura romantisme kampung mampu menarik setiap diri dan memanggilnya untuk
kembali bersedekap erat dengan kampung.
Hanya saja terkadang pulang hanya dipahami setakat kulit, tidak
mencungkil isi. Padahal pulang kampung dalam ranah agama kita sedang
menjalankan teologi "/ilaihi/ /raji'un/", kembali kepada Sang Pencipta
diri. Pulang adalah hasrat diri untuk kembali ke tempat asal, di mana
darah itu tertumpah pertama kali, di tempat nilai-nilai kehidupan itu
bermula diajarkan, di ceruk kasih sayang itu disauk dalam balutan
kesederhanaan.
Oleh karena itu pulang kampung bukanlah ajang untuk unjuk gigi dan
memanipulasi diri di hadapan sanak saudara, handai tolan, maupun
penghuni kampung. Bila diri seperti ini yang dibawa pulang, alamat diri
akan terus berkubang dengan tipu daya kefanaan dunia.
Pulanglah dengan membawa diri tanpa balutan yang membuat sanak saudara
lupa, orang kampung sungkan. Tanggalkan jabatan yang membuat diri besar,
simpan baju kebesaran, ulurkan tangan, sadarkan diri dari buaian
aksesori dunia yang membuat lupa siapa diri. Hanya dengan itulah diri
akan mampu bersimpuh di hadapan ayah-ibu dengan tulus ikhlas. Kalau
tidak, diri hanya mampu bersimpuh tapi tetap angkuh dengan
jabatan-jabatan kebesaran. Memandang sanak saudara sebelah mata, dan
diri tidak mampu menjabat tangan sejawat dengan akrab, seperti saat-saat
di kampung dulu. Sebab diri sudah merasa lebih dari setiap diri.
Pulang kampung sejatinya adalah keinginan terdalam diri. Pulang ibarat
"jeda" dalam mengarungi kehidupan. Liku-liku dan hiruk pikuk kehidupan
dunia membuat diri terkadang tercerabut dari akar sejatinya. Diri ingin
merebahkan tubuhnya di pangkuan kampung, menikmati semilir angin
ketulusan dan mendengarkan nyanyian burung kebenaran. Sebab, keaslian
dan kesejatian itu sudah mulai lama tidak bersedekap dengan diri. Bahkan
sudah berganti dengan lilitan selimut tebal kepalsuan.
Tarikan pulang kampung itu hakikatnya adalah anugerah suci Tuhan kepada
diri. Persis seperti yang dilukiskan Jalaluddin Rumi, bahwa kita adalah
seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan pilu suara
seruling itu adalah jeritan merdu manusia untuk kembali kepada rumpun
sejatinya. Pulang kampung itu mengajarkan diri untuk tidak lupa siapa
dirinya, dari mana berasal dan akan pulang ke mana. Dalam ungkapan orang
tua dahulu, "Setinggi apapun bangau terbang, hinggapnya di kubangan
jua." Ia akan kembali pulang ke tempat di mana ia berasal. Diri akan
merasa nyaman kembali pulang ke tempat asalnya.
Sekarang, pertanyaan muncul dalam diri, benarkah pulang itu mendatangkan
kenyamanan atau malah penderitaan? Semuanya terpulang kepada diri.
Kalaulah diri yang dibawa pulang, bukan diri yang dikenal oleh ayah,
ibu, sanak saudara, dan kawan sekampung, alamat diri akan terasing di
tengah keramaian fitri. Kendati orang menegur sapa, tapi diri tetap
kehilangan jatinya. Diri merasa merana dan gelisah di tengah tumpukan
harta dan kuasa.
Hanya dengan pulanglah, pulang itu akan mendatangkan ketenangan dan
kebahagiaan. Pulanglah atau kembalilah kepada hakikat diri yang suci.
Tanggalkan baju kotor dunia yang membuat diri tidak mampu melihat
kebenaran itu benar dan kebatilan itu batil. Pasang kembali baju asli
diri, baju yang telah dibasuh oleh Ramadhan.
Hanya dengan baju aslilah, diri akan pulang dengan nyaman dan
menyenangkan. Semua keluarga, handai tolan, jiran tetangga akan
menyambutnya dengan senang, merayakan diri yang kembali fitri. Demikian
juga kala pulang ke tempat yang abadi. Diri akan disambut ilahi dengan
ungkapan, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan
ikhlas dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah ke
surga-Ku". Oleh karena itu, pulanglah!
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*