Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Penyelamat telur penyu di Pantai Padang Pariaman
Oleh Ikhwan Wahyudi/Aadiat M Sabir Sabtu, 8 Juni 2019 14:11 WIB
Penyelamat telur penyu di Pantai Padang Pariaman
Anak tukik yang baru menetas di Kawasan Konservasi Perairan Daerah
(KKPD) Kota Pariaman (Antara Sumbar/Aadiat M Sabir)
Padang Pariaman, Sumbar (ANTARA) - Hampir setiap malam Hendri memeriksa
pasir di Pantai Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat dengan cahaya
lampu motornya untuk mencari jejak penyu yang bertelur.
Ditemani debur ombak Samudra Hindia, ia menyisir pantai sepanjang 14
kilometer di Kecamatan Batang Anai. Penyisiran akan berhenti jika
melihat jejak induk penyu merangkak dari laut menuju daratan untuk
mengeluarkan ratusan butir telur.
Namun, hingga dini hari, Hendri belum juga melihat tanda-tanda yang
dinantikan itu. Padahal sepanjang penyisiran tidak jarang hampir
terjatuh karena medan yang ditempuh sulit.
Belum lagi ditambah dengan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp30 ribu
untuk sekali jalan. Tentu uang senilai itu dinilai besar baginya yang
hanya seorang guru agama berstatus honorer di SDN 08 Batang Anai dengan
menerima gaji Rp450 ribu per bulan.
Beruntung malam itu ia menemukan satu tempat bertelur penyu jenis lekang
yang berisi puluhan butir telur yang baru saja ditinggalkan induknya.
Setelah menyelesaikan penelusuran, telur-telur itu langsung dibawa ke
konservasi penyu di Kota Pariaman.
Telur penyu yang dibawanya dihargai senilai Rp3.150 per butir. Harga itu
tentu lebih rendah jika bandingkan menjual telur-telur itu kepada oknum
yang tidak bertanggungjawab.
Namun, ia lebih memilih menjual telur-telur itu kepada pihak konservasi
penyu. "Saya hanya ingin ikut membantu pemerintah untuk melestarikan
kehidupan penyu yang saat ini terancam punah," kata pemuda usia 33 tahun
itu yang memiliki nama lengkap Dedi Zulhendri.
Menurutnya jika ia sudah memilih mengabdi kepada negara maka pengabdian
itu harus maksimal. Hal yang ia lakukan itu telah dijalankannya semenjak
2009 lalu.
Di awal konservasi dibuka, telur yang dia bawa dihargai Rp3 ribu per
butir dengan sistem pembayaran tunai. Namun sekarang harga telur
tersebut naik Rp150 per butir dengan sistem pembayaran nontunai.
Menurut pengakuan Hendri, dalam beberapa tahun terakhir, telur yang
ditemukan berkurang. Padahal pada 2009 dan 2010, dalam semalam dirinya
dapat menemukan empat sampai delapan tempat bertelur induk penyu.
Sekarang untuk menemukan satu saja sudah sulit, sedangkan orang yang
khusus mencari telur seperti hal yang dijalaninya bisa dikatakan tidak ada.
Dulu ia bisa mendapatkan uang Rp7 juta untuk sekali pencairan namun
sekarang hanya Rp4 juta yang dikumpulkannya dalam beberapa bulan.
Karena mulai sulit ditemukan, maka dia sesekali keluar dari lokasi
pencarian yang biasa yaitu hingga Pantai Kota Pariaman.
Risikonya, dia dihadang oleh sejumlah pemuda karena mereka menganggap
pantai tersebut adalah wilayahnya sehingga orang lain dilarang masuk
untuk mencari telur penyu.
Hal itu tidak membuat Hendri bergeming padahal dia tidak memiliki tanda
pengenal dari pihak terkait yang memudahkannya dalam mencari telur.
Hendri menyampaikan keberaniannya muncul karena ia meyakini masih banyak
orang mencari telur penyu untuk dijual kepada oknum yang tidak
bertanggung jawab.
Dia mengungkapkan bahwa pencarian telur penyu dan dijual ke konservasi
juga didasari oleh desakan ekonomi yang mana ia sekarang telah memiliki
satu istri dan satu anak.
Jika, dia tidak keluar tengah malam untuk mencari telur maka ada dua
kerugian yang ditimbulkan, yaitu telur akan diambil oleh oknum tidak
bertanggungjawab dan pundi-pundi penghasilannya akan hilang.
Hal tersebut yang menguatkan hatinya untuk mengendarai motornya pada
malam hari dengan jarak tempuh belasan kilometer mulai dari rumahnya di
Kecamatan Sintuak Toboh Gadang ke lokasi awal penelusuran.
Pengetahuannya tentang telur penyu didapatkannya semenjak kecil.
Pengetahuan itu diperoleh karena rumah orang tuanya berada di tepi pantai.
Hendri mengungkap ia selalu membaca tanda-tanda alam untuk mengetahui
kapan penyu akan bertelur. Salah satu tanda tersebut yaitu ketika laut
pasang naik.
Untuk melihat lokasi penyu menetaskan telurnya, dapat dilihat dari jejak
yang ditinggalkan di pasir.
Jika, jejak tersebut berbentuk zig-zag maka induk penyu sedang mencari
lokasi bertelur atau mempermudah pendakian. Namun jika jejaknya lurus ke
arah laut maka induk penyu telah meninggalkan pantai.
Setiap pasang tiba, ia akan mendatangi pantai untuk memulai penelusuran
dengan waktu yang berbeda setiap harinya. Jika hari pertama ia memulai
pencarian pukul 22.00 WIB maka hari berikutnya pencarian akan dimulai
pada pukul 23.00 WIB.
Begitu juga dengan pengetahuannya dalam mengambil telur dan membawanya
ke konservasi. Ia akan menyertakan pasir tempat induk mengeluarkan
telurnya guna menjaga kehangatan dan meminimalkan guncangan saat membawanya.
Ia menyampaikan ada musim penyu banyak bertelur ke pantai itu bahkan
dalam semalam ia bisa menemukan empat lokasi.
Penelusuran pantai untuk mencari telur tersebut tidak dapat
dijalankannya setiap hari serta berlanjut sampai nanti karena terbatas
dengan fisik yang tentunya semakin lemah. "Jika tenaga saya masih kuat
tentu pencarian akan tetap saya lakukan," katanya.
Oleh karena itu berharap warga di daerah itu peduli terhadap
kelangsungan penyu yang mana saat ini hampir punah.
Menurut pihak Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kota Pariaman
meski banyak warga yang mengantarkan telur penyu ke konservasi penyu
itu, namun sebagian besar mereka tidak mengkhususkan mencarinya. Berbeda
halnya dengan Hendri yang khusus mencari telur penyu dan menjualnya
kepada pihak konservasi.
Koordinator KKPD Kota Pariaman M. Guntur mengatakan telur-telur penyu
yang diantarkan warga tersebut diinkubasi di lokasi penetasan kisaran 50
sampai 63 hari.
Lama waktu penetasan tersebut tergantung dari musim. Apabila musim panas
maka penetesan dapat dilakukan selama 50 hari sedangkan jika musim
penghujan maka penetasan bisa mencapai 63 hari.
Pihaknya mencatat untuk periode Januari hingga Mei 2019 konservasi itu
telah menetaskan 1.932 telur penyu dari 2.769 telur yang yang diinkubasi.
Tukik atau anak penyu tersebut nantinya dapat sebagai edukasi terhadap
pengunjung. Apabila anak penyu tersedia maka pengunjung dapat
melepaskannya ke laut lepas dengan biaya Rp5 ribu per ekor.
Ada tiga jenis penyu di konservasi tersebut yaitu sisik, lekang, dan
hijau yang dapat dilihat dan sebagai edukasi bagi pengunjung.
Selain anak penyu, dikonservasi itu juga terdapat penyu usia 10 tahun
yang dapat menambah ketertarikan pengunjung tentang penyu.
Melihat antusias pengunjung yang meningkat dari tahun ke tahun pada
libur Lebaran 2019, pihaknya menyiapkan 19 petugas untuk melayani
pengunjung yang mengunjungi konservasi itu. "Petugas itu kami bagi dalam
berbagai tugas mulai dari menjual tiket hingga mendampingi wisatawan,"
ujarnya.
Ia mengatakan persiapan tersebut karena melihat dari tahun lalu jumlah
kunjungan ke konservasi itu bisa mencapai ribuan orang sehingga perlu
persiapan yang berbeda dari hari biasa.
Pada hari biasa, dia hanya menempatkan dua sampai tiga petugas untuk
memberikan pendampingan dan edukasi kepada wisatawan.
Untuk bisa memasuki konservasi itu wisatawan dikenakan biaya tiket Rp2
ribu per orang untuk semua usia.
Dia berharap dengan edukasi yang dilakukan maka dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian hewan langka itu dan
tidak mengkonsumsi telurnya yang mana juga berbahaya untuk kesehatan.*
*Baca juga:Petugas penangkaran penyu Pariaman siap dampingi pengunjung
Lebaran
<https://www.antaranews.com/berita/901746/petugas-penangkaran-penyu-pariaman-siap-dampingi-pengunjung-lebaran>
Baca juga:Ratusan anak penyu dilepas di Pantai Indah Maligi Sasak
Pasaman Barat
<https://www.antaranews.com/berita/888506/ratusan-anak-penyu-dilepas-di-pantai-indah-maligi-sasak-pasaman-barat>*
127 telur penyu menetas di hari lahir Pancasila
Play Video
Play
Unmute
Current Time 0:00
/
Duration 2:02
Loaded:0%
Seek to live, currently playing liveLIVEFullscreen
Oleh Ikhwan Wahyudi/Aadiat M Sabir
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com