Info tambahan

https://www.suara.com/news/2019/06/11/173937/diklaim-perintahkan-bunuh-4-pejabat-negara-ini-rekam-jejak-kivlan-zein
*Diklaim Perintahkan Bunuh 4 Pejabat Negara, Ini Rekam Jejak Kivlan Zen*

Reza Gunadha | Chyntia Sami Bhayangkara

Selasa, 11 Juni 2019 | 17:39 WIB

Tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen (kiri)
dikawal polisi usai menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum, Polda Metro
Jaya, Jakarta, Kamis (30/5). [ANTARA FOTO/Reno Esnir]

*Kivlan Zein disebut menjadi orang yang memerintahkan eksekutor melakukan
pembunuhan terhadap sejumlah pejabat* *Suara.com - *Nama Mayjen (Purn)
Kivlan Zen kembali menjadi perbincangan. Seusai ditetapkan sebagai
tersangka atas kasus dugaan makar, *Kivlan Zein*
<https://www.suara.com/tag/kivlan-zein> disebut menjadi sosok yang
memerintahkan pembunuhan terhadap sejumlah pejabat nasional.



Para pejabat yang menjadi target pembunuhan adalah Menteri Koordinantor
Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinantor Kemaritiman Luhut
Binsar Panjaitan, Kepala BIN Budi Gunawan, Staf Kepresidenan Gories Mere.

Tak hanya itu, ia juga diklaim para pelaku eksekutor memerintahkan membunuh
Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.




Hal tersebut terungkap dari pengakuan sejumlah tersangka terkait *ancaman
pembunuhan* <https://www.suara.com/tag/ancaman-pembunuhan>pejabat yang
telah diamankan oleh polisi.

Melalui rekaman video yang diputar di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta pada
Selasa (11/6/2019), para tersangka mengakui mendapatkan perintah langsung
dari Kivlan Zen untuk menghabisi nyawa sejumlah pejabat.

Sosok Kivlan Zen sendiri sudah sudah tidak asing lagi di dunia militer.
Pria kelahiran Langsa, Aceh pada 24 Desember 1946 ini menghabiskan masa
mudanya sejak duduk di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi di Medan.

Selama menjadi mahasiswa jurusan Kedokteran di Universitas Islam Sumatera
Utara, Kivlan Zein dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi.

Kivlan Zein tercatat menjadi sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam cabang
Medan dan Ketua Departemen Penerangan Kami Medan pada 1965. Selain itu, ia
juga aktif dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Namun, kuliahnya terpaksa berhenti lantaran ia harus sekolah militer di
Akmil Magelang dan lulus pada 1971.

Saat usia Kivlan Zein menginjak 27 tahun, ia memulai karier di kesatuan
Infanteri, Kostrad, Angkatan Darat.

Karier Kivlan Zein terus beranjak naik saat berhasil meringkus Organisasi
Papua Merdeka (OPM) pada 1974 dan bertugas di Timor-Timur (sekarang Negara
Timor Leste).


Keberhasilannya menumpas OPM diganjar dengan kenaikan pangkat. Tak lama
kemudian, Kivlan Zein naik pangkat menjadi Mayor Jenderal dan menjabat
sebagai Kepala Staf Kostrad pada 1998 dengan Panglima Kostrad Letjen
Prabowo Subianto.

Namun, karier Kivlan Zein terhenti saat terjadi peralihan kepemimpinan dari
rezim Orde Baru menuju ke Reformasi.

Prabowo Subianto dicopot dari jabatannya, sementara Kivlan Zen dimutasi ke
Mabes TNI AD.

Tak lama setelah dimutasi, Kivlan Zein pensiun dari militer. Pada 2016,
Kivlan Zein diminta menjadi negosiator menyelamatkan sejumlah Warga Negara
Indonesia yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Negosiasi tersebut
berhasil.

Pada Pilpres 2019, Kivlan Zein menjatuhkan pilihan politik mendukung Capres
Cawapres nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga Uno.

Kivlan Zein juga sempat terlibat adu argumen dengan politisi Partai
Demokrat Andi Arief mengenai setan gundul hingga menyebut Ketua Umum Partai
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tak memiliki kelamin jelas dalam
menentukan arah dukungan di Pilpres 2019.

Kirim email ke