Pendapatan percapita Swedia US$ 54.135, Indonesia US$ 3.971,-- [
http://statisticstimes.com/economy/countries-by-projected-gdp-capita.php
] untuk
2019. Di Swedia murid sekolah mulai dari SD sampai SMA dikasi makan siang.
Untuk mahasiswa ada kantin dengan harga murah. Untuk menjadi mahasiswa dan
untuk membuat PhD jurusan apapun tidak perlu bayar, malah untuk PhD bisa
dapat beasiswa untuk penyelidikan dan hidup. Cuti untuk wanita hamil 9
bulan dengan gaji penuh. Anggota DPR tidak dapat tunjangan seperti
disebutkan, tidak diberi auto, tidak diberi laptop. Panggil ambulan tidak
ditanya duit untuk membayar dan tidak perlu bayar. Pendatang yang punya
izin tinggal mempunyai hak memilih anggota DPRD. Satu hal yang mengkagetkan
ialah pajak pendapatan progresif artinya makin banyak pendapat makin tinggi
pajaknya, minimum 30% dan max 60%. Anggota parlemen mau pun perdana
mentri-menteri tidak disumpahi oleh pendeta atau imam dengan kita suci
agama di atas kepala. Korupsi sangat minimal, kalau diketahui anggota DPR
Swedia curang segera diberhentikan. Pernah ada kejadian seorang anggota
membeli coklat untuk anaknya dengan kartu credit parlemen, karena tidak
mempunyai uang dan juga lupa bawa kartu creditnya. Harga coklat kurang
lebih US$1,--Orang ini diberhentikan dari parlemen. Demikian sedikit info
tambahan.


Bagaimana dengan wakil rakyat NKRI?

   -



https://internasional.kompas.com/read/2019/06/08/10353291/di-swedia-anggota-dpr-tak-dapat-tunjangan-dan-digaji-rendah?page=all


Di Swedia, Anggota DPR Tak Dapat Tunjangan dan Digaji Rendah

Kompas.com - 08/06/2019, 10:35 WIB
Editor : Ervan Hardoko


Anggota parlemen Per-Arne Hakansson di ruang kerjanya yang sederhana di
Stockholm. Selain ruang kerja sederhana, Hakansson tinggal di sebuah
apartemen seluas 46 meter persegi.(BBC/Abdellatif Azmani )


STOCKHOLM, KOMPAS.com - Gaji tinggi dan fasilitas mewah menjadi salah satu
alasan mengapa banyak orang ingin menjadi anggota DPR atau parlemen. Namun,
tidak demikian halnya dengan Swedia.


Di negara ini para anggota DPR hidup amat bersahaja. "Kami ini tak berbeda
dengan warga kebanyakan," ujar Per-Arne Hakansson, anggota parlemen Swedia
dari Partai Sosial Demokrat. "Tugas utama kami adalah mewakili rakyat, jadi
tak pantas rasanya jika kami diistemewakan atau mendapatkan banyak
fasilitas atau gaji tinggi," kata Hakansson.


Baca juga: Terancam Ditangkap, Anggota Parlemen Oposisi Venezuela
Berlindung di Kedubes Asing


"Yang membuat kami istimewa adalah kesempatan untuk ikut menentukan
kebijakan negara," imbuhnya. Semua anggota DPR Swedia tidak mendapatkan
mobil dinas atau tunjangan untuk membeli mobil. Parlemen hanya punya tiga
mobil dinas berjenis Volvo S80.


Ketiga mobil ini hanya diperuntukkan bagi ketua dan tiga wakilnya serta
hanya boleh dipakai untuk tugas-tugas parlemen. Untuk urusan mobilitas,
anggota DPR boleh menggunakan trasportasi umum secara cuma-cuma.


Mengapa tak ada mobil untuk anggota DPR? "Kami bukan perusahaan taksi,"
kata pejabat parlemen, Rene Poedtke. Ia menjelaskan tiga mobil dinas milik
parlemen tak boleh dipakai untuk mengantarkan anggota DPR dari kantor ke
rumah.


Satu-satunya pejabat tinggi negara yang punya mobil dinas adalah Perdana
Menteri Stefan Lofven. Anggota DPR Swedia menerima gaji sekitar 6.900
dollar AS atau sekitar Rp98 juta per bulan, setengah dari anggota Kongres
Amerika Serikat yang menerima gaji 14.000 dollar AS sebulan.


Gaji rata-rata warga Swedia adalah 2.800 dollar AS atau sekitar Rp 40 juta
per bulan. Anggota DPR yang mewakili daerah pemilihan di luar ibu kota
Stockholm boleh mengklaim semacam tunjangan harian yang besarannya sekitar
12 dollar AS atau setara dengan Rp 171.000.


Di Stockholm, uang itu hanya bisa dipakai untuk membeli makanan sederhana.
Baca juga: Ngantor Naik Sepeda dan Skuter, Anggota Parlemen Lebanon Jadi
Perhatian Sebelum 1957, para anggota DPR Swedia bahkan tidak digaji. Lalu
dari mana mereka mendapatkan penghasilan? Gaji mereka berasal dari iuran
anggota partai.


Setelah 1957, pemerintah memutuskan untuk menggaji anggota DPR antara lain
dengan tujuan orang tertarik untuk masuk parlemen. Meski demikian, pada
saat yang sama, banyak pihak juga menginginkan agar gaji anggota DPR ini
tak terlalu tinggi.


Di sejumlah negara, selain mendapatkan tunjangan kendaraan, para anggota
DPR juga mendapatkan rumah dinas. Di Swedia, rumah dinas berbentuk
apartemen sempit dan hanya diperuntukkan bagi anggota parlemen yang berasal
dari luar Stockholm. Anggota DPR Per-Arne Hakansson mengatakan, apartemen
yang ia tempati hanya punya satu kamar dengan luas keseluruhan tak lebih
dari 46 meter persegi.


Meski demikian, apartemen yang ditempati Hakansson termasuk lapang.
Properti milik negara biasanya berbentuk studio, jenis apartemen tak
berkamar, dengan ukuran sekitar 16 meter persegi.


Baca juga: Akibat Mencuri Sandwich, Anggota Parlemen Slovenia Mengundurkan
Diri Di studio ini hanya ada satu tempat tidur.


Tidak ada mesin cuci atau mesin pencuci piring. Penginapan hanya
diperuntukkan untuk anggota DPR. Pasangan atau anggota keluarga yang
menginap harus membayar.


Jika pasangan ingin tinggal di properti ini, ia harus membayar setengah
dari biaya sewa, yang uangnya masuk ke kas negara. " Tunjangan hanya
semata-mata untuk anggota DPR, bukan untuk pasangan atau anggota keluarga
yang lain," kata pejabat parlemen Anna Aspegren.


Jika tak ingin tinggal di apartemen mungil ini, para anggota boleh menyewa
properti lain dengan syarat uang sewanya tak melebihi 820 dollar AS atau Rp
11,6 juta per bulan. Untuk ukuran Stockholm, tunjangan uang sewa ini
tergolong rendah.


Di masa lalu, tidak ada apartemen dinas bagi anggota dan banyak dari mereka
yang biasanya menginap di kantor, yang ukurannya rata-rata 15 meter
persegi. Para anggota DPR Swedia jugua dilarang merekrut staf pribadi atau
tenaga ahli.


Namun, mereka mendapat tunjangan untuk menggunakan semacam "staf pendukung
atau tenaga ahli bersama" yang disediakan bagi anggota yang memerlukan. Di
pemerintahan lokal, upaya penghematan anggaran jauh lebih besar lagi.


Baca juga: Anak Telantar di India Ini Sekarang Jadi Anggota Parlemen Swiss
Sekitar 94 persen anggota dewan kota atau dewan daerah tak menerima gaji
kecuali bagi mereka yang masuk menjadi anggota komite eksekutif, yang
menerima gaji baik karena bekerja penuh waktu atau paruh waktu.


Mengapa demikian? "Ini adalah pekerjaan sukarela yang bisa kita lakukan di
waktu senggang kita," kata anggota dewan kota Stockhom, Christina
Elffors-Sjodin.


Anggota DPR yang mewakili daerah pemilihan di luar ibu kota Stockholm boleh
mengklaim semacam tunjangan harian yang besarannya sekitar 12 dollar AS
atau setara dengan Rp 171.000.


Di Stockholm, uang itu hanya bisa dipakai untuk membeli makanan sederhana.
Baca juga: Ngantor Naik Sepeda dan Skuter, Anggota Parlemen Lebanon Jadi
Perhatian Sebelum 1957, para anggota DPR Swedia bahkan tidak digaji. Lalu
dari mana mereka mendapatkan penghasilan?


Gaji mereka berasal dari iuran anggota partai. Setelah 1957, pemerintah
memutuskan untuk menggaji anggota DPR antara lain dengan tujuan orang
tertarik untuk masuk parlemen. Meski demikian, pada saat yang sama, banyak
pihak juga menginginkan agar gaji anggota DPR ini tak terlalu tinggi.


Di sejumlah negara, selain mendapatkan tunjangan kendaraan, para anggota
DPR juga mendapatkan rumah dinas.


Di Swedia, rumah dinas berbentuk apartemen sempit dan hanya diperuntukkan
bagi anggota parlemen yang berasal dari luar Stockholm.


Anggota DPR Per-Arne Hakansson mengatakan, apartemen yang ia tempati hanya
punya satu kamar dengan luas keseluruhan tak lebih dari 46 meter persegi.


Meski demikian, apartemen yang ditempati Hakansson termasuk lapang.
Properti milik negara biasanya berbentuk studio, jenis apartemen tak
berkamar, dengan ukuran sekitar 16 meter persegi.


Baca juga: Akibat Mencuri Sandwich, Anggota Parlemen Slovenia Mengundurkan
Diri Di studio ini hanya ada satu tempat tidur.


Tidak ada mesin cuci atau mesin pencuci piring. Penginapan hanya
diperuntukkan untuk anggota DPR. Pasangan atau anggota keluarga yang
menginap harus membayar.


Jika pasangan ingin tinggal di properti ini, ia harus membayar setengah
dari biaya sewa, yang uangnya masuk ke kas negara. " Tunjangan hanya
semata-mata untuk anggota DPR, bukan untuk pasangan atau anggota keluarga
yang lain," kata pejabat parlemen Anna Aspegren.


Jika tak ingin tinggal di apartemen mungil ini, para anggota boleh menyewa
properti lain dengan syarat uang sewanya tak melebihi 820 dollar AS atau Rp
11,6 juta per bulan. Untuk ukuran Stockholm, tunjangan uang sewa ini
tergolong rendah.


Di masa lalu, tidak ada apartemen dinas bagi anggota dan banyak dari mereka
yang biasanya menginap di kantor, yang ukurannya rata-rata 15 meter
persegi.


Para anggota DPR Swedia jugua dilarang merekrut staf pribadi atau tenaga
ahli. Namun, mereka mendapat tunjangan untuk menggunakan semacam "staf
pendukung atau tenaga ahli bersama" yang disediakan bagi anggota yang
memerlukan.


Di pemerintahan lokal, upaya penghematan anggaran jauh lebih besar lagi.
Baca juga: Anak Telantar di India Ini Sekarang Jadi Anggota Parlemen Swiss
Sekitar 94 persen anggota dewan kota atau dewan daerah tak menerima gaji
kecuali bagi mereka yang masuk menjadi anggota komite eksekutif, yang
menerima gaji baik karena bekerja penuh waktu atau paruh waktu.


Mengapa demikian? "Ini adalah pekerjaan sukarela yang bisa kita lakukan di
waktu senggang kita," kata anggota dewan kota Stockhom, Christina
Elffors-Sjodin.

Editor : Ervan Hardoko

Kirim email ke