https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893
Minggu 30 Juni 2019, 14:30 WIB
Jeda
"People Power" yang Sesungguhnya
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4605815/people-power-yang-sesungguhnya?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.235248449.1356407710.1561917893-881394393.1561917893#>
People Power yang Sesungguhnya Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Seorang lelaki remaja belia berwajah ala Korea mendekat ke
kamera. Dalam video yang kemudian viral itu, kita menyaksikan sang bocah
bicara dalam bahasa Jawa. "/Ketoke aku arep mulai saiki/." Sebuah pesan
agar penonton bersiap-siap, karena dia akan segera memulai aksinya.
Lalu, terdengar suara gamelan, dan sang bocah pun menari.
Ia menari di tengah jalan raya yang lapang tanpa kostum layaknya seorang
penari tradisional pada umumnya. Dengan kaos oblong warna /pink/, celana
/jeans/ hitam, topi /Nike/, dan sepatu /Adidas/ ia tampak sangat lincah
dan riang, bergerak ke sana ke mari seolah sedang menggelar sebuah
pertunjukan di atas panggung.
Lalu, kamera menyorot sekelilingnya dan kita pun tahu, bocah itu
ternyata menari di Jalan Malioboro Yogyakarta, di depan deretan
toko-toko yang ramai. Orang-orang yang melintas dan berlalu lalang pun
kemudian mengerumuni sang penari cilik itu, memotret, merekam dengan
kamera HP. Terlihat wajah-wajah kagum, yang di antaranya kita menangkap
sosok Sri Sultan Hamengku Buwono X di antara para penonton. Makin lama
kerumunan semakin ramai.
Beberapa lelaki muda bertas ransel di punggungnya satu per satu melompat
ke tengah "panggung", bergabung dengan bocah tadi, dan ikut menari.
Seorang perempuan berjilbab menyeruak kerumunan penonton, dan kemudian
juga ikut menari bersama mereka. Perempuan lain yang semula hanya duduk
menonton, setelah beberapa saat mempelajari dan menirukan gerakan tangan
para penari, akhirnya tak tahan juga, bangkit, meletakkan tasnya dan
bergabung.
Para penari semakin meluas sampai ke emperen toko. Agak jauh di belakang
kerumunan penonton, di atas sebuah bangku di trotoar, seorang perempuan
berjilbab juga tak mau tinggal diam, ikut menari. Ketika kamera menyorot
dari kejauhan, tampak sebuah gedung tua menjadi /background/ bagi
pertunjukan di jalanan itu. Gamelan makin bertalu-talu. Langit yang
sebelumnya cerah kini tampak mulai meremang. Matahari hampir tenggelam,
dan mereka menuntaskan tariannya dalam puncak irama gamelan yang rancak.
Banyak orang mengaku "merinding" menyaksikan video /flash mob/ "beksan
wanaran" (tarian kera) yang viral di media sosial itu. Bagi yang sudah
menontonnya bisa merasakan, seperti ada daya magis yang membangkitkan
jiwa, memicu perasaan haru, dan menumbuhkan semacam gairah. Seperti
tampak pada video itu, di mana orang-orang yang semula hanya lewat atau
diam menonton, kemudian tergerak untuk ikut bergabung menari.
Hadirnya sebuah pertunjukan di tengah kota yang sibuk seolah menjadi
kekuatan yang menggerakkan daya hidup bagi warganya. Warga kota yang
sehari-hari menjalani rutinitas kerja, baik di sektor formal sebagai
pegawai kantoran maupun sektor-sektor informal seperti berjualan, seolah
menemukan oase, tempat untuk sejenak melepas lelah dan dahaga dari
berbagai ketegangan, kebosanan, dan perasaan-perasaan lain yang menekan,
membuat /kemrusung/, dan pada akhirnya menimbulkan rasa "asing" pada
dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya --merasa sepi dan hampa.
/Flash mob/ tari seperti yang terjadi di tengah keriuhan pusat industri
wisata di Yogyakarta itu hanyalah satu contoh dari bangkitnya kesadaran
masyarakat untuk merebut kembali "kewarganegaraan" sebagai bagian dari
penghuni kota dan negara, yang selama ini barangkali semakin terasa
sumpek, terdesak, dan terpinggirkan dalam kehidupan sosial dan
hiruk-pikuk politik nasional.
/Flash mob/ "beksan wanaran" itu sendiri merupakan bagian dari acara
untuk menyemarakkan uji coba pedestrian Malioboro, digagas oleh Kanjeng
Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro (menantu Sri Sultan), dilakukan oleh
para penari Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Keraton
Yogyakarta dan melibatkan para penari Institut Seni Indonesia (ISI)
Yogyakarta, sekaligus dalam rangka menyambut hajatan tahunan Catur
Sagatra yang akan digelar pada 13 Juli nanti di Pagelaran Keraton
Yogyakarta.
Pada puncak acara tersebut, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan
mementaskan wayang /wong/ dengan lakon /Subali Lena/, yang terbuka untuk
umum dan gratis tanpa tiket masuk. Persembahan dengan semangat yang
kurang lebih sama juga digelar di Solo sejak beberapa tahun belakangan
ini, yakni pentas Opera Ramayana selama tiga malam berturut-turut
setelah hari Lebaran, untuk menyambut para pemudik yang tengah berlibur
bersama keluarga di kampung halaman. Pertunjukan gratis tanpa tiket
masuk ini digelar di situs peninggalan kolonial Benteng Vastenberg,
melibatkan 150 penari, dan mampu menyedot hingga 5000-an penonton.
Tanpa adanya "kekuatan yang menggerakkan" tadi, rasanya tidak mudah
mengumpulkan orang sebanyak itu, walaupun lewat pertunjukan gratis,
apalagi yang ditampilkan adalah kesenian tradisional yang selama ini
dicitrakan telah ditinggalkan terutama oleh anak-anak muda. Namun,
Yogyakarta dan Solo membuktikan bahwa menciptakan ruang-ruang bagi
munculnya kembali semangat "kewarganegaraan" itu bukanlah sesuatu yang
mustahil, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh.
Baru berlalu seminggu yang lalu, di kawasan Blok M, tepatnya di sebuah
area yang biasa disebut "Little Tokyo", di labirin-labirin gang di
antara Pasaraya dan Blok M Square, di antara restoran-restoran Jepang,
ada gelaran Ennichisai, Festival Budaya Jepang, yang juga sudah menjadi
agenda tahunan di Jakarta belakangan ini. Acara tersebut selalu mampu
menyedot pengunjung hingga ribuan, membuat seluruh area Blok M menjadi
penuh sesak lautan manusia, nyaris tanpa bisa membuat orang bergerak.
Sebagian dari pengunjung datang dari luar kota, menginap di hotel-hotel
di sekitar lokasi acara, untuk secara khusus menyaksikan dan terlibat di
tengah-tengah keramaian yang pada dasarnya "hanya" berupa deretan stan
makanan dan minuman Jepang, yang kini sebenarnya tidak sulit juga untuk
dijumpai di berbagai mall. Sebagian dari mereka berdandan dengan kostum
tokoh-tokoh anime Jepang, berlalu lalang dan memenuhi setiap sudut
hingga ke radius yang agak jauh, membuat suasana benar-benar berbeda
dari hari-hari biasa.
Sekali lagi, apa yang menggerakkan mereka? Barangkali, inilah "/people
power/" yang sesungguhnya. Semangat untuk menegaskan dan menghadirkan
kembali kewarganegaraan, tanpa dikotak-kotakkan dalam berbagai perbedaan
dari kelas sosial hingga pilihan politik. Sesuatu yang dalam kondisi
"normal" sebenarnya wajar dan biasa-biasa saja, tapi dalam situasi
hari-hari ini, di mana orang begitu mudah membenci dan bertengkar
sekadar karena perbedaan calon presiden yang didukung.
/Flash mob/ tari di Malioboro, Opera Ramayana dalam rangka libur Lebaran
di Solo, hingga Festival Budaya Jepang Ennichisai di Blok M
memperlihatkan bahwa kewarganegaraan seolah hadir kembali, minta
diperhatikan, dan dilihat lagi dengan cara yang berbeda. Untuk kemudian,
mungkin perlu dilakukan usaha-usaha memaknainya ulang dengan cara yang
lebih "santai". Tidak (harus) dengan demonstrasi memprotes hasil pemilu
yang dituduh curang. Tidak pula dengan gontok-gontokan, perdebatan tiada
ujung mengenai hak-hak dan kesetaraan perempuan dan LGBT, hingga
pro-kontra penerapan hukum syariah dalam peraturan pemerintah daerah.
Melainkan, dengan menari bersama-sama di tengah jalan, mengenakan kaos
oblong, celana /jeans/, topi, dan /sneaker/ trendi. Larut dalam
haru-biru gugurnya Kumbakarna sambil menimbang kembali pembakaran Dewi
Sinta untuk membuktikan kesuciannya setelah ditolak Rama
pasca-penculikan oleh Rahwana. Atau, berdandan menjadi tokoh superhero
Jepang idolamu, sambil makan ramen superpedas sampai bibirmu terbakar,
sampai perutmu bergejolak oleh rasa nikmat.
*Mumu Aloha* /wartawan, penulis, editor/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*