Lho, kok mengharapkanh Jokowi sadar?? Kan itu juga yang dia
inginkan...menjual proyek-proyek megainfrastruktur dan
tambang kepada pemodal Tiongkok....Terussss masukkan modal
Tiongkok...
On Saturday, June 15, 2019, 7:15:58 PM GMT+2, ajeg
[email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]
<[email protected]> <mailto:[email protected]>
wrote:
Sudah 5 tahun gelibat-gelibet LBP-RRC ini dimunculkan dalam
berbagai varian pemberitaan, padahal isinya masih berkutat
di jualan proyek yang itu-itu juga: KEK Sumut; KEK Kaltara;
KEK Sulut; dan KEK Bali-Lombok. Sementara, Jokowi cuma
kebagian proyek hiburan KA cepat JKT-BDG yang 4 tahun
mangkrak (lantas kemana itu guyuran investasi via Keqiang?).
Belum sadar-sadar juga si Jokowi.
--- SADAR@... wrote:
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang
Kemaritiman melalui Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur
memfasilitasi pertemuan antardelegasi Republik Rakyat China
dengan para pelaku usaha Indonesia, di Jakarta, Jumat (14/6)
dalam Indonesia Business Visit and China International
Contractors Association (Chinca).
Kegiatan itu dihadiri 31 pelaku usaha dari perwakilan Chinca
dan pimpinan dari berbagai perusahaan di bidang energi,
transportasi dan pengembangan infrastruktur, manufaktur
permesinan, serta lembaga pembiayaan atau keuangan yang
sebagian besar datang dari kota Beijing dan sekitarnya serta
merupakan grup perusahaan atau BUMN besar China.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Ridwan Djamaluddin
dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu, menyampaikan Indonesia
masih terfokus pada pulau Jawa. Pemerintah berharap
pembangunan infrastruktur bisa lebih merata ke wilayah lain.
"80 persen kontribusi GDP (Gross Domestic Product/Produk
Domestik Bruto) kita masih berasal dari Jawa, di Indonesia
kita menyadari kemajuan pembangunan masih diperlukan
pemerataan, sehingga upaya kita sekarang adalah melakukan
pembangunan di kawasan-kawasan luar jawa sehingga pemerataan
menjadi lebih baik," ujarnya...
Sejak tahun 2017, pemerintah Indonesia berdasarkan masukan
dari perusahaan swasta maupun BUMN, menyusun proposal yang
kemudian terkumpul menjadi 30 proyek di empat koridor
pembangunan dengan nilai mencapai 91,1 miliar dolar AS.
Koridor tersebut antara lain, pada koridor Sumatra Utara
fokus dalam hak ekonomi bagian barat untuk memfasilitasi
kerja sama ASEAN dan sekitarnya; koridor Kalimantan Utara
fokus pada pengembangan energi dan mineral; Sulawesi Utara
disiapkan untuk pertumbungan kawasan pasifik dalam ranah
parisiwata dan industri; sementara Bali disiapkan untuk
pusat inovasi kawasan ASEAN.
Deputi Ridwan juga menegaskan bahwa kerja sama tersebut
bersifat saling menguntungkan dan semua negara yang akan
melakukan investasi ke Indonesia wajib memenuhi lima
kriteria dan tiga sistem kerja sama "Basic Principles of
GMF-BRI Cooperation.
"Saya ingin menekankan, kita tidak hanya bekerjasama
komersial dalam jangka pendek, tapi kita juga buka ruang
dalam jangka panjang, di luar empat koridor ini ada juga
proyek non koridor yang sudah diinisiasi oleh pelaku
industri yang hanya memerlukan dukungan kebijakan
pemerintah," tambahnya.
Perwakilan Ketua Chinca Xin Xiuming menilai Indonesia
mengalami perkembangan ekonomi yang luar biasa, dan pihaknya
sangat antusias untuk berpartisipasi dalam pembangunan
infrastruktur di Tanah Air.
"Kami mendorong semangat anggota kami dalam bergabung dalam
pembangunan, dan sebagai organisasi kontraktor
infrasturuktur China, kami juga mau menjalin komunikasi yang
baik dengan Indonesia, kami percaya dengan usaha kita dan
dukungan dari berbagai pihak, kerja sama dua negara dalam
infrastruktur akan berjalan dengan baik," tambahnya.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk China dan Mongolia
menambahkan hubungan bilateral akan lebih bagus lagi jika
dirasakan oleh masyarakat dari kedua belah pihak negara,
pelaku bisnis yang akan merealisasikan program dari hubungan
bilateral ini.
Kegiatan itu diharapkan dapat memberi informasi kerja sama
dalam kerangka "Regional Comprehensive Economic Corridor"
(RCEC) Global Maritime Fulcrum - Belt and Road Initiative
(GMF-BRI) antara Indonesia dan China serta mendapatkan
peluang peluang investasi proyek di bidang infrastruktur,
energi, pekerjaan umum dengan melakukan interaksi langsung
antara pelaku bisnis Indonesia dan China.
*Baca juga:NTT berencana pinjam Rp3 triliun dari China
biayai infrastruktur jalan
<https://www.antaranews.com/berita/865324/ntt-berencana-pinjam-rp3-triliun-dari-china-biayai-infrastruktur-jalan>
Baca juga:Temui Jokowi, AIIB China tawarkan pinjaman satu
miliar dolar
<https://www.antaranews.com/berita/743411/temui-jokowi-aiib-china-tawarkan-pinjaman-satu-miliar-dolar>*
Ini positif-negatif perang dagang AS-China bagi
Indonesia