https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1708-membuka-ruang-perjumpaan-elite
/*Membuka Ruang Perjumpaan Elite*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Kamis, 06 Jun 2019, 05:05 WIB Editorial
MI <https://mediaindonesia.com/editorials>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1708-membuka-ruang-perjumpaan-elite>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1708-membuka-ruang-perjumpaan-elite>
Membuka Ruang Perjumpaan Elite
/Ilustrasi/
Editorial.
PERJUMPAAN antara elite yang berbeda sikap politik senantiasa
menghadirkan kesejukan. Setiap momentum, terutama Idul Fitri 2019,
hendaknya dimanfaatkan para elite untuk merajut kembali tenunan
kebangsaan yang sempat terkoyak selama Pemilu 2019.
Pertemuan antara calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon
presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sangat dinanti-nantikan
masyarakat saat ini. Jika pertemuan keduanya terwujud, diharapkan mampu
meneteskan embun keteduhan kepada pendukung mereka masing-masing.
Banyak pihak berharap agar Jokowi dan Prabowo dapat bertemu tatap muka
meski sengketa hasil Pemilu 2019 masih diperiksa di Mahkamah Konstitusi.
Jokowi sendiri, dalam berbagai kesempatan setelah pemilu digelar pada 17
April, selalu mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Prabowo.
Nuansa Idul Fitri 2019 menjadi momentum indah untuk mewujudkan harapan
masyarakat agar Jokowi dan Prabowo bisa bertemu. Pertemuan di antara
keduanya jangan pula dipaksa-paksakan. Sebab, mereka ialah negarawan
yang sudah tahu kapan harus bertemu untuk kepentingan bangsa dan negara.
Kiranya tidak ada yang salah dengan harapan masyarakat luas agar Jokowi
dan Prabowo bisa secepatnya bertemu. Masyarakat sesungguhnya ingin
mempertahankan dan melanjutkan suasa sejuk yang dihadirkan dalam dua
perjumpaan elite sepekan terakhir.
Perjumpaan pertama adalah antara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang
Yudhoyono dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri saat upacara
pemakaman Ani Yudhoyono, Minggu (2/6). Inspektur upacara saat itu ialah
Presiden Joko Widodo. SBY dan Megawati, yang sama-sama merupakan ketua
umum partai politik, selama ini dipersepsikan publik memiliki komunikasi
yang kurang harmonis.
Pertemuan kedua pada saat Prabowo melayat ke kediaman SBY pada Senin
(3/6). Partai Demokrat yang dipimpin SBY adalah salah satu pendukung
pasangan calon presiden-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno,
pada Pemilu 2019. Namun, belakangan hubungan Demokrat dan Gerindra
sempat retak setelah muncul sinyal Demokrat bergabung dengan koalisi
partai pendukung pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.
Pertemuan di antara para elite itu meneduhkan. Harus jujur diakui bahwa
situasi sosial politik seusai pemilu tidak hanya memengaruhi hubungan
antara elite, tetapi juga masyarakat di akar rumput. Kerusuhan 21 Mei
dan 22 Mei di Jakarta setelah unjuk rasa memprotes hasil Pemilu 2019
adalah salah satu bukti kuatnya loyalitas pendukung kepada pemimpinnya.
Penting, sangat penting, jika para elite terus menerus mengirimkan pesan
kepada pendukung masing-masing untuk membukakan pintu maaf, melakukan
rekonsiliasi, dan kembali merajut kebersamaan. Pesan itu hanya bisa
disampaikan jika di antara elite juga membuka ruang untuk saling berjumpa.
Meski belum sempat berjumpa, patut diapresiasi cawapres Ma’ruf Amin yang
secara khusus menyampaikan ucapan selamat Hari raya Idul Fitri kepada
lawan politiknya, Prabowo dan Sandiaga Uno. Ajakan Amin untuk
berekonsiliasi dan bersatu membangun bangsa hendaknya tidak bertepuk
sebelah tangan.
Kebersamaan itu sudah diawali dengan merayakan Idul Fitri pada waktu
bersamaan. Itulah momentum terbaik untuk mempererat dan memperkuat
ikatan persaudaraan. Ikatan persaudaraan itu semakin diteguhkan lagi
dalam pesan khotbah Idul Fitri.
Guru Besar Tafsir Hadis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Said Agil Husin Al Munawar dalam khotbah Idul Fitri di Masjid Istiqlal,
Jakarta, mengatakan, dalam berinteraksi sosial, tanpa disadari, berbagai
benturan kerap dijumpai, entah itu karena berbeda pendapat atau afiliasi
politik. Namun, sikap menebar maaf harus menjadi muara dalam
menyelesaikan segala permasalahan itu.
Meminta maaf sama mulianya dengan memberikan maaf. Jangan pernah merasa
harga diri menjadi turun gara-gara meminta atau memberikan maaf.
Begitu juga kemuliaan seorang negarawan tecermin dari keinginan meminta
maupun memenuhi permintaan lawan politik untuk berjumpa. Perjumpaan itu
semata-mata untuk membuka sekat-sekat politik demi mengukuhkan persatuan
bangsa, apalagi di akar rumput sudah memberi contoh bermaaf-maafan pada
saat halalbihalal.