----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'j.gedearka' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: 
"[email protected]" <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Selasa, 2 Juli 2019 19.58.21 GMT+2Judul: 
[nasional-list] Trump, Iran, dan Tucker Carlson
     
 


 
 
https://news.detik.com/kolom/d-4608517/trump-iran-dan-tucker-carlson?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.19838520.1636321399.1562089413-176512562.1562089413
 
  Selasa 02 Juli 2019, 15:30 WIB 
Kolom
 
Trump, Iran, dan Tucker Carlson
 PLE Priatna - detikNews          PLE Priatna      Share 0    Tweet     Share 0 
   2 komentar      Foto: BBC World  Jakarta - Tucker Carlson, presenter dan 
wartawan senior TV Foxnews itu, ternyata adalah orang yang menginspirasi 
Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan serangan militer ke Iran. Namun 
sepotong cerita dahsyat Carlson yang wow it, nyaris terlupakan hilang tergilas 
pemberitaan lain seminggu terakhir ini. 
 
 Apa yang telah dilakukan Tucker Swanson McNear Carlson ini?
 
 Bukan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres. Bukan Presiden 
Iran Rouhani. Bukan PM Jepang Shinzo Abe yang awal Mei mengunjungi Iran. Bukan 
resolusi Dewan Keamanan PBB. Bukan Menlu AS Mike Pompeo ataupun John Bolton, 
Ketua Dewan Penasihat Keamanan Nasional AS dan para jenderal di Pentagon yang 
bisa memaksa Presiden Trump pada menit bersejarah untuk mengurungkan niat 
menyerang Iran. 
 
   Tapi, seorang Tucker Carlson, presenter Foxnews dengan kalimat pendek yang 
tajam dan narasi sederhana bisa membuat Trump kembali ragu dan mengurungkan 
niat menjatuhkan bom ke Iran. Demikian ujar The Dailybeast (20/6/19).
 
 Tayangan Foxnews Tucker Carlson Tonight bertajuk US came within minutes of a 
huge mistake 10 menit menjelang bom dijatuhkan pesawat AS menjadi pemicu besar 
keraguan yang berhasil membelokkan keputusan tidak menyerang Iran. 
 
 Carlson, menurut Dailybeast, tidak lama sebelumnya dengan akses pribadi yang 
dimiliki berkomunikasi soal Iran dengan Presiden Trump. Termasuk, Carlson 
membisikkan bahwa tindakan gegabah menyerang Iran bisa berakibat fatal, yang 
tidak saja akan mengakhiri karier Trump, namun bahkan bisa menggagalkannya 
terpilih kembali menjadi Presiden AS 2020. 
 
 Presiden Trump akhirnya membatalkan serangan militer AS di tengah provokasi 
AS-Iran yang terus memanas. Saling tarik menarik dengan kuatnya desakan 
kelompok kepentingan di birokrasi AS yang tidak saja ingin berperang, lebih 
dari itu bermaksud menggulingkan Pemerintah Iran.
 
 Trump sepertinya mendengar saran Carlson untuk menghentikan rencana menyerang 
Iran. 
 
 Carlson dengan kata lugas melontar banyak fakta agar pemirsa berpikir dua kali 
bahwa AS jangan membuat risiko besar dengan kebijakan yang lagi-lagi keliru. 
Trump sadar bahwa John Bolton, Mike Pompeo, dan jenderal di Pentagon tak sabar 
lagi untuk menyerang Iran. 
 
 "Orang-orang ini mendesak saya untuk terus berperang dan itu sangat 
menjijikkan. Kita tidak membutuhkan peperangan lagi," kata Presiden Trump 
menepis para penasihatnya seperti dikutip The Wall Street Journal (23/6/19).
 
 Sungguh tidak proporsional dan buruk bila AS menyerang dan menimbulkan korban 
jiwa 150 orang tewas, sementara Iran hanya menembak drone yang tidak berawak. 
Demikian jawaban menarik yang menjadi alasan Presiden Trump mengurungkan 
rencana. 
 
 Seratus lima puluh jiwa adalah angka yang amat berarti. Tidak saja bagi Iran, 
keluarga yang tewas, eskalasi pembalasan, maupun dampak politiknya bagi 
kampanye Trump 2020. 
 
 Keputusan Trump pada saat yang tepat itu, menurut Carlson, membuktikan bahwa 
Trump punya nurani untuk berseberangan dengan para neocon yang bergaris keras, 
ala Mike Pompeo, John Bolton, ataupun Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph 
Dunford di Pentagon. 
 
 Presiden Trump memberi tempat tersendiri bagi kepiawaian jurnalistik ala 
Carlson guna mengolah pandangan berbeda dengan argumentasi kritis melawan kubu 
mereka sekali pun.
 
 Tak terbendung, nama Tucker Carlson pun melejit menghebohkan komunitas 
wartawan dan kalangan pejabat Kementerian Luar Negeri dan Kementerian 
Pertahanan AS. Wartawan Spectator USA Freddy Grey dan pengacara warga Florida 
Christopher Roach tak sabar mengusulkan agar Carlson, pendorong perdamaian ini, 
mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. 
 
 Perjuangan Carlson hanya bermodal kata dan kalimat tidak saja berhasil 
meyakinkan Presiden Trump agar tidak menyerang Iran secara militer. Lebih dari 
itu, ia bisa menembus benteng kepentingan dalam birokrasi AS, dan akhirnya 
berhasil mengubah kebijakan Presiden Trump. Luar biasa!
 
 PLE Priatna alumnus FISIP UI dan Monash University
 
 
 
(mmu/mmu)
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
    

Kirim email ke