SURAT DARI RANTAU
Lebaran Tanpa Gema Takbir di Negara Kim Jong-un
*Cahyudi Sutejo*, CNN Indonesia | Sabtu, 08/06/2019 14:37 WIB
Bagikan :
Lebaran Tanpa Gema Takbir di Negara Kim Jong-unIlustrasi kota Pyongyang.
(Foto: REUTERS/Danish Siddiqui)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Raya *Idul Fitri
<https://www.cnnindonesia.com/tag/idul-fitri>*tahun ini menjadi yang
kesekian kalinya saya habiskan di*Korea Utara
<https://www.cnnindonesia.com/tag/korea-utara>*, negeri perantauan
selama kurang lebih 20 tahun terakhir.
Tak pernah terbesit dalam pikiran bahwa saya bisa tinggal selama itu di
negeri nan 'unik' ini.
Pertama kali menginjakkan kaki di Korea Utara, sekitar tahun 1999, saya
ditempatkan menjadi salah satu staf lokal Kedutaan Besar RI di Pyongyang
oleh Kementerian Luar Negeri.
Kini negara itu dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un,
menggantikan ayahnya Kim Jong-il yang tutup usia pada 2011 lalu.
Rasa senang membuncah ketika mengetahui bahwa saya ditugaskan menjadi
salah satu staf lokal di KBRI Pyongyang. Saat itu internet belum ada
sehingga akses informasi juga belum memadai, jadi ekspektasi saya semua
'luar negeri' itu sama.
Lebaran Tanpa Gema Takbir di Negara Kota terbesar di Korea Utara ini
sangat sepi jika dibandingkan ibu kota kebanyakan negara, khususnya
Jakarta. (Handout)
Saat itu saya membayangkan Korea Utara tak jauh berbeda seperti negara
di kawasan Eropa Timur-penuh dengan bangunan-bangunan klasik dan 'bebas'.
Namun semua gambaran itu berbeda jauh ketika saya sampai di Pyongyang.
Kota terbesar di Korea Utara ini sangat sepi jika dibandingkan ibu kota
kebanyakan negara, khususnya Jakarta.
Kendaraan pribadi jarang melintas meski jalan raya beraspal dan tertata.
Maklum, semua kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan itu milik negara,
sehingga jumlahnya terbatas.
PILIHAN REDAKSI
*
Ramadan di Irak dan Ikan Soekarno
<https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190524172411-269-398178/ramadan-di-irak-dan-ikan-soekarno/>
*
Ramadan dan Bumbu di Venezuela
<https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190531195215-269-400157/ramadan-dan-bumbu-di-venezuela/>
*
Ramadan Terakhir di Karachi
<https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190602090308-269-400394/ramadan-terakhir-di-karachi/>
Tak ada penduduk lokal yang punya mobil sendiri. Semua penduduk di sini
mengandalkan transportasi publik atau berjalan kaki untuk berpindah tempat.
Namun jangan salah sangka dengan negara ini, karena Korea Utara sudah
punya kereta bawah tanah atau Pyongyang Metro sejak tahun 1970-an.
Treknya saja mencapai 110 meter di bawah tanah.
Moda transportasi ini sebagian besar dibangun berkat bantuan China, dan
menjadi kereta bawah tanah terdalam di dunia. Bus, trem, dan taksi juga
beroperasi di ibu kota.
Meski cukup banyak moda transportasi publik, tapi jangan harap bisa
leluasa menjelajahi kota lainnya selain Pyongyang.
Sebab semua warga asing harus dapat izin aparat setempat sebelum pergi
ke luar kota Pyongyang. Peraturan ini diterapkan atas dasar keamanan.
Meski secara keseluruhan warga lokal ramah dan baik, tapi mereka tetap
menjaga jarak dengan warga asing. Warga lokal di sini sangat menghormati
warga asing, bahkan terkadang memperlakukannya cukup berlebihan seperti
mempersilakan untuk menyelak antrean kasir di swalayan atau restoran.
Selain hal-hal yang bersifat duniawi, kumandang azan adalah hal
yang cukup membuat kangen kampung halaman. Sejak saya tinggal di
Pyongyang, saya tak pernah lagi mendengar merdunya suara azan.
Meski tidak ada larangan memeluk agama tertentu, namun fasilitas
beribadah di Pyongyang juga sangat terbatas. Pemerintah di sini hanya
menyediakan gereja sebagai tempat beribadah.
Untungnya masih ada masjid milik Kedutaan Besar Iran di kompleks kami,
sehingga rindu untuk beribadah di rumah Allah masih bisa terbayarkan.
*Puasa Lebih Lama*
Rasa/home sick/semakin kuat ketika bulan Ramadan tiba. Menjadi warga
minoritas di sini cukup membuat saya kesepian ketika bulan Ramadan datang.
Lihat juga:
*Dubes RI Perkenalkan Tradisi Mudik ke Tamu Lebaran di Korut
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190606134658-113-401363/dubes-ri-perkenalkan-tradisi-mudik-ke-tamu-lebaran-di-korut/>*
Apalagi waktu puasa di sini sekitar 16 jam, di mulai waktu imsak sekitar
pukul 03.00 dini hari dan buka puasa sekitar pukul 19.30 setiap harinya.
Belum lagi ketika musim panas tiba, waktu berpuasa bisa jadi lebih
panjang lagi.
Jika di Indonesia tradisi berbuka puasa dimeriahkan oleh berbagai macam
jajanan manis dan gorengan gurih, di sini makanan halal pun sulit
ditemui. Untuk itu saya mengakalinya dengan memasak sendiri atau membeli
makanan non-daging seperti/seafood/dan sayur-sayuran.
Sewaktu saya masih bujangan, saya selalu menghabiskan momen buka puasa
bersama para staf KBRI lainnya untuk membayar rasa rindu berkumpul
bersama keluarga di Indonesia.
Lihat juga:
*Korsel Defisit Neraca Berjalan Pertama Kali dalam 7 Tahun
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190605135612-532-401123/korsel-defisit-neraca-berjalan-pertama-kali-dalam-7-tahun/>*
Kini setelah berkeluarga, rasa rindu itu terbayarkan sudah dengan
menghabiskan momen Ramadan di sini bersama anak-anak dan istri saya yang
merupakan warga Mongolia.
Kami juga rutin menghadiri acara buka puasa dan tarawih bersama di KBRI
setiap seminggu sekali selama Ramadan.
Kerinduan akan kampung halaman juga semakin besar ketika saya tak bisa
mendengar lantunan semangat takbir di malam menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Lebaran Tanpa Gema Takbir di Negara Ilustrasi kereta bawah tanah di
Pyongyang. (Reuters/Danish Siddiqui)
Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha menjadi yang paling saya dan keluarga
tunggu karena menjadi satu-satunya momen di mana komunitas Muslim di
Korea Utara bisa berkumpul dan bersilaturahmi.
Komunitas Muslim di Pyongyang tidak banyak, semuanya merupakan warga
negara asing yang bekerja di kedutaan-kedutaan besar negara Organisasi
Kerja Sama Islam (OKI) seperti Pakistan, Iran, Palestina, Nigeria,
Mesir, Suriah, Nigeria, dan sejumlah organisasi internasional.
Saat Lebaran tiba, kami biasanya berkumpul di sebuah aula untuk salat id
bersama. Selesai salat, kami lalu saling bertukar masakan khas negara
masing-masing.
Masakan yang paling dijagokan KBRI adalah sate, rendang, dan es cendol.
Ketiga masakan itu selalu laris manis setiap dihidangkan dalam acara
tersebut setiap tahunnya.
Meski tanpa ketupat, ketiga masakan itu cukup membayar rasa rindu saya
yang tidak bisa selalu pulang ke Indonesia setiap Lebaran tiba.
Terlepas dari seluruh keunikannya, saya menganggap Korea Utara sebagai
rumah kedua saya, tempat saya menemukan keluarga--istri dan
anak-anak--dan tempat mencari rezeki selama ini.
/
---/
/Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini
berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa
mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu
sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang
dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas
baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita,
sila hubungi surel berikut: [email protected] /
[email protected] / [email protected]/
*(agr)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com