Jokowi Kritik Impor Migas Melambung, Begini Respons Jonan
Reporter:
Bisnis.com
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Selasa, 9 Juli 2019 07:55 WIB
Presiden Jokowi bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius
Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dan
penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Sumarsono, saat meresmikan
pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten
Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin, 2 Juli 2018. Foto: Biro Pers Setpres
Presiden Jokowi bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius
Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dan
penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Sumarsono, saat meresmikan
pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten
Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin, 2 Juli 2018. Foto: Biro Pers Setpres
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Presiden Joko Widodo atauJokowi
<https://www.tempo.co/tag/jokowi>mengingatkan dua menterinya,
Ignasius Jonan dan Rini Soemarno terkait tingginya nilai impor migas
selama paruh pertama tahun 2019 ini.
*Baca: *Jokowi Desak Menteri Percepat Izin Usaha Berorientasi Ekspor
<https://bisnis.tempo.co/read/1222352/jokowi-desak-menteri-percepat-izin-usaha-berorientasi-ekspor>
Dalam rapat kabinet paripurna yang berlangsung pada Senin kemarin di
Istana Bogor, Jokowi menyoroti defisit neraca perdagangan mencapai US$
2,14 miliar dalam 5 bulan pertama 2019. Defisit terutama dipicu
oleh penurunan ekspor hingga 8,6 persen dalam periode Januari - Mei 2019
dan penurunan impor 9,2 persen.
Dalam rapat itu, Jokowi meminta para menteri untuk mencermati
angka-angka tersebut dan mempertanyakan kenapa nilai impor begitu tinggi.
"Kalau didetailkan lagi (impor) migas juga naiknya gede sekali.
Hati-hati di migas, Pak Menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, Bu
Menteri BUMN yang berkaitan dengan ini. Karena paling banyak ada di situ
(impor migas)," kata Jokowi, Senin, 8 Juli 2019.
Berdasarkan data BPS, jumlah impor migas Indonesia mencapai US$ 9,08
miliar dalam periode Januari-Mei 2019 atau defisit US$ 3,74 miliar
dibandingkan dengan ekspor migas US$ 5,34 miliar pada periode yang sama
2019.
Dalam periode itu, impor migas Indonesia sebenarnya lebih rendah
dibandingkan dengan impor migas US$ 11,922 miliar pada Januari-Mei 2018.
Defisit migas Indonesia mencapai US$ 5,12 miliar pada lima bulan pertama
2018.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Ignasius Jonan menyatakan impor minyak cenderung naik karena konsumsi
BBM juga meningkat seiring dengan pembangunan ruas jalan baru di seluruh
Indonesia.
Di sisi lain, produksi minyak tidak bisa serta merta meningkat mengingat
upaya eksplorasi besar baru-baru ini mulai ditingkatkan lagi setelah
sekian lama sempat terhenti dan upaya peningkatan produksi juga akan
banyak bergantung dari komitmen para kontraktor (K3S) besar termasuk
Pertamina.
ADVERTISEMENT
Jonan menjelaskan, sebetulnya total produksi minyak harian sebesar
775.000 barel per hari dan konsumsi minyak harian sekitar 1,3 juta barel
per hari. "Cenderung meningkat terus seiring makin banyaknya kendaraan
bermotor juga. Makanya ESDM sangat berharap mulai segera ada insentif
untuk mobil listrik,” kata Jonan dalam keterangan tertulis.
*Baca:* BEI Harap Kebijakan Kabinet Baru Jokowi Dorong Stabilitas
Ekonomi
<https://bisnis.tempo.co/read/1222331/bei-harap-kebijakan-kabinet-baru-jokowi-dorong-stabilitas-ekonomi>
Selain itu, kata Jonan, gas alam yang diproduksi saat ini setara dengan
1,2 juta barel minyak per hari dan sudah dikonsumsi untuk industri dalam
negeri sekitar 65 persen. Jonan meyakini apabila mayoritas gas alam
diekspor seperti sebelum tahun 2000 maka neraca migas tidak akan defisit.
*BISNIS*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com