----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'j.gedearka' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: 
"[email protected]" <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Kamis, 6 Juni 2019 21.32.46 GMT+2Judul: 
[nasional-list] Membuka Ruang Perjumpaan Elite
     
 


 
 

 
 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1708-membuka-ruang-perjumpaan-elite
 
 
 
  
Membuka Ruang Perjumpaan Elite 
   Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis, 06 Jun 2019, 05:05 WIB Editorial MI    
       
Ilustrasi
 Editorial. 
 
PERJUMPAAN antara elite yang berbeda sikap politik senantiasa menghadirkan 
kesejukan. Setiap momentum, terutama Idul Fitri 2019, hendaknya dimanfaatkan 
para elite untuk merajut kembali tenunan kebangsaan yang sempat terkoyak selama 
Pemilu 2019.
 
Pertemuan antara calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon presiden 
nomor urut 02 Prabowo Subianto sangat dinanti-nantikan masyarakat saat ini. 
Jika pertemuan keduanya terwujud, diharapkan mampu meneteskan embun keteduhan 
kepada pendukung mereka masing-masing.
 
Banyak pihak berharap agar Jokowi dan Prabowo dapat bertemu tatap muka meski 
sengketa hasil Pemilu 2019 masih diperiksa di Mahkamah Konstitusi. Jokowi 
sendiri, dalam berbagai kesempatan setelah pemilu digelar pada 17 April, selalu 
mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Prabowo.
 
Nuansa Idul Fitri 2019 menjadi momentum indah untuk mewujudkan harapan 
masyarakat agar Jokowi dan Prabowo bisa bertemu. Pertemuan di antara keduanya 
jangan pula dipaksa-paksakan. Sebab, mereka ialah negarawan yang sudah tahu 
kapan harus bertemu untuk kepentingan bangsa dan negara.
 
Kiranya tidak ada yang salah dengan harapan masyarakat luas agar Jokowi dan 
Prabowo bisa secepatnya bertemu. Masyarakat sesungguhnya ingin mempertahankan 
dan melanjutkan suasa sejuk yang dihadirkan dalam dua perjumpaan elite sepekan 
terakhir.
 
Perjumpaan pertama adalah antara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan 
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri saat upacara pemakaman Ani Yudhoyono, 
Minggu (2/6). Inspektur upacara saat itu ialah Presiden Joko Widodo. SBY dan 
Megawati, yang sama-sama merupakan ketua umum partai politik, selama ini 
dipersepsikan publik memiliki komunikasi yang kurang harmonis.
 
Pertemuan kedua pada saat Prabowo melayat ke kediaman SBY pada Senin (3/6). 
Partai Demokrat yang dipimpin SBY adalah salah satu pendukung pasangan calon 
presiden-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno, pada Pemilu 2019. Namun, 
belakangan hubungan Demokrat dan Gerindra sempat retak setelah muncul sinyal 
Demokrat bergabung dengan koalisi partai pendukung pasangan nomor urut 01 
Jokowi-Ma’ruf Amin.
 
Pertemuan di antara para elite itu meneduhkan. Harus jujur diakui bahwa situasi 
sosial politik seusai pemilu tidak hanya memengaruhi hubungan antara elite, 
tetapi juga masyarakat di akar rumput. Kerusuhan 21 Mei dan 22 Mei di Jakarta 
setelah unjuk rasa memprotes hasil Pemilu 2019 adalah salah satu bukti kuatnya 
loyalitas pendukung kepada pemimpinnya.
 
Penting, sangat penting, jika para elite terus menerus mengirimkan pesan kepada 
pendukung masing-masing untuk membukakan pintu maaf, melakukan rekonsiliasi, 
dan kembali merajut kebersamaan. Pesan itu hanya bisa disampaikan jika di 
antara elite juga membuka ruang untuk saling berjumpa.
 
Meski belum sempat berjumpa, patut diapresiasi cawapres Ma’ruf Amin yang secara 
khusus menyampaikan ucapan selamat Hari raya Idul Fitri kepada lawan 
politiknya, Prabowo dan Sandiaga Uno. Ajakan Amin untuk berekonsiliasi dan 
bersatu membangun bangsa hendaknya tidak bertepuk sebelah tangan.
 
Kebersamaan itu sudah diawali dengan merayakan Idul Fitri pada waktu bersamaan. 
Itulah momentum terbaik untuk mempererat dan memperkuat ikatan persaudaraan. 
Ikatan persaudaraan itu semakin diteguhkan lagi dalam pesan khotbah Idul Fitri.
 
Guru Besar Tafsir Hadis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Said Agil 
Husin Al Munawar dalam khotbah Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, 
mengatakan, dalam berinteraksi sosial, tanpa disadari, berbagai benturan kerap 
dijumpai, entah itu karena berbeda pendapat atau afiliasi politik. Namun, sikap 
menebar maaf harus menjadi muara dalam menyelesaikan segala permasalahan itu.
 
Meminta maaf sama mulianya dengan memberikan maaf. Jangan pernah merasa harga 
diri menjadi turun gara-gara meminta atau memberikan maaf.
 
Begitu juga kemuliaan seorang negarawan tecermin dari keinginan meminta maupun 
memenuhi permintaan lawan politik untuk berjumpa. Perjumpaan itu semata-mata 
untuk membuka sekat-sekat politik demi mengukuhkan persatuan bangsa, apalagi di 
akar rumput sudah memberi contoh bermaaf-maafan pada saat halalbihalal.
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
    

Kirim email ke