Kutipan : panjang pantai mencapai 189,480 kilometerpersegi. Lagi ngantuk wartawanne...?
Pada tanggal Rab, 10 Jul 2019 pukul 10.26 ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > Sulawesi Tengah memiliki keunggulan komparatif dengan cadangan sumber daya > nickel pig iron (besi mentah), biji besi, dan gas yang sangat bisa > diandalkan > Palu (ANTARA) - Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi salah satu daerah di > Indonesia yang potensial dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas > rata-rata pertumbuhan nasional. > > Sumber daya alam seperti sektor perkebunan, pertanian, pertambangan, serta > kelautan dan perikanan, menjadi pendongkrak utama Produk Domestik Regional > Bruto (PDRB), sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi Sulteng. > > Adanya Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) menguntungkan bagi > daerah ini. IBS berperan di semua sektor potensial, sehingga memberikan > kontribusi terhadap kemajuan Sulteng sebagai daerah yang besar di Kawasan > Timur Indonesia. > > "Sulawesi Tengah memiliki keunggulan komparatif dengan cadangan sumber daya > *nickel pig iron*(besi mentah), biji besi, dan gas yang sangat bisa > diandalkan," kata Anggota DPR-RI Ahmad M Ali. > > Ahmad M Ali mengemukakan Sulteng berpotensi menjadi pusat industri atau > manufaktur di Pulau Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia pada tahun 2024. > Dengan adanya potensi besar itu, ia optimistis tahun 2024, Sulteng akan > menjadi pusat industri manufaktur di Pulau Sulawesi dan Kawasan Timur > Indonesia. > > Menurut dia, Sulteng merupakan provinsi terbesar di Pulau Sulawesi dengan > luas wilayah daratan 68,033 kilometer persegi dan panjang pantai mencapai > 189,480 kilometer persegi. > > Untuk menjadi daerah yang maju dengan pertumbuhan ekonomi yang besar, yang > berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukanlah perkara mudah > bagi Pemerintah Provinsi (Pemrov) Sulteng. > > Gubernur Sulteng Longki Djanggola mengatakan investasi dan ekspor > merupakan kunci pembangunan ekonomi di 13 kabupaten dan kota di provinsi > itu. Tanpa dua hal itu perekonomian warga di daerah-daerah tersebut > diyakini tak akan meningkat pesat seperti daerah-daerah lain di Indonesia > yang telah lebih dulu maju lewat kegiatan investasi dan ekspor yang begitu > instens. > > Gubernur mengatakan saat ini telah memasuki era kompetisi dengan berbagai > persaingan di berbagai bidang, antara lain persaingan untuk menarik > investor yang menjadi fokus pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. > > "Mengapa ini bisa terjadi, karena investasi dan ekspor adalah kunci > pembangunan ekonomi suatu wilayah," kata Gubernur Longki Djanggola. Oleh > karena itu ia mengimbau seluruh bupati dan wali kota di Sulteng untuk > mendorong tumbuhnya investasi di daerah yang mereka pimpin. > > Carannya, kata dia, antara lain menciptakan iklim investasi yang kondusif, > memacu aktivitas penanaman modal bagi peningkatan daya saing perekonomian > nasional, dan meningkatkan infrastruktur pendukung yang memadai. > > > *Pendorong Pertumbuhan * > > Pertumbuhan ekonomi Sulteng sangat relatif terutama pada periode 2015 - > 2017. Delapan tahun terakhir terhitung tahun 2011 hingga tahun 2018, > pertumbuhan ekonomi Sulteng pada 2011 di angka 9,82 persen, pada 2012 > mencapai 9,53 persen, pada 2013 sebesar 9,59 persen, pada 2014 sebesar 5,07 > persen, pada 2015 mencapai 5,50, pada 2016 sebesar 9,94, pada 2017 7,10 > dan pada 2018 mencapai 6,30 persen. > > Perekonomian Sulteng 2018 masih tetap tumbuh dengan angka yang cukup > menggembirakan, sekalipun empat daerah yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, > Donggala, dan Parigi Moutong, didera bencana alam gempa bumi, tsunami dan > likuefaksi pada 28 September 2018. > > Menurut Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulteng perekonomian di Sulteng > tahun 2018 tumbuh 6,30 persen, sesuai dengan proyeksi awal di kisaran 6,1 > sampai 6,5 persen. > > "Walaupun mengalami penurunan dibanding tahun 2017 yakni 7,10 persen, saya > kira pertumbuhan ekonomi di Sulteng terutama di tiga daerah tersebut cukup > tinggi, sebab masih sanggup tumbuh pascabencana yang cukup besar," kata > Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng Miyono. > > Beberapa faktor dari internal maupun eksternal dapat menjadi pendorong > sekaligus penghambat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018. Faktor tersebut > ialah : > > *Gas Amonia* > > Korporasi pengolahan gas amonia telah mampu memproduksi sebesar 300.000 > metrik ton pada Juli 2018, walaupun sempat mundur dari jadwal produksi > perdana. Jumlah produksi itu terhitung cukup besar, disebabkan utilitas > produksi telah mencapai 116 persen dari kapasitas produksi 700.000 metrik > ton. Atas produksi itu, gas amonia mampu menyumbang ekspor sebesar 98,74 > miliar dolar AS selama periode Juli - Desember 2018. > > Dengan besaran tersebut, gas amonia mampu menyumbang 4,88 persen dari > total ekspor Sulteng pada periode yang sama. Diperkirakan pada tahun 2019, > angka itu akan bertambah karena produksi dimulai pada awal tahun. > > *Diversifikasi Sektor Investasi* > > Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng > menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut pada 2018 juga di > topang oleh realisasi investasi yang mencapai Rp21,7 triliun. > > Kepala DPMPTSP Christina Shandra Tobondo mengemukakan realisasi investasi > tersebut lebih tinggi dari target tahun 2018 sebesar Rp20,3 triliun. > Pencapaian ini tidak lepas dari terdiversifikasinya realisasi investasi > berdasarkan sektor. > > "Tahun 2017 realisasi investasi sebagian besar ditopang oleh realisasi > investasi pada industri logam dasar yang mencapai 62 persen. Tahun 2018 > terdapat tujuh sektor yang berperan penting yaitu industri logam 23 persen, > sektor perkebunan 13 persen dari total investasi. Hal ini di sebabkan > rencana *replating *perkebunan kelapa sawit oleh beberapa korporasi," > ujar Shandra. > > *Nilai Hilirisasi HRC-CRC* > > Hilirisasi nikel sudah menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sulteng. Pada > tahun 2018 hilirisasi nikel memiliki produk baru yakni *hot and cold > rolled coiled *atau HRC dan CRC. Produk itu meningkatkan nilai tambah > ekspor Sulteng. Total realisasi ekspor hilirisasi nikel mencapai 3,43 > miliar dolar AS atau tumbuh hingga 83,55 persen (yoy) di bandingkan dengan > tahun 2017 yang hanya mencapai 1,87 miliar dolar AS. > > > *Industri Manufaktur* > > Industri manufaktur besar dan sedang mempunyai peran yang sangat vital > terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng. IBS menjadi sumber pertumbuhan > tertinggi dalam iklim ekonomi Sulteng. > Pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2018 mencapai 6,30 persen, dan berada di > atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,17 persen. Hal itu tidak lepas dari > peran IBS sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang mencapai 1,22 persen. > > Kepala BPS Sulawesi Tengah Faizal Anwar mengemukakan pada 2018 > sektor-sektor perekonomian Sulteng secara umum mengalami peningkatan > pertumbuhan walaupun ada beberapa sektor mengalami pelambatan akibat dari > bencana 28 September 2018. > > "PDRB Sulteng maupun industri manufaktur sama-sama mengalami pertumbuhan > yang positif dibanding tahun sebelumnya, yakni sebesar 6,30 persen untuk > PDRB dan 9,77 persen untuk industri manufaktur," ucap Faizal Anwar. > > Tahun 2018, nilai kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDRB pada > tahun 2018 mencapai Rp18,98 miliar. Peran IBS juga berdampak terhadap > sektor-sektor ekonomi lainnya yang juga mengalami peningkatan, seperti > perdagangan, angkutan dan komunikasi, persewaan khususnya pada daerah di > sekitar sektor IBS. > > *Investasi di Kawasan Industri Morowali* > > Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP merupakan perusahaan > pengelola kawasan industri di Morowali dengan luas lahan 2.000 hektare dan > akan dikembangkan menjadi 3.000 hektare area. Kawasan IMIP dan industri > merupakan kerja sama antara Bintang Delapan Group dari Indonesia dan > Tsinghan Steel Group dari China. > > Total kapasitas produksi smelter *nikel pig iron* sebesar 2 juta > ton/tahun dan 3,5 juta ton stainless steel/tahun. Nilai ekspor mencapai 2 > miliar dolar AS pada tahun 2017 dan naik menjadi 3,5 miliar dolar AS pada > tahun 2018. > > Pada 2017 ekspor stainless steel dari Morowali sebesar 2,6 miliar dolar > ASd engan nilai investasi sebesar 4 miliar dolar AS. Di perkirakan pada > 2018 nilai investasi mencapai 5 miliar dolar AS dengan nilai ekspor > mencapai 5 miliar dolar AS dengan tujuan India, Amerika Serikat, dan Eropa. > > *Investasi di Tojo Una-una* > > PT Saraswati Coconut Product adalah perusahaan penanaman modal asing yang > memproduksi berbagai macam produk kelapa. Perusahaan ini beraktivitas di > Desa Mantangisi, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-una, Sulteng. > > Perusahaan tersebut memproduksi berbagai jenis produk salah satunya yakni > *desiccated > coconut dan frozen coconut concentrate*. Perusahaan ini telah > mengembangkan teknologi terbaru untuk mengolah buah kelapa. > > "Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, produksinya > mencapai 18 juta ton/tahun. Nah, sementara di Kabupaten Tojo Una-una kelapa > tumbuh subur dan menjadi salah satu komoditas unggulan," sebut Kepala > DPMPTSP Christina Shandra Tobondo. > > Pemprov Sulteng, kata Shandra, sangat berharap agar kerja sama Pemprov > Sulteng dengan PT Saraswati Coconut Product terus terjalin agar dapat > meningkatkan ekspor dan impor, yang dapat berdampak terhadap PDRB Kabupaten > Tojo Una-una, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. > > Selain perusahaan tersebut, Pemprov Sulteng juga berharap terjalin kerja > sama yang baik dengan PT Seger Agro Nusantara yang merupakan perusahaan > eksportir jagung dari Kabupaten Tojo Una-una ke Filipina. > > *Ekonomi Sulteng 2019 * > > Pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2019 diproyeksikan akan terus membaik > pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi yang meluluhlantakkan Kota Palu, > Kabupaten Sigi, dan Donggala pada 28 September 2018 lalu. > > Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun ini di > kisaran 6,0 sampai 6,4 persen, agak melambat dibanding tahun 2018 yang > berada pada kisaran 6,3 persen. > > "Melambatnya pertumbuhan ekonomi ini tidak lepas dari dampak bencana. Kita > tahu sendiri tiga daerah itu yang terdampak parah dari aspek ekonomi akibat > bencana tersebut," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng Miyono. > > Walau melambat, Miyono mengatakan pertumbuhan ekonomi Sulteng 2019 masih > lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di > kisaran lima persen. > > "Dengan mempertimbangkan indikator ekonomi domestik, kondisi ekonomi serta > perkembangan konstelasi global , pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan > II 2019 diprakirakan membaik pada kisaran 6,3-6,7," ujarnya. > > Ia menjelaskan membaiknya perekonomian Sulteng di triwulan II 2019 > pascabencana 2018 disebabkan sejumlah faktor antara lain perbaikan sektor > konsumsi rumah tangga yang sempat melambat. Kemudian tingkat investasi yang > semakin meningkat seiring tahap rekonstruksi yang mulai berjalan secara > masif dan pengembangan pabrik pengolahan baru pertambangan migas dan nikel. > > Dari sisi eksternal, tingkat ekspor diprakirakan masih berada pada level > yang tinggi meskipun akan mengalami perlambatan. > > "Tingkat impor diprakirakan masih akan tumbuh tinggi seiring masih kuatnya > impor barang modal pendukung serta impor bahan baku industri stainless > steel. Meski impor tumbuh tinggi dan ekspor tumbuh terbatas, ekspor bersih > diprakirakan masih akan menghasilkan surplus," katanya. > > Sementara inflasi Sulteng pada Juni 2019 nanti, lanjutnya, diperkirakan > menu run dibandingkan Maret 2019. Inflasi pada Juni diperkirakan berada > antara 4,6-5,0 persen.Tingkat inflasi yang melebihi target tersebut lebih > disebabkan oleh faktor *base effect* tahun sebelumnya, khusus > pascabencana yang saat itu sangat tinggi. > > "Namun jika dilihat perkembangan inflasi secara *year to date*, tingkat > inflasi pada Juni 2019 diperkirakan hanya 1,61 persen. Masih cukup jauh > dari target inflasi nasional sebesar 3,5 persen," ujarnya. Gubernur > Sulawesi Tengah Longki Djanggola berbincang-bincang dengan Kepala DPMPTSP > Sulteng Christina Shandra Tobondo. terkait nilai investasi Sulteng dalam > Sulteng Expo 2019 (Antaranews/MUhammad Hajiji/DPMPTSP) > > > > > > > Oleh Muhammad Hajiji > Editor: Risbiani Fardaniah > > > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > 不含病毒。www.avg.com > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > <#m_8524746418963089166_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> > > >
