Apakah kalau AHY berbicara dengan Jokowi untuk dapat jabatan menteri dia
pakai kromo inggil? Apakah Jokowi- Ma'ruf akan berikan kursi menteri kepada
AHY?


https://fokus.tempo.co/read/1213099/membaca-tanda-tanda-arah-politik-partai-demokrat/full&view=ok
*Membaca Tanda-tanda Arah Politik Partai Demokrat*

Reporter:
*Egi Adyatama*

Editor:
*Tulus Wijanarko*

Minggu, 9 Juni 2019 12:46 WIB



<https://statik.tempo.co/data/2019/05/02/id_838812/838812_720.jpg>*Presiden
Joko Widodo (kanan) menerima kunjungan Komandan Komando Satuan Tugas
Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Istana
Negara, Jakarta, Kamis 2 Mei 2019. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A*


*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Teka-teki mengenai sikap Partai
Demokrat <https://www.tempo.co/tag/demokrat> pascapemilihan presiden 2019
makin menarik perhatian. Apakah partai berlambang mercy ini akan
menyeberang ke koalisi pemerintah, ataukah bertahan di kubu
Prabowo-Sandiaga Uno? Semua masih serba mungkin.


*Baca juga*: *PDIP Bicara Hubungan Megawati dan SBY Selama Ini*
<https://nasional.tempo.co/read/1211895/pdip-bicara-hubungan-megawati-dan-sby-selama-ini>


Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean
mengatakan sampai saat ini partai belum melakukan pembicaraan resmi akan
berkoalisi dengan oposisi atau bergabung ke pemerintahan. “Tunggu saja
bagaimana perkembangannya nanti. Apakah Partai Demokrat tetap menjadi
partai penyeimbang (beroposisi) atau partai pemerintah?” kata dia, Sabtu, 8
Juni.

Sepertinya sikap itu masih terlihat mengambang. Tetapi publik juga melihat
bahwa berkali-kali Demokrat mengirim sinyal kemana arah politik akan
dilabuhkan. Kapal Demokrat sepertinya tengah mengarah ke kubu pemerintah.


Tanda itu pertama kali dinyalakan oleh Komandan Komando Satuan Tugas
Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Putra
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambanag Yudhoyono, ini setidaknya sudah
dua kali menemui Presiden Joko Widodo pascapemilu di Istana.

Selain itu, AHY dan adiknya, Edhie Baskoro Yudhoyono, juga hadir di *open
house* lebaran Jokowi dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Megawati Soekarnoputri.

Sebelumnya, AHY juga berkumpul bersama beberapa kepala daerah di Bogor.
Dalam Forum Bogor itu berkumpul AHY, Yenny Wahid, dan kepala daerah yang
selama ini dikenal sebagai pendukung Jokowi. Dalam pertemuan itu AHY
menyampaikan Partai Demokrat mendukung langkah yang konstitusional dalam
kompetisi politik.


Tapi jauh sebelum AHY berzig-zag, hubungan Demokrat dengan koalisi
Prabowo-Sandiaga yang disebut Koalisi Adil Makmur itu, sudah lebih dulu
memanas. Melejitnya tensi itu dipicu oleh aksi Wakil Sekretaris Jenderal
Partai Demokrat Andi Arief yang mencuit di akun twitternya.


Andi menulis bahwa Prabowo dipasok informasi dan data yang salah sehingga
terjerumus menyatakan menang Pilpres 62 persen. Andi menyebut si pemasok
sebagai “setan gundul”. Cuitan ini memancing keriuhan, dna juga reaksi
partai-partai di kubu koalisi Prabowo.

Tetapi apakah semua sinyal itu memang cukup terang  menunjukkan arah
politik Partai Demokrat?

Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengatakan keputusan terkait
koalisi sepenuhnya ada di tangan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua
umum partai. Dia menegaskan kini Demokrat adalah partai mandiri dan tak
terikat koalisi mana pun.

Jansen menyatakan pasca Pemilihan Umum 2019, koalisi partai di kubu
pasangan pengusung Prabowo Subianto - Sandiaga Uno juga selesai. Koalisi,
kata dia, bukanlah fusi partai. Karena itu Demokrat kini mandiri dan tak
ada di kubu mana pun.

"Sebagai partai yang mandiri, independen, punya badan hukum sendiri, sikap
sendiri, pandangan politik sendiri, ya, kita bebas menentukan arah sikap
Partai Demokrat pascapemilu," kata Jansen. Apapun pilihannya nanti, baik
bergabung dengan pemerintah atau tetap menjadi oposisi, Jansen menegaskan
Demokrat siap menjalankannya.

Termasuk siap menjadi oposisi? Jansen mengingatkan bahwa selama hampir lima
tahun pemerintahan Jokowi, Demokrat memilih menjadi oposisi. Kata dia itu
modal bagus bagi Demokrat.



Namun jika akhirnya partai memutuskan bergabung dengan pemerintah, Demokrat
juga telah siap. Pengalaman kepemimpinan SBY sebagai Presiden Indonesia
dari 2005 hingga 2014, dinilai Jansen menjadi modal yang meyakinkan. "Tak
semua partai punya pengalaman seperti Demokrat. Kami kan pernah keduanya.
Kami tahu kalau di dalam mau melakukan apa, di luar mau melakukan apa,"
kata dia.


Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi
Prayitno, menilai dari gestur yang ditujukan belakangan, Demokrat memang
cenderung ingin bergabung dengan pemerintah. Selain dari semakin seringnya
pertemuan antara tokoh, Demokrat juga telah menyatakan menerima hasil
perhitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum. Sikap ini bertentangan dengan
Koalisi Indonesia Adil Makmur, yang menentang keras keputusan KPU dan sudah
mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

Adi mengatakan untuk jangka pendek, jika Partai Demokrat merapat ke koalisi
pemerintah, kemungkinan mendapat jatah kursi menteri. Namun secara jangka
panjang, dia melihat hal itu bisa menjadi batu loncatan lebih besar, yakni
menggabungkan dua trah politik besar, yakni trah SBY dan Megawati. "Merajut
kemungkinan menduetkan mantan 'anak-anak presiden' maju di pilpres 2024,"
kata Adi.

Kemungkinan bergabungnya Demokrat ke pemerintah itu ditanggapi beragam oleh
para pendukung Jokowi. Keraguan muncul, salah satunya, dari Sekretaris
Jenderal Partai Persatuan Pembangunan, Arsul Sani.

Arsul menilai selama Pilpres 2019 Partai Demokrat menunjukkan sikap keras
terhadap pemerintahan Jokowi. Dia menilai ini bisa menimbulkan
kekahwatrian. "Apa komitmen mereka bisa dipegang, karena (kini) begitu
mudah berpindah haluan," tanya dia.

Sikap lebih lunak ditunjukkan anggota koalisi lainnya. Sekretaris Jenderal
Partai Perindo Ahmad Rofiq mengatakan siap saja menerima tambahan partai
baru di koalisi, selama tujuannya benar-benar untuk mendukung Jokowi. "Ini
lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Maka tentu kami akan
memberikan pertimbangan khusus," kata dia.

Kini, bola –sepertinya-- di tangan Demokrat. Tetapi Jansen enggan
berandai-andai. Dia mengatakan kepastian sikap itu akan diputuskan pasca
gugatan di MK selesai dan keputusan telah keluar. "Jadi biarlah hal besar
seperti itu diputuskan pemimpin-pemimpin besar di atas. Kalau dalam hal
ini, antara Pak SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia dengan
Pak Jokowi," kata Jansen.

*EGI ADYATAMA | FIKRI ARIGI*

Kirim email ke