*Wiranto bilang sudah diketahui pelaku 21-22 , jadi paling tidak sudah
diketahui jenis senjata yang dipakai oleh pelaku, atau tetap menjadi
teka-teki sejarah?*


*W*


*https://fokus.tempo.co/read/1222257/teka-teki-senjata-pembunuh-di-kerusuhan-21-22-mei/full&view=ok
<https://fokus.tempo.co/read/1222257/teka-teki-senjata-pembunuh-di-kerusuhan-21-22-mei/full&view=ok>
*



*Teka-teki Senjata Pembunuh di Kerusuhan 21-22 Mei Teka-teki Senjata
Pembunuh di Kerusuhan 21-22 Mei*

Reporter:
*Andita Rahma*

Editor:
*Juli Hantoro*

Senin, 8 Juli 2019 11:28 WIB

0 KOMENTAR
<https://fokus.tempo.co/read/1222257/teka-teki-senjata-pembunuh-di-kerusuhan-21-22-mei/full&view=ok#comments>

000
[image: Sejumlah orang melempari polisi dalam kerusuhan 22 Mei di kawasan
Petamburan, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019. Massa perusuh sempat membakar
25 mobil di depan Asrama Brimob Petamburan. TEMPO/Amston Probel]
<https://statik.tempo.co/data/2019/05/22/id_843804/843804_720.jpg>

*Sejumlah orang melempari polisi dalam kerusuhan 22 Mei di kawasan
Petamburan, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019. Massa perusuh sempat membakar
25 mobil di depan Asrama Brimob Petamburan. TEMPO/Amston Probel*

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Kerusuhan 21-22 Mei
<https://www.tempo.co/tag/kerusuhan-21-22-mei> 2019 masih menyisakan tanya.
Siapa pembunuh 9 orang yang tewas dalam kerusuhan tersebut? Dalam
konferensi pers yang digelar pekan lalu, Polri tak sampai menyebut siapa
pembunuh mereka. Bahkan untuk jenis senjata yang menewaskan 9 orang itu,
Polri belum mengungkapkan secara pasti.

Baca juga: Komnas HAM Desak Polri Ungkap Aktor Intelektual Aksi 22 Mei
<https://nasional.tempo.co/read/1221725/komnas-ham-desak-polri-ungkap-aktor-intelektual-aksi-22-mei>

Padahal polisi telah selesai melakukan uji balistik terhadap dua proyektil
yang bersarang di tubuh Harun Al Rasyid (15) dan Abdul Azis (28).

Harun dan Abdul merupakan dua dari sembilan warga sipil yang tewas dalam
kerusuhan 21-22 Mei. Harun diketahui tewas tertembak di jalan layang Slipi,
Jakarta Barat. Sementara Abdul, ditemukan meninggal di kawasan Petamburan,
Jakarta Barat.


Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi
Prasetyo berkali-kali mengatakan, pihaknya terkendala mengungkap jenis
senjata karena proyektil yang ditemukan dalam kondisi pecah.

Pada Juni 2019, polisi mengumumkan kemajuan dalam mengidentifikasi jenis
peluru. Hasil uji balistik Pusat Laboratorium Forensik Polri menunjukkan
peluru berkaliber 9x17 milimeter bersarang di tubuh Harun. “Yang kaliber
9mm itu tingkat kerusakan proyektil cukup parah karena pecah sehingga untuk
menguji alur senjata ada sedikit kendala,” kata Dedi. Saat pertama kali
mengumumkan jenis proyektil, polisi hanya menyebut ukuran kaliber saja.

Belakangan diketahui, karakteristik peluru yang menewaskan Harun memiliki
poligional dan alur enam kanan. Dalam pengembangan terbaru, Dedi menyebut
Harun ditembak dari jarak 11 meter sebelah kanan. Sementara polisi berada
di depan dengan jarak 100 meter.

Jenis peluru itu cocok dengan lokasi luka tembak di tubuh Harun, yakni
peluru masuk ke pangkal lengan atas kiri luar, yang menembus celah dada
kanan arah mendatar, dan bersarang di otot ketiak kanan.

Karateristik proyektil ini identik dengan Glock 42, pistol semiotomatis
buatan Austria. Sumber Tempo menyebut, Glock 42 digunakan oleh perwira di
kepolisian. Pengamat militer dari Institute For Security and Strategic
Studies (ISESS), Khairul Fahmi, pun mengatakan Glock 42 digunakan oleh
Kopassus, Paskhas, Brimob, dan Densus 88.

“Setahu saya, Glock 42 digunakan oleh mereka,” ucap Fahmi saat dihubungi
pada 5 Juli 2019.

Dikonfirmasi terpisah, Dedi mengatakan pihaknya tidak menggunakan Glock 42.
Polri hanya menggunakan Glock 17 dan Glock 19. "Itu standar yang dipakai
oleh kepolisian seluruh anggota, yang resmi ya," kata dia.

Sementara di dada Abdul Azis, korban lainnya yang diotopsi, ditemukan
proyektil 5,56x45 milimeter dan alur 4 kanan. Ia diduga ditembak dari arah
belakang. Peluru tersebut masuk menembus punggung kiri di bawah belikat
Abdul, dan kemudian merobek jantungnya, bersarang di tulang dada.

Ada dua senjata yang identik dengan peluru tersebut, yakni AK-101 produksi
Rusia dan Olympic Arms. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan,
Olympic Arms bukanlah tipe senjata yang digunakan oleh aparat keamanan
Indonesia.

Sedangkan untuk AK-101, menurut Fahmi, merupakan senjata yang memang
dipakai polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). "Meski sudah
menggunakan SS1, tapi AK-101 masih digunakan. Kalau AK47 masih digunakan
oleh TNI," ucap Fahmi. Namun, belakangan senjata AK-101 perlahan digantikan
oleh seri SS1 atau senapan serbu 1 yang diproduksi oleh PT Pindad.

AK-101 sendiri merupakan turunan dari AK47, tetapi AK-101 justru lebih
dekat dengan AK74 karena memakai kaliber yang sama yakni 5,56x45 milimeter.
Sekitar 2003-2004, AK-101 pernah digunakan oleh pasukan Brimob dalam
operasi melawan GAM di Aceh. Saat itu, 3000 AK-101 didatangkan ke
Indonesia. Harganya pun relatif murah hanya US$436 per pucuknya.

Namun, Dedi mengatakan bahwa senjata AK-101 buatan Rusia sudah lama tidak
digunakan. Saat ini, polisi menggunakan AK buatan Polandia dan Cina. “AK
Rusia masih ada yang pakai tapi kan pengadaan lama. Kalau pengadaan baru
itu yang buatan Polandia dan Cina,” ucap dia.

Lebih lanjut, kedua peluru tersebut, 5,56x45 milimeter dan 9x17 milimeter,
dikatakan Dedi meski merupakan standar militer, tapi bisa dipakai oleh
semua orang. Ia mengatakan, peluru tersebut beredar bebas di pasar gelap.

Mundur sebelum kerusuhan 21-22 Mei, polisi memang menangkap beberapa orang
karena dugaan kepemilikan senjata ilegal. Kepala Kepolisian RI Jenderal
Tito Karnavian menunjukkan senapan laras panjang yang diduga akan dipakai
untuk membuat rusuh aksi 22 Mei 2019. Senjata yang ia tunjukkan adalah
senapan laras panjang tipe M4.

"Ini senapan panjang jenis M4," kata Tito di kantor Kementerian Koordinator
Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019. Dia mengucapkan hal
itu sambil menunjukan senapan serbu standar militer Amerika Serikat itu.

ADVERTISEMENT

Senapan serbu yang ditunjukkan Tito dilengkapi dengan peredam suara.
Senapan itu juga tak memiliki pisir, sehingga dapat dipasangi teleskop.
Walhasil, senjata itu dapat berfungsi sebagai senapan runduk alias sniper
yang tidak menimbulkan suara bising bila ditembakkan.

Baca juga: Polri Belum Temukan Aktor Intelektual Kerusuhan 21-22 Mei
<https://nasional.tempo.co/read/1221118/polri-belum-temukan-aktor-intelektual-kerusuhan-21-22-mei>

Polri pun juga menyita setidaknya dua pucuk pistol dan 60 amunisi. Menurut
pengakuan pelaku, senjata itu juga akan digunakan pada 22 Mei. Kelompok
ini, kata dia, juga berencana menciptakan tumbal untuk membuat publik marah
terhadap aparat. "Kami mendapat informasi masih ada senjata lain yang
beredar," kata Tito.

Di sisi lain, dalam pengembangan terbaru penyelidikan, polisi mengklaim
telah mengantongi ciri-ciri pelaku penembak Harun, Abdul, dan tujuh korban
lainnya. Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya
Komisaris Besar Suyudi Ario Seto menyebut, terduga pelaku penembakan
berambut gondrong dengan perawakan ramping. Pria tersebut memiliki tinggi
175 sentimeter dan bertangan kidal.

Ciri-ciri tersebut juga diperkuat dari analisis face recognition dari 704
visual. Terdiri atas 60 rekaman closed circuit television (CCTV), 480 video
amatir, 93 foto amatir, 44 media massa, dan 27 dari media sosial. "Karena
(lokasi) arahnya miring, kemudian arahnya (dari lintasan peluru) lurus
mendarat, karena posisinya ada trotoar agak tinggi, jadi diduga pelaku ini
juga agak tinggi," kata Suyudi.

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Choirul Anam pun
mendesak polisi agar segera mengungkap pelaku penembakan dalam kerusuhan
21-22 Mei.
<https://nasional.tempo.co/read/1221992/komnas-ham-buka-hasil-investigasi-kerusuhan-22-mei-akhir-juli/full&view=ok>
Desakan
tersebut diutarakan Anam setelah Polri merilis hasil investigasi pada 5
Juli 2019. "Jadi tugas berikutnya adalah pengungkapan yang lebih terang
peristiwa ini, termasuk mengungkap siapa pelaku lapangan dan pelaku
intelektualnya," ujar Anam melalui pesan teks, Sabtu, 6 Juli 2019.

Kirim email ke