https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi
Minggu 30 Juni 2019, 12:00 WIB
Kolom
"Flash Mob" Tari di Malioboro dan
Penyegaran Seni Tradisi
Aris Setiawan - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi#>
Aris Setiawan
<https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi#>
4 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4605685/flash-mob-tari-di-malioboro-dan-penyegaran-seni-tradisi#>
Flash Mob Tari di Malioboro dan Penyegaran Seni Tradisi Flash mob
"Beksan Wanara" di Malioboro, Yogyakarta (Foto: Youtube)
*Jakarta* -
Video /flash mob/ "Beksan Wanara" yang ditampilkan di area Jalan
Malioboro, Yogyakarta (18/6/19) menarik perhatian masyarakat luas. Video
tersebut menjadi perbincangan hangat dan sempat viral di media sosial.
Semua penari adalah anak-anak muda. Tarian yang sejatinya menjadi
tontonan biasa saja saat di panggung-panggung pertunjukan itu begitu
istimewa saat disajikan di tengah jalan, di hadapan masyarakat yang
berlalu-lalang untuk berbelanja dan berwisata di area Malioboro.
Peristiwa itu menjadi kabar yang menggembirakan bahwa apresiasi
masyarakat terhadap kesenian tradisi masih cukup tinggi. Tetapi hal itu
juga menyisakan catatan penting lain bahwa sudah selayaknya (kesenian)
tradisi dapat menembus batas-batasnya, tidak lagi kaku dan beku semata
di atas panggung, namun dapat hadir di mana pun secara mengejutkan,
mendadak, dan berefek menciptakan kesan mendalam. Dengan gaya yang
demikian, pandangan kita terhadap apa itu "tontonan" menjadi menarik
untuk dikoreksi.
*Tontonan*
Lono Simatupang (2013) menggambarkan, dalam keseharian, setiap kita
mungkin pernah tidak sengaja berhenti di tengah jalan untuk melihat
kecelakaan lalu lintas, pencopet yang tertangkap, tawuran, atau
demonstrasi. Lalu kita mendengar ungkapan "Sudah! Sudah! Ini bukan
tontonan!". Atau, "Bubar, memangnya ini pertunjukan!". Dan sebagainya.
Maksud perkataan itu menyiratkan adanya pemisahan antara yang
benar-benar tontonan dan yang bisa dianggap (seolah-olah) tontonan.
Lalu kapan sebuah peristiwa menjadi benar-benar tontonan? Ternyata,
suatu aktivitas baru disebut sebagai tontonan apabila dilakukan dengan
kesengajaan maksud untuk dilihat oleh orang lain, dipertontonkan atau
digelar. Jadi, kehendak untuk mempergelarkan sesuatu merupakan "syarat
pertama" sebuah tontonan. Namun, kenapa sebagian orang tetap (seringkali
tidak sengaja) menonton hal-hal yang oleh pelakunya tidak dimaksudkan
sebagai tontonan?
Ternyata, karena peristiwa-peristiwa itu menyajikan sesuatu yang tidak
biasa (/extraordinary/). Berdasarkan itu, maka "syarat kedua" adalah
ketidakbiasaan sebagai daya tarik tontonan. Gabungan keduanya
menghasilkan "syarat ketiga", yakni adanya peristiwa yang mempertemukan
antara maksud penyaji untuk menggelar sesuatu yang tidak biasa dengan
harapan penonton untuk mengalami sesuatu yang tidak biasa pula.
Hal itulah yang mencoba dilakukan oleh sekumpulan anak muda saat membuat
f/lash mob/ Tari Wanara di Jalan Malioboro. Ada kesengajaan dari mereka
untuk mempergelarkan tontonan yang tidak biasa bagi masyarakat.
Ketidakbiasaan itu antara lain mengubah jalan sebagai panggung. Tidak
ada lagi batas pemisah antara siapa penampil dan penonton. Bahkan
masyarakat dapat turut terlibat langsung untuk menari dan merasakan
sensasi yang hendak digapai.
Lebih penting lagi, tarian itu mendekonstruksi pandangan tentang
bagaimana tradisi harus dinikmati. Pelaku tak harus berias (berkostum)
selayaknya penari panggung. Mereka justru memakai pakaian keseharian,
biasa dan sederhana, alias tidak jauh beda dengan orang kebanyakan yang
hadir di Jalan Malioboro. Hal itu menimbulkan efek tak terduga bagi
penonton (masyarakat), bahwa di sekeliling mereka bertebaran penari yang
tak menunjukkan jatidirinya sebagai penari.
Kostum keseharian itu menghapus jarak atau sekat. Dan masyarakat begitu
terkejut saat tarian yang awalnya hanya dibawakan oleh seorang penari,
semakin lama tiba-tiba bertambah banyak. Satu per satu penari itu muncul
di sela-sela keramaian penonton. Bahkan tidak sedikit penonton yang
mencoba untuk ikut menari.
Tontonan yang membosankan di atas panggung menjadi begitu bergairah saat
dihadirkan di keramaian jalan. Hal yang demikian seolah melawan gaya
pertunjukan tari yang selama ini lebih mengandalkan jumlah penari
(kolosal) dalam penyajiannya, dibanding wacana atau gagasan yang
ditimbulkan. Saat Banyuwangi menggelar /Gandrung/ /Sewu/ yang diikuti
kurang lebih seribuan penari, tiba-tiba di beberapa daerah meniru dan
melakukan hal serupa.
Muncullah kemudian Tari Gambyong yang ditarikan oleh 5.000 penari di
Solo, Tari Saman yang dibawakan oleh 12.000 penari di Aceh, Tari
Poco-poco yang dibawakan 65.000 penari di Jakarta, dan masih banyak
lagi. Kalkulasi keberhasilan tontonan itu diukur dari jumlah banyak dan
sedikitnya penari, bukan dari efek yang ditimbulkan dari peristiwa itu.
Akibatnya, setelah selesai pertunjukan, maka selesai pula isu tentangnya.
Yang didapat adalah penghargaan berupa selembar sertifikat, berisi
keberhasilan memecahkan rekor jumlah penari, tidak lebih. Hari ini, gaya
yang demikian sudahlah ketinggalan zaman. Bila mengacu dari pandangan
Lono Simatupang di atas, tidak ada aspek keterkejutan atau kebaruan
selain bertambah dan menyusutnya jumlah penari. Terlebih, tontonan itu
sengaja digelar di tempat yang sudah ditentukan sebagai "panggung",
batas antara penonton dan penari sangat terlihat jelas.
Sementara /flash mob/ tidaklah demikian. Georniana Gore lewat tulisannya
/Flash Mob Dance and the Territorialisation of Urban Movement/ (2010)
menjelaskan bahwa /flash/ /mob/ menjadi menarik karena awalnya ditujukan
untuk menyampaikan pesan secara unik (kata lain dari aneh). /Flash mob/
dilakukan di area publik atau keramaian, dengan waktu yang terbatas, dan
berakhir ketika aparat (polisi atau petugas keamanan) datang untuk
membubarkan mereka.
*Penyegaran*
/Flash mob/ tari hadir di tengah masyarakat urban, tidak sekadar untuk
menghibur, namun juga memberi penyegaran di balik rutinitas hidup yang
monoton-membosankan. Para pelaku itu "membawa" tari hadir di
tengah-tengah aktivitas masyarakat tanpa harus jauh-jauh datang ke
panggung pertunjukan. /Flash mob/ kemudian memicu tawa, kebahagiaan,
kesan, dan kekaguman mendalam di benak penonton.
Demikian pula/flash mob/ di Jalan Malioboro. Walaupun tidak seketat
mengikuti aturan /flash mob/ pada umumnya, namun mampu memberi
alternatif gaya baru bagi seni tradisi lain untuk mempertontonkan
sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa. Ketidakbiasaan itu yang
ditunggu. Tentu saja tak harus muluk, apalagi mahal.
*Aris Setiawan* /etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*