Kutipan dari artikel ini, mencerahkan dimana efisiensi kerja yg berbeda jauh. 
Tentu saja kalau memakai pekerja Indonesia bisa rugi (karena perlu pekerja 
lebih banyak dan memerlukan waktu lebih lama) kalau rancangannya di 
perhitungkan dgn menggunakan tenaga China: 

 Kutipan: 
 "Lantas dimana letak perbedaan dari tenaga china dengan karyawan pabriknya ? 
menurutnya tenaga kerja China bekerja dengan cepat dan efisien sekali. Ketika 
istirahat mereka tidak meninggalkan pos-nya. Mereka makan dari lunch box.Makan 
mereka cepat sekali dan setelah itu mereka mencuci lunch box tersebut dan 
menyimpannya di ransel. Kembali kerja dengan konsentrasi tinggi tanpa ada 
sedikitpun mereka bicara.Mereka sangat menguasai pekerjaannya.Artinya 1 orang 
China sama dengan 2 orang Indonesia. Bahkan di bidang kontruksi 1 orang china 
sama dengan 5 orang buruh Indonesia. Teman saya berusaha mendidik karyawannya 
untuk bekerja sesuai dengan etos kerja dari China namun tidak mudah.Karena 
budaya kita masih sulit menganggap bekerja itu bagian dari perjuangan akan masa 
depannya. Buruh Indonesia masih menganggap kerja sebagai cara mendapatkan makan 
, bukan tanggung jawab kepada perusahaan". 

 



---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

 

 ---------- Forwarded message ---------
Date: Min, 30 Jun 2019 pukul 20.38
Subject: Kemitraan dengan China..?
*Erizeli Bandaro*

 https://culas.blogspot.com/2015/06/kemitraan-dengan-china.html 
https://culas.blogspot.com/2015/06/kemitraan-dengan-china.html
Friday, June 26, 2015 *Kemitraan dengan China..?* 

 Minggu lalu tamu saya datang dari China.Mereka adalah buyer yang berniat 
membeli  kue yang diproduksi oleh pabrikan yang berlokasi di Bandung dan juga 
berniat menjajaki proyek kerjasama di Bandung. Mereka datang satu team sebanyak 
5 orang. Rencana kami berangkat dari hotel jam 7 pagi menuju Bandung.  Jam  
6.30 pagi saya  sudah di Hotel untuk menjemput mereka. Ketika saya datang 
mereka sedang sarapan pagi. Mereka sarapan cepat sekali.Sekedar mengisi perut. 
Jam 7 langsung berangkat sesuai jadwal. Dalam perjalanan kami  berhenti di rest 
area untuk bertemu dengan pihak pabrikan yang akan mengantar kami menuju 
pabrik. Selama di tempat area itu, sambil menunggu pihak pabrikan datang,mereka 
menolak untuk duduk  minum  kopi atau makan di restoran.Mereka tetap berdiri 
diluar restoran. Diantara mereka tidak ada yang berbicara.Mereka nampak focus 
dengan program hari ini untuk meninjau pabrik. Kemudian kami melanjutkan 
perjalanan ke Bandung. Sesampai di pabrik mereka nampak tampa lelah melakukan 
negosiasi untuk mendapatkan peluang membeli produk pabrikan dalam jumlah besar. 
Setelah usai negosiasi kami melanjutkan bertemu dengan walikota Bandung.  Teman 
saya yang mendampingi saya berkata tentang kesannya terhadap relasi saya itu “ 
mereka sangat disiplin dan focus. Sangat efisien dengan waktu dan focus untuk 
mencapai hasil”. 
 

 *Saya pernah bertemu dengan pemilik pabrikan minuman kemasan.Punya kesan 
tersendiri terhadap mitranya dari China.Dulu dia pernah beli mesin dari  
China.Sesuai kontrak bahwa kapasitas mesin itu sebesar katakanlah 100.000 
krat.Tapi nyatanya setelah mesin di instal hanya mencapai produksi 
setengahnya.Dia protes kepada penjual mesin di China.* 
 

 *Pihak china mendatangkan pekerja inti ke Pabrikan tersebut. Apa yang terjadi 
? mesin mampu bekerja dalam kapasitas sesuai spec dari mesin yaitu 100.000 krat 
perhari.*
 

 *Lantas dimana letak perbedaan dari tenaga china dengan karyawan pabriknya ? 
menurutnya tenaga kerja China bekerja dengan cepat dan efisien sekali. Ketika 
istirahat mereka tidak meninggalkan pos-nya. Mereka makan dari lunch box.Makan 
mereka cepat sekali dan setelah itu mereka mencuci lunch box tersebut dan 
menyimpannya di ransel. Kembali kerja dengan konsentrasi tinggi tanpa ada 
sedikitpun mereka bicara.Mereka sangat menguasai pekerjaannya.

 Artinya 1 orang China sama dengan 2 orang Indonesia. Bahkan di bidang 
kontruksi 1 orang china sama dengan 5 orang buruh Indonesia.* 
 

 Teman saya berusaha mendidik karyawannya untuk bekerja sesuai dengan etos 
kerja dari China namun tidak mudah.Karena budaya kita masih sulit menganggap 
bekerja itu bagian dari perjuangan akan masa depannya. Buruh Indonesia masih 
menganggap kerja sebagai cara mendapatkan makan , bukan tanggung jawab kepada 
perusahaan. Bahwa bila perusahaan untung maka mereka punya masa depan lebih 
baik.
 

 
https://1.bp.blogspot.com/-SzmWH4e1zTk/VYxLPZsGPwI/AAAAAAAAGb0/tUUJ1JIZXKA/s1600/China5.jpg
 Kini muncul berita begitu hebatnya tentang ketakutan pekerja China akan 
menyerbu datang ke Indonesia sehingga merebut kesempatan kerja orang Indonesia. 
Apalagi ada berita bahwa China akan mengirim 10 juta orang china datang ke 
Indonesia. Saya tidak tahu bagaimana berita ini diplesetkan seakan ada rencana 
besar aneksasi China terhadap Indonesia.  Ini jelas salah besar. Untuk 
diketahui bahwa Undang Undang China melarang rakyatnya menetap tetap di negeri 
orang.Adapun rencana 10 juta orang China akan masuk ke Indonesia , maka itu 
bukan tujuan menetap.itu adalah quota exit permits yang diberikan pemerintah 
China kepada setiap Negara tujuan kunjungan rakyat China. Ingat bahwa China 
masih menerapkan UU mengenai Exit Permits bagi warganya untuk keluar negeri. 
Adapun tujuan kunjungan itu dibatasi dibidang pendidikan, kebudayaan dan 
wisata. Bagaimana dengan banyak pekerja china masuk dalam proyek di Indonesia ? 
Itu karena projek tersebut berkaitan dengan B2B dimana pihak china tidak mau 
rugi. Mereka harus memastikan proyek tersebut dapat selesai sesuai jadwal 
sehingga dapat menghasilkan revenue untuk mengembalikan investasi.  Atau proyek 
itu berkaitan dengan skema inkind loan atau pinjaman diberikan dalam bentuk 
barang.Pihak China terpaksa menggunakan pekerjanya agar standard kualitas dan 
waktu pengerjaan dapat selesai sesuai kontrak. Jadi ini murni karena komitmen 
bisnis yang harus mereka selamatkan. 
 

 Untuk diketahui bahwa kebijakan internasional china dilarang memberikan 
pinjaman langsung atau dalam kuridor G2G yang berhubungan dengan Politik.China 
memastikan dirinya sebagai Negara yang melarang melakukan agenda 
internasionalisasi seperti Amerika dengan jargon demokratisasi. Komunisme China 
adalah idiologi tertutup yang dilarang dijual kemanapun. Makanya komunisme 
china berbeda dengan Negara lain. Kalaupun ada perjanjian G2G itu lebih kepada 
saling memahami kebijakan masing masing Negara. Bahwa China masuk ke suatu 
Negara selalu dalam kuridor B2B.Contoh bila China memberikan pinjaman maka yang 
melaksanakan itu adalah BUMN yang bekerja sesuai dengan SOP bisnis. Kalaupun 
mereka memberi pinjaman kepada Amerika maka itu yang melakukan adalah BUMN 
sepeti China Investment Corporation (CIC) untuk membeli surat utang ( Tbill ) 
Amerika melalui pasar uang terbuka.Menurut teman yang bekerja di bidang Private 
equity di Hong Kong , bahwa mengapa terjadi kampanye antipati terhadap China di 
Indonesia karena Indonesia terbiasa bekerja sama lewat skema hutang politik 
lewat G2G dengan Jepang, Amerika , Eropa dan ini berlangsung bertahun tahun 
sehingga menimbulkan hutang diatas Rp.3000 triliun tanpa menghasilkan hal yang 
signifikan terhadap pembangunan nasional karena budaya korup pejabat Negara 
serta elite politik yang bekerjasama dengan pengusaha culas.

 Upaya pemerintah menggandeng China bukan hanya era Jokowi tapi juga era SBY. 
Hanya saja era SBY tidak terjadi deal meluas karena era SBY lebih memilih skema 
Inkind loan melalui BUMN china dibidang investasi dan keuangan, dimana beban 
ada pada APBN. Namun di Era Jokowi skema yang ditawarkan atas dasar B2B murni.  
Antara BUMN china dengan BUMN Indonesia.Apapun resiko menjadi resiko business, 
bukan resiko politik. Tidak akan menganggu posisi APBN. Kapanpun pemerintah 
sebagai regulator bisa menguasai proyek tersebut bila peraturan yang diatur 
oleh UU dilanggar. . Kita sudah menjalin kerjasama dengan Amerika sejak era 
Soeharto dan hasilnya 90% sumber Migas dikuasai Amerika. Kita sudah kerjasama 
dengan Jepang sejak era Soeharto dan kini 90% kendaraan yang ada dijalanan 
buatan jepang dan kita belum juga mandiri.Kenapa ? karena kita terjebak dengan 
budaya berhutang dan terima jadi tanpa mau bekerja keras menjadi bangsa 
produsen. Jadi daripada kita mengutuki sesuatu karena dasar paranoid mengapa 
kita tidak meniru budaya kerja keras dan disiplin bangsa china lewat kemitraan 
atas dasar B2B..Agar kelak kita bisa menjadi tuan dinegeri ini.Yakinlah bangsa 
ini tidak akan besar karena retorika dan sikap paranoid. Bangsa ini besar 
karena sikap terbuka melihat kebenaran darimanapun sumbernya dan mendapatkan 
hikmat atas setiap peluang kemitraan global untuk menjadi lebih baik..














 


Kirim email ke