Tradisi Unik Lebaran di Bekasi, Sekampung Kumpul Bermaafan
Reporter:
Adi Warsono (Kontributor)
Editor:
Clara Maria Tjandra Dewi H.
Kamis, 6 Juni 2019 09:39 WIB
Presiden Joko Widodo menemui ribuan warga di halaman Kompleks
Kementerian Sekretariat Negara yang sedang antre untuk bisa
bersilaturahmi dengannya dalam acara open house Idul Fitri 1440
Hijiriah, Jakarta, 5 Juni 2019. TEMPO/Ahmad FaizPresiden Joko Widodo
menemui ribuan warga di halaman Kompleks Kementerian Sekretariat Negara
yang sedang antre untuk bisa bersilaturahmi dengannya dalam acara open
house Idul Fitri 1440 Hijiriah, Jakarta, 5 Juni 2019. TEMPO/Ahmad Faiz
*TEMPO.CO*,*Bekasi*- TradisiLebaran
<https://www.tempo.co/tag/lebaran>sekampung kumpul dan saling
bermaaf-maafan usai salat Idul Fitri sudah berlangsung sejak 1990
di Perumahan Duta Kranji, Bekasi Barat, Kota Bekasi.
*Baca: Transjakarta Sediakan Layanan Gratis Lebaran ke Ragunan, 6-9 Juni
<https://metro.tempo.co/read/1212468/transjakarta-sediakan-layanan-gratis-lebaran-ke-ragunan-6-9-juni>*
Selepas menunaikan Salat Idul Fitri, warga akan berbaris di sepanjang
jalan lingkungan di perumahan tersebut. Tua-muda, hingga anak-anak
membaur membentuk barisan hingga ratusan meter.
Mereka berjejer lalu salaman bermaaf-maafaan. Butuh waktu lebih dari dua
jam proses salaman selesai.
"Ini sudah menjadi tradisi kami di sini, setiap tahun seluruh warga
berkumpul di jalan," kata Eko warga setempat, Rabu, 5 Juni 2019.
Selain tradisi yang unik, menurut dia, halal bihalal bagi penduduk
setempat merupakan cara yang efektif dibandingkan mendatangi rumah ke
rumah. "Menghemat waktu juga, kemudian dengan cara seperti ini
dipastikan tidak ada yang terlewat," kata Eko.
Warga lainnya, Kurnia Hapsari berharap tradisi tersebut dapat
dipertahankan. Menurut dia, tradisi itu merupakan warisan dari
orang-orang tua yang lebih dulu tinggal di permukiman.
"Meskipun sekarang sudah ada generasi baru, kami berharap tetap ada
halal bihalal seperti ini," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Tokoh pemuda setempat, Senta mengatakan, tradisi seperti ini telah
dilakukan semenjak tahun 1990-an. Dengan cara ini, kata dia, sifat
kekeluargaan semakin terjalin erat. "Yang biasanya jarang ketemu, pasti
bertemu di sini," ujar dia.
*Baca: Mudik Lebaran via Laut, Ini Kata Perantau Bekasi dan Depok
<https://metro.tempo.co/read/1212446/mudik-lebaran-via-laut-ini-kata-perantau-bekasi-dan-depok>*
Selepas bermaafan, kata dia, acara di hari Lebaran itu ditutup dengan
doa bersama. Bagi yangmudik <https://www.tempo.co/tag/mudik>, ucap dia,
sekaligus bisa menitipkan rumah kepada tetangga atau pengurus keamanan.
"Jadi bisa saling menjaga," kata dia.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com