----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ChanCT [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 7 Juli 2019 04.41.18 GMT+2Judul: 
[GELORA45] Obituari - "Sang Penyampai Informasi Bencana" telah berpulang
     
 
Jakarta (ANTARA) - "Hari ini saya ke Guangzhou untuk berobat dari kanker paru 
yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain. Kondisinya sangat 
menyakitkan sekali,"  tulis Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan 
Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho 
terakhir kali di Instagramnya.
 
 Unggahan di Instagram pada tanggal 15 Juni 2019 itu menampilkan video situasi 
Bandara Internasional Soekarno-Hatta ketika Sutopo hendak berangkat ke 
Guangzhou, China.
 
 Dalam video itu, Sutopo mengatakan dia berangkat berobat ke Guangzhou karena 
penyakit kanker sudah menggerogoti tubuhnya.
 
 "Saya mohon doa restu pada rekan2 bisa sembuh dari sakit kanker ini. Bisa 
berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-teman," kata Sutopo dalam video 
tersebut.
 
 Dalam tulisan unggahan tersebut, Sutopo mengatakan dia direncanakan berada di 
Guangzhou selama satu bulan sekaligus meminta maaf tidak bisa menyampaikan 
informasi tentang bencana dengan cepat.
 
 Namun, takdir Illahi berkata lain. Minggu sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou 
atau 01.00 WIB, Sutopo meninggal dunia di Rumah Sakit Kanker Modern St 
Stamford, Guangzhou pada usia 49 tahun.
 
 Kabar duka tersebut pertama kali diunggah anaknya yang bernama Ivanka Rizaldy 
melalui akun Instagramnya dengan menampilkan foto keluarga.
 
 "Malam ini telah berpulang ke Rahmatullah seorang pahlawan dan ayahanda 
tercinta saya, Sutopo Purwo Nugroho saat menjalani pengobatan di Guangzhou, 
China," tulis Ivan.
 
 Kebenaran berita itu juga dikabarkan oleh tim Hubungan Masyarakat BNPB melalui 
pesan tertulis yang disebarkan melalui perpesanan sekejap WhatsApp.
 
 "Kami, kita, semua merasa kehilangan Pak Sutopo. Sosok yang terdepan dan gigih 
dalam menyampaikan informasi bencana di Indonesia," bunyi salah satu bagian 
dari pesan tersebut.
 
 Nikmati Hidup
 
 "Sakit, sehat, hidup, mati, itu adalah bagian dari kehidupan. Semua sudah 
diatur, saya nikmati saja. Yang penting saya ikhtiar," kata Sutopo saat 
diwawancarai seusai jumpa pers pada 26 Februari 2018.
 
 Wawancara tersebut dilakukan tidak lama setelah Sutopo mengumumkan kanker paru 
stadium IVB yang dia idap melalui media sosial. Dia divonis mengidap kanker 
pada 17 Januari 2018.
 
 Untuk menyampaikan informasi-informasi kebencanaan, Sutopo memang aktif 
menggunakan berbagai media, termasuk media sosial. Dia juga mengabarkan 
penyakitnya tersebut melalui media sosial.
 
 Sutopo mengatakan kenyataan sebagai salah satu pengidap kanker itu sempat 
membuatnya terguncang. Pasalnya, dia merasa selama ini sudah menerapkan hidup 
sehat dengan makan makanan yang sehat dan tidak merokok.
 
 "Saya syok, tetapi tidak sampai menangis. Istri dan anak saya yang menangis. 
Mungkin ini memang teguran dari Tuhan. Saya ikhlas," tuturnya.
 
 Di tengah vonis dokter terhadap penyakit yang diidapnya, Sutopo sempat 
berpikir untuk mengurangi aktivitasnya melayani wartawan. Namun, dia berpikir 
masyarakat dan wartawan masih memerlukan dia.
 
 "Saat saya tidak ada, kejadian bencana tidak diberitakan oleh media. Kalau pun 
ada, pernyataan dari pejabat berwenang sangat normatif," katanya.
 
 Akhirnya dia memutuskan untuk tetap aktif bekerja meskipun sudah disibukkan 
dengan pengobatan yang harus dijalani. Dia menganggap pekerjaannya melayani 
wartawan sebagai bagian dari ibadah.
 
 Karena itu, di saat dia sedang menjalani terapi atau pengobatan, dia tetap 
mengumpulkan data dan membuat siaran pers ketika terjadi bencana.
 
 Di tengah tubuhnya yang didera rasa sakit, Sutopo tetap mengadakan jumpa pers 
untuk memberikan informasi terkini tentang penanganan bencana yang sedang 
dilakukan.
 
 Hal itu juga dikatakan Tim Humas BNPB dalam pesan tertulis saat mengabarkan 
kematian Sutopo.
 
 Sutopo digambarkan terus gigih dalam melakukan upaya pengobatan maupun dalam 
menginformasikan berbagai kejadian bencana yang terjadi di Indonesia selama 
2018 hingga pertengahan 2019.
 
 "Bahkan beliau masih sempat melakukan konferensi pers secara berkesinambungan 
pada saat terjadi bencana gempa bumi Lombok dan gempa bumi Palu di tengah rasa 
sakit yang menderanya," bunyi salah satu bagian pesan itu.
 
 Idolakan Raisa
 
 Sutopo diketahui sebagai penggemar penyanyi Raisa Andriana. Hal itu kerap 
diungkapkannya melalui media sosial, maupun ketika menggelar jumpa pers bersama 
wartawan. Dia bahkan tidak segan-segan menyanyikan bait-bait lagu Raisa saat 
sedang jumpa pers.
 
 Pada salah satu kesempatan, Sutopo sempat mengatakan dia memang kerap menyebut 
akun Raisa ketika sedang menginformasikan bencana karena penyanyi istri Hamish 
Daud itu memiliki banyak pengikut.
 
 Selain karena mengidolakan sang penyanyi, hal itu dilakukan agar informasi 
bencana semakin banyak diterima masyarakat, terutama para pengikut Raisa di 
Twitter.
 
 Hal itu akhirnya memicu interaksi antara Sutopo dengan Raisa lebih lanjut di 
media sosial. Bahkan, Raisa pun sempat diwawancarai khusus oleh wartawan 
tentang figur Sutopo.
 
 Melihat "kedekatan" Sutopo dengan Raisa, warganet akhirnya berupaya 
mempertemukan mereka melalui tagar #RaisaMeetSutopo.
 
 "Perjumpaan" Sutopo dengan Raisa pertama kali terjadi melalui panggilan video 
setelah salah satu jumpa pers yang diadakan di BNPB.
 
 "Cieeee..." wartawan riuh menggoda Sutopo yang tersenyum ketika berbincang 
dengan Raisa.
 
 "Waalaikumsalam, sehat.. saya baru konferensi pers, wartawan banyak sekali," 
kata Sutopo kepada Raisa.
 
 Sutopo sesekali tertawa saat melakukan panggilan video dengan Raisa. Dia 
sempat meminjam "earphone" agar bisa mendengar suara Raisa lebih jelas. Namun 
akhirnya dilepas lagi karena para wartawan ingin turut mendengar percakapan 
antara keduanya.
 
 "Makasih, Mbak. Ini menjadi kenangan terindah buatku," kata Sutopo sambil 
becanda dengan mengutip salah satu judul lagu Raisa.
 
 Kepada wartawan, Sutopo menyatakan keinginannya untuk menjadikan Raisa sebagai 
duta bencana.
 
 "Kalau Raisa yang menyampaikan informasi tentang bencana, pasti akan lebih 
dipercaya daripada saya," katanya.
 
 Keinginan Sutopo bertemu langsung akhirnya diwujudkan oleh salah satu media 
nasional. Keduanya bertemu di kawasan Pasar Minggu, saat Sutopo melangsungkan 
wawancara khusus dan Raisa sedang melakukan peluncuran album barunya.
 
 "Tentu saya senang bertemu Raisa. Saya sampai lupa kalau saya sakit kanker 
paru stadium 4b. Tapi setelah Raisa pulang, sakit itu kambuh lagi," katanya 
berkelakar.
 
 Meskipun hanya singkat bertemu, Raisa sempat menyampaikan pesan kepada Sutopo.
 
 "Jaga kesehatan ya, Bapak. Tetaplah menjadi inspirasi buat kita semua," 
ujarnya.
 
 Sutopo pun membalas pesan itu, tidak lupa dengan mengutip salah satu bait lagu 
Raisa.
 
 "Tetap semangat Mbak Raisa. Jaga kesehatan. Semoga tetap sukses meniti karier 
dan rumah tangga. Tanpamu langit tak berbintang. Tanpamu hampa yang kurasa," 
katanya.
 
 Kelahiran Boyolali
 
 Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah pada 7 Oktober 1969. Dia menempuh 
kuliahnya di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta sebelum bekerja di Badan 
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
 
 Dia memperoleh gelar S-1 Geografi di Universitas Gadjah Mada pada 1993, dan 
menjadi lulusan terbaik. Sutopo memperoleh gelar S-2 dan S-3 bidang hidrologi 
di Institut Pertanian Bogor.
 
 Sebelum menjadi Kepada Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, 
Sutopo sudah dikenal sebagai pakar hidrologi.
 
 Sutopo mulai bekerja penuh di BNPB pada 2010, awalnya di Direktorat 
Pengurangan Risiko Bencana. Karena aktif memberitakan bencana di media sosial 
ketika sedang berlangsung, The Straits Times menyebutnya sebagai "pejabat 
Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama bencana berlangsung".
 
 Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih dan mereka dikaruniai empat 
anak.
 
 "Sang Penyampai Informasi Bencana" itu telah berpulang. Seluruh bangsa 
Indonesia tentu merasakan kehilangan.
 
 "Jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Sekaligus saya dimaafkan atas kesalahan 
dan dosa," tulis Sutopo di salah satu bagian unggahan terakhirnya di Instagram. 
 
Pewarta: Dewanto Samodro
 Editor: Zita Meirina
  
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

     

Kirim email ke