Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Obituari - "Sang Penyampai Informasi Bencana" telah berpulang
Minggu, 7 Juli 2019 07:58 WIB
Obituari - "Sang Penyampai Informasi Bencana" telah berpulang
Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo
Nugroho pada konferensi pers terkait penanganan bencana di Jakarta,
Jumat (29/3/2019) (ANTARA/Desi Purnamawati)
Jakarta (ANTARA) - "Hari ini saya ke Guangzhou untuk berobat dari kanker
paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain.
Kondisinya sangat menyakitkan sekali," tulis Kepala Pusat Data,
Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) Sutopo Purwo Nugroho terakhir kali di Instagramnya.
Unggahan di Instagram pada tanggal 15 Juni 2019 itu menampilkan video
situasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta ketika Sutopo hendak
berangkat ke Guangzhou, China.
Dalam video itu, Sutopo mengatakan dia berangkat berobat ke Guangzhou
karena penyakit kanker sudah menggerogoti tubuhnya.
"Saya mohon doa restu pada rekan2 bisa sembuh dari sakit kanker ini.
Bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-teman," kata Sutopo
dalam video tersebut.
Dalam tulisan unggahan tersebut, Sutopo mengatakan dia direncanakan
berada di Guangzhou selama satu bulan sekaligus meminta maaf tidak bisa
menyampaikan informasi tentang bencana dengan cepat.
Namun, takdir Illahi berkata lain. Minggu sekitar pukul 02.00 waktu
Guangzhou atau 01.00 WIB, Sutopo meninggal dunia di Rumah Sakit Kanker
Modern St Stamford, Guangzhou pada usia 49 tahun.
Kabar duka tersebut pertama kali diunggah anaknya yang bernama Ivanka
Rizaldy melalui akun Instagramnya dengan menampilkan foto keluarga.
"Malam ini telah berpulang ke Rahmatullah seorang pahlawan dan ayahanda
tercinta saya, Sutopo Purwo Nugroho saat menjalani pengobatan di
Guangzhou, China," tulis Ivan.
Kebenaran berita itu juga dikabarkan oleh tim Hubungan Masyarakat BNPB
melalui pesan tertulis yang disebarkan melalui perpesanan sekejap WhatsApp.
"Kami, kita, semua merasa kehilangan Pak Sutopo. Sosok yang terdepan dan
gigih dalam menyampaikan informasi bencana di Indonesia," bunyi salah
satu bagian dari pesan tersebut.
*Nikmati Hidup*
"Sakit, sehat, hidup, mati, itu adalah bagian dari kehidupan. Semua
sudah diatur, saya nikmati saja. Yang penting saya ikhtiar," kata Sutopo
saat diwawancarai seusai jumpa pers pada 26 Februari 2018.
Wawancara tersebut dilakukan tidak lama setelah Sutopo mengumumkan
kanker paru stadium IVB yang dia idap melalui media sosial. Dia divonis
mengidap kanker pada 17 Januari 2018.
Untuk menyampaikan informasi-informasi kebencanaan, Sutopo memang aktif
menggunakan berbagai media, termasuk media sosial. Dia juga mengabarkan
penyakitnya tersebut melalui media sosial.
Sutopo mengatakan kenyataan sebagai salah satu pengidap kanker itu
sempat membuatnya terguncang. Pasalnya, dia merasa selama ini sudah
menerapkan hidup sehat dengan makan makanan yang sehat dan tidak merokok.
"Saya syok, tetapi tidak sampai menangis. Istri dan anak saya yang
menangis. Mungkin ini memang teguran dari Tuhan. Saya ikhlas," tuturnya.
Di tengah vonis dokter terhadap penyakit yang diidapnya, Sutopo sempat
berpikir untuk mengurangi aktivitasnya melayani wartawan. Namun, dia
berpikir masyarakat dan wartawan masih memerlukan dia.
"Saat saya tidak ada, kejadian bencana tidak diberitakan oleh media.
Kalau pun ada, pernyataan dari pejabat berwenang sangat normatif," katanya.
Akhirnya dia memutuskan untuk tetap aktif bekerja meskipun sudah
disibukkan dengan pengobatan yang harus dijalani. Dia menganggap
pekerjaannya melayani wartawan sebagai bagian dari ibadah.
Karena itu, di saat dia sedang menjalani terapi atau pengobatan, dia
tetap mengumpulkan data dan membuat siaran pers ketika terjadi bencana.
Di tengah tubuhnya yang didera rasa sakit, Sutopo tetap mengadakan jumpa
pers untuk memberikan informasi terkini tentang penanganan bencana yang
sedang dilakukan.
Hal itu juga dikatakan Tim Humas BNPB dalam pesan tertulis saat
mengabarkan kematian Sutopo.
Sutopo digambarkan terus gigih dalam melakukan upaya pengobatan maupun
dalam menginformasikan berbagai kejadian bencana yang terjadi di
Indonesia selama 2018 hingga pertengahan 2019.
"Bahkan beliau masih sempat melakukan konferensi pers secara
berkesinambungan pada saat terjadi bencana gempa bumi Lombok dan gempa
bumi Palu di tengah rasa sakit yang menderanya," bunyi salah satu bagian
pesan itu.
*Idolakan Raisa*
Sutopo diketahui sebagai penggemar penyanyi Raisa Andriana. Hal itu
kerap diungkapkannya melalui media sosial, maupun ketika menggelar jumpa
pers bersama wartawan. Dia bahkan tidak segan-segan menyanyikan
bait-bait lagu Raisa saat sedang jumpa pers.
Pada salah satu kesempatan, Sutopo sempat mengatakan dia memang kerap
menyebut akun Raisa ketika sedang menginformasikan bencana karena
penyanyi istri Hamish Daud itu memiliki banyak pengikut.
Selain karena mengidolakan sang penyanyi, hal itu dilakukan agar
informasi bencana semakin banyak diterima masyarakat, terutama para
pengikut Raisa di Twitter.
Hal itu akhirnya memicu interaksi antara Sutopo dengan Raisa lebih
lanjut di media sosial. Bahkan, Raisa pun sempat diwawancarai khusus
oleh wartawan tentang figur Sutopo.
Melihat "kedekatan" Sutopo dengan Raisa, warganet akhirnya berupaya
mempertemukan mereka melalui tagar #RaisaMeetSutopo.
"Perjumpaan" Sutopo dengan Raisa pertama kali terjadi melalui panggilan
video setelah salah satu jumpa pers yang diadakan di BNPB.
"Cieeee..." wartawan riuh menggoda Sutopo yang tersenyum ketika
berbincang dengan Raisa.
"Waalaikumsalam, sehat.. saya baru konferensi pers, wartawan banyak
sekali," kata Sutopo kepada Raisa.
Sutopo sesekali tertawa saat melakukan panggilan video dengan Raisa. Dia
sempat meminjam "earphone" agar bisa mendengar suara Raisa lebih jelas.
Namun akhirnya dilepas lagi karena para wartawan ingin turut mendengar
percakapan antara keduanya.
"Makasih, Mbak. Ini menjadi kenangan terindah buatku," kata Sutopo
sambil becanda dengan mengutip salah satu judul lagu Raisa.
Kepada wartawan, Sutopo menyatakan keinginannya untuk menjadikan Raisa
sebagai duta bencana.
"Kalau Raisa yang menyampaikan informasi tentang bencana, pasti akan
lebih dipercaya daripada saya," katanya.
Keinginan Sutopo bertemu langsung akhirnya diwujudkan oleh salah satu
media nasional. Keduanya bertemu di kawasan Pasar Minggu, saat Sutopo
melangsungkan wawancara khusus dan Raisa sedang melakukan peluncuran
album barunya.
"Tentu saya senang bertemu Raisa. Saya sampai lupa kalau saya sakit
kanker paru stadium 4b. Tapi setelah Raisa pulang, sakit itu kambuh
lagi," katanya berkelakar.
Meskipun hanya singkat bertemu, Raisa sempat menyampaikan pesan kepada
Sutopo.
"Jaga kesehatan ya, Bapak. Tetaplah menjadi inspirasi buat kita semua,"
ujarnya.
Sutopo pun membalas pesan itu, tidak lupa dengan mengutip salah satu
bait lagu Raisa.
"Tetap semangat Mbak Raisa. Jaga kesehatan. Semoga tetap sukses meniti
karier dan rumah tangga. Tanpamu langit tak berbintang. Tanpamu hampa
yang kurasa," katanya.
*Kelahiran Boyolali*
Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah pada 7 Oktober 1969. Dia menempuh
kuliahnya di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta sebelum bekerja di
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Dia memperoleh gelar S-1 Geografi di Universitas Gadjah Mada pada 1993,
dan menjadi lulusan terbaik. Sutopo memperoleh gelar S-2 dan S-3 bidang
hidrologi di Institut Pertanian Bogor.
Sebelum menjadi Kepada Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat
BNPB, Sutopo sudah dikenal sebagai pakar hidrologi.
Sutopo mulai bekerja penuh di BNPB pada 2010, awalnya di Direktorat
Pengurangan Risiko Bencana. Karena aktif memberitakan bencana di media
sosial ketika sedang berlangsung, The Straits Times menyebutnya sebagai
"pejabat Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama
bencana berlangsung".
Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih dan mereka dikaruniai
empat anak.
"Sang Penyampai Informasi Bencana" itu telah berpulang. Seluruh bangsa
Indonesia tentu merasakan kehilangan.
"Jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Sekaligus saya dimaafkan atas
kesalahan dan dosa," tulis Sutopo di salah satu bagian unggahan
terakhirnya di Instagram.
Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Zita Meirina
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com