SUDAAAAH diketahui, tapi, .... karena dibalik pelaku/penembak ada orang
kuat dan kelompok Agama tertentu, dan untuk "Kedamaian dan PERSATUAN"
lebih baik ditutup dan dikubur dalam-dalam! Nampaknya akan tetap menjadi
TEKA-TEKI sejarah dan, ... setiap saat akan muncul kembali makan KORBAN
BARU! Apaboleh buat, yang namanya kekuatan RAKYAT masih lemah, dan masih
saja BELUM berkemampuan tegak berdiri menentukan NASIB nya sendiri, ...
Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 於 9/7/2019 2:27 寫道:
*Wiranto bilang sudah diketahui pelaku 21-22 , jadi paling tidak sudah
diketahui jenis senjata yang dipakai oleh pelaku, atau tetap menjadi
teka-teki sejarah?*
*
*
*W*
*https://fokus.tempo.co/read/1222257/teka-teki-senjata-pembunuh-di-kerusuhan-21-22-mei/full&view=ok
*
*Teka-teki Senjata Pembunuh di Kerusuhan 21-22 Mei
Teka-teki Senjata Pembunuh di Kerusuhan 21-22 Mei*
Reporter:
*Andita Rahma*
Editor:
*Juli Hantoro*
Senin, 8 Juli 2019 11:28 WIB
0KOMENTAR
<https://fokus.tempo.co/read/1222257/teka-teki-senjata-pembunuh-di-kerusuhan-21-22-mei/full&view=ok#comments>
000
Sejumlah orang melempari polisi dalam kerusuhan 22 Mei di kawasan
Petamburan, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019. Massa perusuh sempat
membakar 25 mobil di depan Asrama Brimob Petamburan. TEMPO/Amston
Probel <https://statik.tempo.co/data/2019/05/22/id_843804/843804_720.jpg>
/Sejumlah orang melempari polisi dalam kerusuhan 22 Mei di kawasan
Petamburan, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019. Massa perusuh sempat
membakar 25 mobil di depan Asrama Brimob Petamburan. TEMPO/Amston Probel/
**TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>**, **Jakarta** - Kerusuhan 21-22 Mei
<https://www.tempo.co/tag/kerusuhan-21-22-mei> 2019 masih menyisakan
tanya. Siapa pembunuh 9 orang yang tewas dalam kerusuhan tersebut?
Dalam konferensi pers yang digelar pekan lalu, Polri tak sampai
menyebut siapa pembunuh mereka. Bahkan untuk jenis senjata yang
menewaskan 9 orang itu, Polri belum mengungkapkan secara pasti.
Baca juga: Komnas HAM Desak Polri Ungkap Aktor Intelektual Aksi 22 Mei
<https://nasional.tempo.co/read/1221725/komnas-ham-desak-polri-ungkap-aktor-intelektual-aksi-22-mei>
Padahal polisi telah selesai melakukan uji balistik terhadap dua
proyektil yang bersarang di tubuh Harun Al Rasyid (15) dan Abdul Azis
(28).
Harun dan Abdul merupakan dua dari sembilan warga sipil yang tewas
dalam kerusuhan 21-22 Mei. Harun diketahui tewas tertembak di jalan
layang Slipi, Jakarta Barat. Sementara Abdul, ditemukan meninggal di
kawasan Petamburan, Jakarta Barat.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi
Prasetyo berkali-kali mengatakan, pihaknya terkendala mengungkap jenis
senjata karena proyektil yang ditemukan dalam kondisi pecah.
Pada Juni 2019, polisi mengumumkan kemajuan dalam mengidentifikasi
jenis peluru. Hasil uji balistik Pusat Laboratorium Forensik Polri
menunjukkan peluru berkaliber 9x17 milimeter bersarang di tubuh Harun.
“Yang kaliber 9mm itu tingkat kerusakan proyektil cukup parah karena
pecah sehingga untuk menguji alur senjata ada sedikit kendala,” kata
Dedi. Saat pertama kali mengumumkan jenis proyektil, polisi hanya
menyebut ukuran kaliber saja.
Belakangan diketahui, karakteristik peluru yang menewaskan Harun
memiliki poligional dan alur enam kanan. Dalam pengembangan terbaru,
Dedi menyebut Harun ditembak dari jarak 11 meter sebelah kanan.
Sementara polisi berada di depan dengan jarak 100 meter.
Jenis peluru itu cocok dengan lokasi luka tembak di tubuh Harun, yakni
peluru masuk ke pangkal lengan atas kiri luar, yang menembus celah
dada kanan arah mendatar, dan bersarang di otot ketiak kanan.
Karateristik proyektil ini identik dengan Glock 42, pistol
semiotomatis buatan Austria. Sumber Tempo menyebut, Glock 42 digunakan
oleh perwira di kepolisian. Pengamat militer dari Institute For
Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, pun mengatakan
Glock 42 digunakan oleh Kopassus, Paskhas, Brimob, dan Densus 88.
“Setahu saya, Glock 42 digunakan oleh mereka,” ucap Fahmi saat
dihubungi pada 5 Juli 2019.
Dikonfirmasi terpisah, Dedi mengatakan pihaknya tidak menggunakan
Glock 42. Polri hanya menggunakan Glock 17 dan Glock 19. "Itu standar
yang dipakai oleh kepolisian seluruh anggota, yang resmi ya," kata dia.
Sementara di dada Abdul Azis, korban lainnya yang diotopsi, ditemukan
proyektil 5,56x45 milimeter dan alur 4 kanan. Ia diduga ditembak dari
arah belakang. Peluru tersebut masuk menembus punggung kiri di bawah
belikat Abdul, dan kemudian merobek jantungnya, bersarang di tulang dada.
Ada dua senjata yang identik dengan peluru tersebut, yakni AK-101
produksi Rusia dan Olympic Arms. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko
mengatakan, Olympic Arms bukanlah tipe senjata yang digunakan oleh
aparat keamanan Indonesia.
Sedangkan untuk AK-101, menurut Fahmi, merupakan senjata yang memang
dipakai polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). "Meski sudah
menggunakan SS1, tapi AK-101 masih digunakan. Kalau AK47 masih
digunakan oleh TNI," ucap Fahmi. Namun, belakangan senjata AK-101
perlahan digantikan oleh seri SS1 atau senapan serbu 1 yang diproduksi
oleh PT Pindad.
AK-101 sendiri merupakan turunan dari AK47, tetapi AK-101 justru lebih
dekat dengan AK74 karena memakai kaliber yang sama yakni 5,56x45
milimeter. Sekitar 2003-2004, AK-101 pernah digunakan oleh pasukan
Brimob dalam operasi melawan GAM di Aceh. Saat itu, 3000 AK-101
didatangkan ke Indonesia. Harganya pun relatif murah hanya US$436 per
pucuknya.
Namun, Dedi mengatakan bahwa senjata AK-101 buatan Rusia sudah lama
tidak digunakan. Saat ini, polisi menggunakan AK buatan Polandia dan
Cina. “AK Rusia masih ada yang pakai tapi kan pengadaan lama. Kalau
pengadaan baru itu yang buatan Polandia dan Cina,” ucap dia.
Lebih lanjut, kedua peluru tersebut, 5,56x45 milimeter dan 9x17
milimeter, dikatakan Dedi meski merupakan standar militer, tapi bisa
dipakai oleh semua orang. Ia mengatakan, peluru tersebut beredar bebas
di pasar gelap.
Mundur sebelum kerusuhan 21-22 Mei, polisi memang menangkap beberapa
orang karena dugaan kepemilikan senjata ilegal. Kepala Kepolisian RI
Jenderal Tito Karnavian menunjukkan senapan laras panjang yang diduga
akan dipakai untuk membuat rusuh aksi 22 Mei 2019. Senjata yang ia
tunjukkan adalah senapan laras panjang tipe M4.
"Ini senapan panjang jenis M4," kata Tito di kantor Kementerian
Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.
Dia mengucapkan hal itu sambil menunjukan senapan serbu standar
militer Amerika Serikat itu.
ADVERTISEMENT
Senapan serbu yang ditunjukkan Tito dilengkapi dengan peredam suara.
Senapan itu juga tak memiliki pisir, sehingga dapat dipasangi
teleskop. Walhasil, senjata itu dapat berfungsi sebagai senapan runduk
alias sniper yang tidak menimbulkan suara bising bila ditembakkan.
Baca juga: Polri Belum Temukan Aktor Intelektual Kerusuhan 21-22 Mei
<https://nasional.tempo.co/read/1221118/polri-belum-temukan-aktor-intelektual-kerusuhan-21-22-mei>
Polri pun juga menyita setidaknya dua pucuk pistol dan 60 amunisi.
Menurut pengakuan pelaku, senjata itu juga akan digunakan pada 22 Mei.
Kelompok ini, kata dia, juga berencana menciptakan tumbal untuk
membuat publik marah terhadap aparat. "Kami mendapat informasi masih
ada senjata lain yang beredar," kata Tito.
Di sisi lain, dalam pengembangan terbaru penyelidikan, polisi
mengklaim telah mengantongi ciri-ciri pelaku penembak Harun, Abdul,
dan tujuh korban lainnya. Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian
Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Suyudi Ario Seto menyebut, terduga
pelaku penembakan berambut gondrong dengan perawakan ramping. Pria
tersebut memiliki tinggi 175 sentimeter dan bertangan kidal.
Ciri-ciri tersebut juga diperkuat dari analisis face recognition dari
704 visual. Terdiri atas 60 rekaman closed circuit television (CCTV),
480 video amatir, 93 foto amatir, 44 media massa, dan 27 dari media
sosial. "Karena (lokasi) arahnya miring, kemudian arahnya (dari
lintasan peluru) lurus mendarat, karena posisinya ada trotoar agak
tinggi, jadi diduga pelaku ini juga agak tinggi," kata Suyudi.
Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Choirul Anam
pun mendesak polisi agar segera mengungkap pelaku penembakan dalam
kerusuhan 21-22 Mei.
<https://nasional.tempo.co/read/1221992/komnas-ham-buka-hasil-investigasi-kerusuhan-22-mei-akhir-juli/full&view=ok> Desakan
tersebut diutarakan Anam setelah Polri merilis hasil investigasi pada
5 Juli 2019. "Jadi tugas berikutnya adalah pengungkapan yang lebih
terang peristiwa ini, termasuk mengungkap siapa pelaku lapangan dan
pelaku intelektualnya," ujar Anam melalui pesan teks, Sabtu, 6 Juli 2019.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com