Masa Depan Indonesia Pascapilpres 2019 
https://nasional.sindonews.com/read/1405930/18/masa-depan-indonesia-pascapilpres-2019-1558369858
 Koran Sindo https://index.sindonews.com/blog/1584/koran-sindo

 Selasa, 21 Mei 2019 - 06:38 WIB
 
 Dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh dan Council 
Asian Muslim Action Network (AMAN), Bangkok , Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. 
Foto/KORAN SINDO 

 Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad Dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) 
Ar-Raniry, Banda Aceh,
 

 
 Council Asian Muslim Action Network (AMAN), Bangkok
 

 ARTIKEL ini mengupas perkembangan terkini situasi politik di Indonesia setelah 
pemilihan presiden (pilpres). Sepekan setelah pemungutan suara, seorang karib 
dari salah satu universitas di Jepang menanyakan bagaimana saya menafsirkannya, 
khususnya dalam kaitan antara pilpres dan agama. Apakah pemenangnya adalah 
kelompok moderat atau intoleran? Dalam hal ini, agak terlalu tergopoh-gopoh 
mengklaim bahwa terdapat hubungan antara isu pilpres dengan persoalan moderat 
dan intoleransi.
 

 Tampaknya, pemerintah yang terlalu cepat mengisi ruang ini sebelum dan sesudah 
pilpres melalui isu moderat dan intoleran. Tidak sedikit pendukung Jokowi dan 
Prabowo tidak mendasarkan pendirian politik mereka pada persoalan moderat dan 
intoleransi. Pada prinsipnya, sejak Jokowi menjadi presiden Indonesia, tampak 
adanya pembelahan rakyat pada persoalan sosial-keagamaan dan sosial-politik.

 

 Pada saat bersamaan, ketika Jokowi menjadi presiden, ada dua "K" yang selalu 
dikaitkan dengan situasi kepresidenannya, yaitu komunis dan khilafah. Kelompok 
militer dan beberapa ormas muslim tidak menginginkan kelompok komunis bangkit 
lagi di Indonesia, sebagaimana pengalaman Perang Dingin. Untuk merespons isu 
ini, pemerintahan Jokowi menjadikah isu khilafah sebagai musuh negara seperti 
pengalaman Goerge Walker Bush setelah 11 September 2001. Sentimen ini langsung 
dihubungkan dengan kelompok muslim yang mendukung Prabowo ketika hendak masuk 
pada persiapan pra dan pascapilpres, yang dipandang sebagai kelompok intoleran.

 

 Sebelum pilpres, isu tentang komunis dan khilafah menjadi masalah di dalam 
pembelahan masyarakat di akar rumput. Dua tahun pertama, isu komunis mencuat 
dan menjadi isu di dalam masyarakat. Konsepnya adalah Communist is Coming ! 
Konstruksi musuh yang disinyalir komunis sudah bangkit.

 

 Dua tahun berikutnya, isu komunis menghilang dari permukaan. Lantas muncul isu 
khilafah, di mana menjadi "hantu baru" dalam tatanan penyelenggaraan negara. 
Melalui konsep ini, pemerintah membabat habis ormas atau individu yang 
disinyalir mendirikan khilafah di Indonesia. Karena itu, dalam empat tahun 
terakhir, isu komunis dan khilafah benar-benar memberikan pengaruh pada teori 
belah bambu dalam kehidupan warga negara di republik ini.

 

 Di samping itu, kelompok ultranasionalis juga tidak menginginkan kelompok 
keagamaan, terutama muslim yang antikomunis berada di dalam lingkaran 
pemerintahan Jokowi. Kelompok ini tidak menginginkan kelompok prokhilafah 
tampil ke permukaan untuk menguasai wacana publik. Karena itu, dari dalam 
kelompok pendukung Jokowi muncul gerakan ultramuslim tradisional yang 
berafiliasi pada ormas terbesar di Indonesia, di mana kemudian menjadi mesin 
politik Jokowi saat pilpres. Penyatuan dua kelompok ultra tersebutlah yang 
menjadi lawan politik kelompok intoleran yang diklaim sebagai pendukung Prabowo.

 

 Proses pembentukan sikap saling bermusuhan di antara rakyat dalam pilpres kali 
ini memang bersentuhan dengan isu keagaman-kum-etnik. Kondisi ini telah menjadi 
suatu cipta kondisi sebelum kampanye dimulai. Sentimen ini kemudian mengikat 
pada provinsi-provinsi yang diklaim "garis keras" oleh Mahfud MD.

 

 Prabowo lantas memperoleh suara mayoritas di provinsi-provinsi yang dianggap 
"garis keras." Di sini keadaannya memperuncing seolah-olah klaim isu khilafah 
memang benar adanya. Kendati di pihak Prabowo sendiri tidak sedikit mereka yang 
menolak isu khilafah.

 

 Selain persoalan cipta kondisi di atas, terdapat juga gejala baru dalam 
pilpres kali ini yaitu suara kelompok muslim milenial. Mereka cenderung 
berkonflik di dunia maya. Di sini istilah cebong dan kampret menggantikan 
istilah komunis dan khilafah. Proses konflik virtual tersebut lantas 
menciptakan konflik di mana masing-masing generasi milenial keluar dari "zona 
aman" dari pemahaman keagamaan mereka. Masing-masing kelompok mengambil 
materi-materi keagamaan dari dunia maya untuk saling menyerang antara satu sama 
lain.

 

 Di sinilah reproduksi hoaks yang paling banyak dilakukan di republik ini. 
Sayangnya, pemerintah malah meresponsnya bukan dengan mengurangi cara berpikir 
hoaks, tetapi lebih mengedepankan kekuatan hukum. Sehingga, perlawanan terhadap 
cara pemerintah tersebut menambah mesiu kebencian terhadap citra pemerintah di 
hadapan rakyat.

 

 Kekeliruan respons ini mengakibatkan aparat keamanan sedang beraksi menepuk 
nyamuk dalam kerumunan gurita hoaks di Indonesia. Kekeliruan respons pemerintah 
ini persis ketika Bush menggelorakan isu terorisme global pada 2001. Hanya ada 
dua pilihan pada waktu itu, yaitu "bersama kami atau bersama mereka!"

 

 Model respons ini telah menyebabkan Amerika Serikat menghabiskan dana yang 
cukup banyak untuk menghadapi akibat dan dampak perang melawan teror, baik di 
Timur Tengah maupun di dalam negeri sendiri. Tampaknya, pemerintahan Jokowi 
mengambil model respons ini melalui sistem pembelahan masyarakat yang berada di 
dalam kotak pandora: siapa yang tidak mendukung pemerintah dianggap sebagai 
musuh pemerintah melalui label khilafah dan intoleran.

 

 Harga sosial sebagai akibat dari cipta kondisi tersebut tentu akan dibayar 
mahal dalam beberapa bulan ke depan hingga tanggal pelantikan presiden tahun 
ini. Akar masalah di atas berimbas pada proses tahapan pilpres. Rumor 
pengerahan massa saat pengumuman hasil perhitungan KPU menjadi momen untuk adu 
kekuatan antara kelompok yang diimajinasikan sebelumnya.

 Untuk mengamankan tahapan pilpres ini, pemerintah berupaya melakukan 
rekonsiliasi. Upaya ini tentu saja gagal sebab tensi emosi massa telah disulut 
sejak 2014 dan sikap pemerintah terhadap sebagian umat Islam. Pola penyelesaian 
konflik elite politik ternyata merupakan akibat dari salah urus saat pembelahan 
masyarakat ditanggapi melalui pola pengalaman pemerintah Amerika melawan 
teroris.

 

 Beberapa pandangan menyebutkan bahwa jika tidak ada rekonsiliasi, Indonesia 
sangat mungkin akan mengalami gejolak sebagai negara yang tidak aman di Asia 
Tenggara. Pilpres kali ini telah menyebabkan konflik tidak hanya di level 
elite, tetapi juga di level akar rumput. Di sini pendekatan yang dilakukan 
sebenarnya tidak begitu sulit jika masih ada asas kepercayaan di antara 
kelompok yang sedang berkonflik.

 

 Kendati demikian, berbagai skenario dan cipta kondisi semakin memperuncing 
masalah, terutama ketika dialog dan rekonsiliasi tidak dapat direalisasikan. 
Kelompok yang bertikai tampaknya mengutamakan kepentingan bangsa dalam ruang 
dan imajinasi masing-masing.

 

 Dapat dinyatakan ketika ihwal di atas absen di dalam penyelesaian konflik 
elite, maka sangat boleh jadi pengalaman di Timur Tengah akan menjadi kenyataan 
di Indonesia. Pengalaman di Thailand, militer bersama kerajaan dan rakyat 
bersatu untuk menjauhkan negara ini dari keterpurukan. Sayangnya, di negara 
tersebut tidak ada isu agama dimainkan, melalui persoalan politik dan ekonomi.

 

 Adapun di Malaysia, sentimen etnik dan politik telah menyelamatkan bangsa ini 
dari isu perpecahan. Sementara pemerintah Indonesia menghadapi krisis politik 
akibat dari berbagai dimensi masalah seperti diuraikan di atas. Karena itu, 
kembali pada khitah kebangsaan adalah hal yang mutlak untuk segera dilakukan.

 

 Jika memang pilpres kali ini mengindikasikan berbagai hal yang merusak rasa 
persatuan kebangsaan, maka sangat boleh jadi dilakukan lagi pilpres ulang 
supaya perahu bangsa ini tidak tenggelam. Atau, semua indikasi pilpres yang 
tidak sehat perlu dimusyawarahkan dengan mengedepankan kepentingan bangsa di 
atas kepentingan pribadi dan kelompok.

 (kri)
 

 

 

Kirim email ke