Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Idul fitri untuk bersilaturahim dan menyambung relasi ala Jokowi
Oleh Desca Lidya Natalia Rabu, 5 Juni 2019 21:39 WIB
Idul fitri untuk bersilaturahim dan menyambung relasi ala Jokowi
Presiden Joko Widodo menyapa warga yang berkumpul di sisi Barat Laut
Monas tepat di depan Istana Merdeka Jakarta pada hari Idul Fitri, Rabu
(5/6). (Desca Lidya Natalia)
Jakarta (ANTARA) - Sudah tiga tahun berturut-turut Presiden Joko Widodo
menyelenggarakan "open house" yang dipadankan menjadi gelar griya atau
halalbihalal atau silaturahim di istana kepresidenan yang terbuka bagi
pejabat negara maupun rakyat biasa.
Pada Hari Raya Idul Fitri 2017 lalu, Presiden Joko Widodo juga menggelar
halalbihalal di Istana Negara, sedangkan pada 2018 halalbihalal
dilangsungkan di Istana Kepresidenan Bogor. Maka pada Lebaran 2019 ini
gelar griya kembali dilangsungkan di Istana Negara, namun dengan suasana
berbeda dan lingkup yang lebih luas.
Halalbihalal 2017 adalah pertama kalinya Presiden Jokowi melangsungkan
gelar griya di Istana Negara karena pada Hari Raya Idul Fitri 2015,
Presiden merayakannya di Banda Aceh sedangkan pada 2016 dilangsungkan di
Padang, Sumatera Barat.
Baru pada 2017, warga Ibu Kota berkesempatan bersalaman dengan kepala
negara. Saat itu, bukan hanya Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana
Jokowi saja yang bersalaman menyambut tamu dan menyampaikan "mohon maaf
lahir dan batin" melainkan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah
Kalla juga ikut bersalaman-salaman dengan para tamu hingga sekira 3 jam,
tentu diselingini istirahat.
Karena baru memulai tradisi gelar griya maka masyarakat yang datang pun
tidak terlampau banyak, dan tamu lebih didominasi oleh para pejabat
negara hingga duta besar negara-negara sahabat.
Selanjutnya pada 2018, gelar griya diselenggarakan di Istana
Kepresidenan Bogor. Karena sudah dilangsungkan pada tahun kedua, maka
masyarakat yang datang pun mulai maklum dan antusias untuk datang ke
acara tersebut.
Ketika itu, tamu yang cukup menciptakan kehebohan adalah Gubernur dan
Wakil Gubernur DKI Jakarta saat itu yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga
Uno yang sempat diteriaki oleh masyarakat. Mendengar sorakan itu, Anies
dan Sandi hanya tersenyum dan bahkan menyalami beberapa warga yang
berteriak sehingga suasana mencair dan malah saling bertukar tawa.
Maka pada 2019, saat halalbihalal dengan Presiden Jokowi dan Ibu Negara
Iriana Jokowi kembali diadakan, masyarakat makin membeludak untuk hadir.
Kegiatan silaturahim dengan masyarakat sendiri dijadwalkan dimulai pukul
09.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Sebelumnya Presiden dan Ibu Negara
bersilaturahim dengan para pejabat negara serta duta besar dimulai pukul
09.00 WIB hingga 09.30 WIB.
Masyarakat yang datang awalnya berkumpul di Jalan Silang Monas Barat
Laut, yang berlokasi tepat di depan Istana Merdeka. Sudah ada tenda dan
panggung serta makanan ringan yang disiapkan oleh sekretariat
kepresidenan untuk warga. Dari sana mereka selanjutnya memasuki halaman
gedung Sekretariat Negara dan baru kemudian mengantre di tenda di
halaman Istana Negara untuk masuk ke Istana Negara.
Namun pada sekitar pukul 10.55 WIB baru sekitar 100 warga yang
bersalaman dengan Presiden dan Ibu Negara, padahal di tiga tenda tempat
menunggu lainnya masih banyak warga yang menanti masuk sedangkan
Presiden Jokowi dan keluarga sudah dijadwalkan berangkat ke Solo, Jawa
Tengah.
Akhirnya Presiden Jokowi pun memutuskan untuk mendatangi setiap tenda
yang masih dipenuhi warga, pertama adalah tenda di depan Istana Negara
di mana ada sekitar 200 warga berebut bersalaman. Selanjutnya tenda di
depan gedung Sekretariat Negara yang bahkan bisa menampung sekitar 400
warga yang berjejalan mendekati Presiden.
Ibu Negara Iriana yang tadinya ikut bersalaman di Istana Negara akhirnya
memilih untuk kembali ke Istana karena warga terus mengerumun. Padahal,
matahari saat itu sedang terik-teriknya.
Sekitar 20 menit bersalaman dengan warga di tenda kedua, Presiden yang
terus dijaga oleh Paspampres mendatangi tenda di sisi Barat Laut Monas
menggunakan mobil golf.
Di lokasi itu sekira 2000 warga juga sudah menantikan Presiden sehingga
Presiden pun naik ke atas panggung untuk menyapa warga.
"Pertama tama saya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1
Syawal 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Minal aidzin walfaidzin
saya mohon maaf karena yang di istana yang ngantre juga masih banyak,
yang di sini jauh lebih banyak sehingga saya lebih baik datang ke sini,
bener?" kata Presiden dari atas panggung.
Massa pun makin merengsek ke atas panggung.
"Karena sebentar lagi saya juga harus pulang kampung. Saya ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar besarnya kepada bapak ibu
yang sudah rela datang ke sini dan sekali lagi mohon maaf saya tidak
bisa datang satu per satu," tambah Presiden lagi.
Warga pun menyambut pernyataan Presiden dengan tepuk tangan dan teriakan.
"Ya begini saja, fotonya bareng-bareng saja saya ke situ. Itu yang bisa
saya sampaikan, terima kasih," ucap Presiden.
Ia pun berfoto bersama dengan warga dari atas panggung.
Setelah turun dari panggung, Presiden yang menaiki mobil golf masih
terus dikejar warga yang memintanya untuk bersalaman. Sehingga jarak
tenda di depan Monas yang hanya sekitar 400 meter tersebut harus
ditempuh dalam waktu setengah jam karena mobil golf tersebut terus
dihentikan massa.
Seorang warga, Nining (52) memang sengaja datang ke Monas untuk
bersilaturahim dengan Presiden.
"Ini niat, kemarin ke GBK (Gelora Bung Karno), sekarang ke sini ketemu
Pak Jokowi. Biasanya lihat di 'handphone', katanya Lebaran dibuka, ya
saya ngejar. Saya datang dari pukul 08.00 WIB," kata Nining.
Syukurlan Ninging sempat bertemu langsung dengan Presiden Jokowi pada
lebaran kali ini.
"Pak Jokowi tetap semangat, Indonesia tambah maju, tambah makmur rakyat
kita dipikirkan," ucap Nining.
Sedangkan Diana (39) juga mengaku sudah datang sejak pukul 08.00 WIB.
"Tapi enggak bisa masuk Istana padahal sudah mengantre. Tapi ternyata
enggak boleh lagi ke Istana. Makanya saya ngejar-ngejar Pak Presiden,"
kata Nining yang berkejaran dengan pihak keamanan di depan Istana Merdeka.
"Ya saya ini nerobos saja. Pokoknya sudah enggak tahu bagaimanalah, saya
sudah salaman dengan Pak Presiden. Sudah puas. Terima kasih," cerita Nining..
Rencana awal, setelah warga bersilaturahmi dengan Presiden dan Ibu
Negara di Istana Negara, mereka akan mendapatkan foto saat bersalaman
dengan Presiden yang sudah tercetak dan souvenir berbentuk sembako dalam
jumlah terbatas.
*Menyambung relasi*
Tidak hanya masyarakat yang ingin bersilaturahim dengan Presiden,
sejumlah pejabat negara juga mengakui bahwa momen Lebaran adalah saat
yang pas untuk menyambung relasi yang tadinya berjarak karena perbedaan
pilihan politik.
"Ya momentum lebaran ini harus dijadikan momentum menurunkan tensi
politik, merajut kembali komunikasi. Hari Raya harus dijadikan momentum
politik juga dalam arti menurunkan tensi, merajut kembali hubungan yang
sempat retak, utamakan kepentingan bangsa," tutur Ketua DPR Bambang
Soesatyo seusai bersalaman dengan Presiden Jokowi.
Sedangkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa Idul
Fitri sejatinya menjadi momen saat manusia yang sudah terlatih
mengendalikan hawa nafsu kembali ke jati diri kemanusiaannya.
"Sehingga selalu dalam tradisi masyarakat Indonesia saling memaafkan
menjadi sesuatu yang lebih dikedepankan agar kita betul-betul suci
kembali, bersih lagi tidak hanya di mata Tuhan tapi juga yang tidak
kalah penting di mata sesama kita," imbuh Lukman Hakim.
Saling memaafkan tersebut juga bertujuan agar kebersamaan terjaga meski
berada dalam berbagai perbedaan.
"Perbedaan itu sesuatu yang lumrah ya, yang wajar, yang itulah kondisi
kita, bukan sesuatu yang harus diingkari atau dipungkiri atau dihindari
tapi justru harus disikapi dengan penuh kearifan, dan cara kita saling
memaafkan itu adalah bentuk kearifan tersendiri," tambah Lukman.
Sedangkan wakil presiden terpilih KH Ma'ruf Amin yang juga ikut
bersilaturahim di Istana Negara mengatakan bahwa Idul Fitri adalah
saling memaafkan dan menjalin keutuhan bangsa.
"Pertama saya kira adalah kita syukuri hari yang bahagia ini, kita
bangun keutuhan persaudaraan, saling memaafkan, lupakan masa lalu, tidak
ada perbedaan-perbedaan. Kita jalin keutuhan bangsa. Kita rajut kedepan,
kita bangun Indonesia," kata Ma'ruf Amin yang datang bersama dengan
istri dan anak-anaknya.
Seusai bersilaturahim dengan Presiden, Ma'ruf Amin juga mengadakan "open
house" atau gelar griya di kediamannya.
Sedangkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkapkan sejumlah hal
yang patut disyukuri pada lebaran tahun ini adalah perjalanan mudik
lewat darat, udara, maupun laut berjalan lancar dan harga-harga cukup
terkendali dengan baik.
"Memang masih satu punya hal yang kita harus sudah ingin selesai di mana
persoalan realita sosial ini masih pekerjaan kita, tapi Insya Allah
dengan Idul Fitri ini kita bisa menyatukan kembali, kita ingin
menyatukan kembali. Pak Jokowi adalah Presiden terpilih bagi masyarakat
Indonesia, beliau tidak pernah membedakan mana lagi 01 dan 02, untuk itu
kita ingin momentum ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya menuju kepada
soliditas dan kohesifitas sosial," papar Moeldoko.
Senada dengan mereka, Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Idul Fitri dapat
menjadi momentum untuk rekonsiliasi.
"Tentunya dengan pemilu sudah selesai dan kita kembali harus merajut
kebangsaan. Masyarakat ya saling berkomunikasi dan kembali menjalankan
aktivitas sehari-hari, kita dorong lagi kegiatan-kegiatan positif
pembangunan ke depan," kata Airlangga.
Airlangga bahkan mengakui bahwa antarpartai politik pun ada komunikasi
yang cair.
Sekali lagi, momen Idul Fitri memang mencairkan suasana tegang dan
mendatangkan kesejukan bagi kondisi yang panas. Bila masing-masing pihak
sudah cair dan sejuk kenapa masih mengedepankan emosi? Lebih baik
menciptakan solusi bagi masalah negeri.
Jadikan Idul Fitri momen pemersatu bangsa
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com