---------- Forwarded message ---------
Date: Min, 30 Jun 2019 pukul 20.38
Subject: Kemitraan dengan China..?
*Erizeli Bandaro*
https://culas.blogspot.com/2015/06/kemitraan-dengan-china.html
Friday, June 26, 2015*Kemitraan dengan China..?*
Minggu lalu tamu saya datang dari China.Mereka adalah buyer yang berniat
membeli  kue yang diproduksi oleh pabrikan yang berlokasi di Bandung dan
juga berniat menjajaki proyek kerjasama di Bandung. Mereka datang satu team
sebanyak 5 orang. Rencana kami berangkat dari hotel jam 7 pagi menuju
Bandung.  Jam  6.30 pagi saya  sudah di Hotel untuk menjemput mereka.
Ketika saya datang mereka sedang sarapan pagi. Mereka sarapan cepat
sekali.Sekedar mengisi perut. Jam 7 langsung berangkat sesuai jadwal. Dalam
perjalanan kami  berhenti di rest area untuk bertemu dengan pihak pabrikan
yang akan mengantar kami menuju pabrik. Selama di tempat area itu, sambil
menunggu pihak pabrikan datang,mereka menolak untuk duduk  minum  kopi atau
makan di restoran.Mereka tetap berdiri diluar restoran. Diantara mereka
tidak ada yang berbicara.Mereka nampak focus dengan program hari ini untuk
meninjau pabrik. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sesampai
di pabrik mereka nampak tampa lelah melakukan negosiasi untuk mendapatkan
peluang membeli produk pabrikan dalam jumlah besar. Setelah usai negosiasi
kami melanjutkan bertemu dengan walikota Bandung.  Teman saya yang
mendampingi saya berkata tentang kesannya terhadap relasi saya itu “ mereka
sangat disiplin dan focus. Sangat efisien dengan waktu dan focus untuk
mencapai hasil”.

*Saya pernah bertemu dengan pemilik pabrikan minuman kemasan.Punya kesan
tersendiri terhadap mitranya dari China.Dulu dia pernah beli mesin dari
China.Sesuai kontrak bahwa kapasitas mesin itu sebesar katakanlah 100.000
krat.Tapi nyatanya setelah mesin di instal hanya mencapai produksi
setengahnya.Dia protes kepada penjual mesin di China.*

*Pihak china mendatangkan pekerja inti ke Pabrikan tersebut. Apa yang
terjadi ? mesin mampu bekerja dalam kapasitas sesuai spec dari mesin yaitu
100.000 krat perhari.*

*Lantas dimana letak perbedaan dari tenaga china dengan karyawan pabriknya
? menurutnya tenaga kerja China bekerja dengan cepat dan efisien sekali.
Ketika istirahat mereka tidak meninggalkan pos-nya. Mereka makan dari lunch
box.Makan mereka cepat sekali dan setelah itu mereka mencuci lunch box
tersebut dan menyimpannya di ransel. Kembali kerja dengan konsentrasi
tinggi tanpa ada sedikitpun mereka bicara.Mereka sangat menguasai
pekerjaannya.
Artinya 1 orang China sama dengan 2 orang Indonesia. Bahkan di bidang
kontruksi 1 orang china sama dengan 5 orang buruh Indonesia.*

Teman saya berusaha mendidik karyawannya untuk bekerja sesuai dengan etos
kerja dari China namun tidak mudah.Karena budaya kita masih sulit
menganggap bekerja itu bagian dari perjuangan akan masa depannya.
Buruh Indonesia masih menganggap kerja sebagai cara mendapatkan makan ,
bukan tanggung jawab kepada perusahaan. Bahwa bila perusahaan untung maka
mereka punya masa depan lebih baik.

<https://1.bp.blogspot.com/-SzmWH4e1zTk/VYxLPZsGPwI/AAAAAAAAGb0/tUUJ1JIZXKA/s1600/China5.jpg>
Kini muncul berita begitu hebatnya tentang ketakutan pekerja China akan
menyerbu datang ke Indonesia sehingga merebut kesempatan kerja orang
Indonesia. Apalagi ada berita bahwa China akan mengirim 10 juta orang china
datang ke Indonesia. Saya tidak tahu bagaimana berita ini diplesetkan
seakan ada rencana besar aneksasi China terhadap Indonesia.  Ini jelas
salah besar. Untuk diketahui bahwa Undang Undang China melarang rakyatnya
menetap tetap di negeri orang.Adapun rencana 10 juta orang China akan masuk
ke Indonesia , maka itu bukan tujuan menetap.itu adalah quota *exit
permits* yang
diberikan pemerintah China kepada setiap Negara tujuan kunjungan rakyat
China. Ingat bahwa China masih menerapkan UU mengenai Exit Permits bagi
warganya untuk keluar negeri. Adapun tujuan kunjungan itu dibatasi dibidang
pendidikan, kebudayaan dan wisata. Bagaimana dengan banyak pekerja china
masuk dalam proyek di Indonesia ? Itu karena projek tersebut berkaitan
dengan B2B dimana pihak china tidak mau rugi. Mereka harus memastikan
proyek tersebut dapat selesai sesuai jadwal sehingga dapat menghasilkan
revenue untuk mengembalikan investasi.  Atau proyek itu berkaitan dengan
skema inkind loan atau pinjaman diberikan dalam bentuk barang.Pihak China
terpaksa menggunakan pekerjanya agar standard kualitas dan waktu pengerjaan
dapat selesai sesuai kontrak. Jadi ini murni karena komitmen bisnis yang
harus mereka selamatkan.

Untuk diketahui bahwa kebijakan internasional china dilarang memberikan
pinjaman langsung atau dalam kuridor G2G yang berhubungan dengan
Politik.China memastikan dirinya sebagai Negara yang melarang melakukan
agenda internasionalisasi seperti Amerika dengan jargon demokratisasi.
Komunisme China adalah idiologi tertutup yang dilarang dijual kemanapun.
Makanya komunisme china berbeda dengan Negara lain. Kalaupun ada perjanjian
G2G itu lebih kepada saling memahami kebijakan masing masing Negara. Bahwa
China masuk ke suatu Negara selalu dalam kuridor B2B.Contoh bila China
memberikan pinjaman maka yang melaksanakan itu adalah BUMN yang bekerja
sesuai dengan SOP bisnis. Kalaupun mereka memberi pinjaman kepada Amerika
maka itu yang melakukan adalah BUMN sepeti China Investment Corporation
(CIC) untuk membeli surat utang ( Tbill ) Amerika melalui pasar uang
terbuka.Menurut teman yang bekerja di bidang *Private equity* di Hong Kong
, bahwa mengapa terjadi kampanye antipati terhadap China di Indonesia
karena Indonesia terbiasa bekerja sama lewat skema hutang politik lewat
G2G dengan Jepang, Amerika , Eropa dan ini berlangsung bertahun tahun
sehingga menimbulkan hutang diatas Rp.3000 triliun tanpa menghasilkan hal
yang signifikan terhadap pembangunan nasional karena budaya korup pejabat
Negara serta elite politik yang bekerjasama dengan pengusaha culas.

Upaya pemerintah menggandeng China bukan hanya era Jokowi tapi juga era
SBY. Hanya saja era SBY tidak terjadi deal meluas karena era SBY lebih
memilih skema Inkind loan melalui BUMN china dibidang investasi dan
keuangan, dimana beban ada pada APBN. Namun di Era Jokowi skema yang
ditawarkan atas dasar B2B murni.  Antara BUMN china dengan BUMN
Indonesia.Apapun resiko menjadi resiko business, bukan resiko politik.
Tidak akan menganggu posisi APBN. Kapanpun pemerintah sebagai regulator
bisa menguasai proyek tersebut bila peraturan yang diatur oleh UU
dilanggar. . Kita sudah menjalin kerjasama dengan Amerika sejak era
Soeharto dan hasilnya 90% sumber Migas dikuasai Amerika. Kita sudah
kerjasama dengan Jepang sejak era Soeharto dan kini 90% kendaraan yang ada
dijalanan buatan jepang dan kita belum juga mandiri.Kenapa ? karena kita
terjebak dengan budaya berhutang dan terima jadi tanpa mau bekerja keras
menjadi bangsa produsen. Jadi daripada kita mengutuki sesuatu karena dasar
paranoid mengapa kita tidak meniru budaya kerja keras dan disiplin bangsa
china lewat kemitraan atas dasar B2B..Agar kelak kita bisa menjadi tuan
dinegeri ini.Yakinlah bangsa ini tidak akan besar karena retorika dan sikap
paranoid. Bangsa ini besar karena sikap terbuka melihat kebenaran
darimanapun sumbernya dan mendapatkan hikmat atas setiap peluang kemitraan
global untuk menjadi lebih baik..

Kirim email ke