Menakar upaya pemerintah optimalkan pertumbuhan ekonomi Sulteng
Oleh Muhammad Hajiji Rabu, 10 Juli 2019 15:16 WIB
https://www.antaranews.com/berita/949608/menakar-upaya-pemerintah-optimalkan-pertumbuhan-ekonomi-sulteng
Menakar upaya pemerintah optimalkan pertumbuhan ekonomi Sulteng
Stand Pameran oleh Pemprov Sulteng yang menampilkan berbagai produk
dalam pameran Pekan Raya Jakarta yang di selenggarakan oleh Pemprov DKI
Jakarta mulai tanggal 22 Mei s/d 30 Juni 2019 di Arena Pekan Raya
Jakarta Kemayoran, Jakarta Pusat, ramai di kunjungi.
(Antaranews/MUhammad Hajiji/DPMPTSP)
Sulawesi Tengah memiliki keunggulan komparatif dengan cadangan sumber
daya nickel pig iron (besi mentah), biji besi, dan gas yang sangat bisa
diandalkan
Palu (ANTARA) - Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi salah satu daerah di
Indonesia yang potensial dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas
rata-rata pertumbuhan nasional.
Sumber daya alam seperti sektor perkebunan, pertanian, pertambangan,
serta kelautan dan perikanan, menjadi pendongkrak utama Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB), sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi Sulteng.
Adanya Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) menguntungkan bagi
daerah ini. IBS berperan di semua sektor potensial, sehingga memberikan
kontribusi terhadap kemajuan Sulteng sebagai daerah yang besar di
Kawasan Timur Indonesia.
"Sulawesi Tengah memiliki keunggulan komparatif dengan cadangan sumber
daya/nickel pig iron/(besi mentah), biji besi, dan gas yang sangat bisa
diandalkan," kata Anggota DPR-RI Ahmad M Ali.
Ahmad M Ali mengemukakan Sulteng berpotensi menjadi pusat industri atau
manufaktur di Pulau Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia pada tahun
2024. Dengan adanya potensi besar itu, ia optimistis tahun 2024, Sulteng
akan menjadi pusat industri manufaktur di Pulau Sulawesi dan Kawasan
Timur Indonesia.
Menurut dia, Sulteng merupakan provinsi terbesar di Pulau Sulawesi
dengan luas wilayah daratan 68,033 kilometer persegi dan panjang pantai
mencapai 189,480 kilometer persegi.
Untuk menjadi daerah yang maju dengan pertumbuhan ekonomi yang besar,
yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukanlah
perkara mudah bagi Pemerintah Provinsi (Pemrov) Sulteng.
Gubernur Sulteng Longki Djanggola mengatakan investasi dan ekspor
merupakan kunci pembangunan ekonomi di 13 kabupaten dan kota di provinsi
itu. Tanpa dua hal itu perekonomian warga di daerah-daerah tersebut
diyakini tak akan meningkat pesat seperti daerah-daerah lain di
Indonesia yang telah lebih dulu maju lewat kegiatan investasi dan ekspor
yang begitu instens.
Gubernur mengatakan saat ini telah memasuki era kompetisi dengan
berbagai persaingan di berbagai bidang, antara lain persaingan untuk
menarik investor yang menjadi fokus pemerintah, baik pemerintah pusat
maupun daerah.
"Mengapa ini bisa terjadi, karena investasi dan ekspor adalah kunci
pembangunan ekonomi suatu wilayah," kata Gubernur Longki Djanggola. Oleh
karena itu ia mengimbau seluruh bupati dan wali kota di Sulteng untuk
mendorong tumbuhnya investasi di daerah yang mereka pimpin.
Carannya, kata dia, antara lain menciptakan iklim investasi yang
kondusif, memacu aktivitas penanaman modal bagi peningkatan daya saing
perekonomian nasional, dan meningkatkan infrastruktur pendukung yang
memadai.
*Pendorong Pertumbuhan*
Pertumbuhan ekonomi Sulteng sangat relatif terutama pada periode 2015 -
2017. Delapan tahun terakhir terhitung tahun 2011 hingga tahun 2018,
pertumbuhan ekonomi Sulteng pada 2011 di angka 9,82 persen, pada 2012
mencapai 9,53 persen, pada 2013 sebesar 9,59 persen, pada 2014 sebesar
5,07 persen, pada 2015 mencapai 5,50, pada 2016 sebesar 9,94, pada 2017
7,10 dan pada 2018 mencapai 6,30 persen.
Perekonomian Sulteng 2018 masih tetap tumbuh dengan angka yang cukup
menggembirakan, sekalipun empat daerah yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi,
Donggala, dan Parigi Moutong, didera bencana alam gempa bumi, tsunami
dan likuefaksi pada 28 September 2018.
Menurut Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulteng perekonomian di Sulteng
tahun 2018 tumbuh 6,30 persen, sesuai dengan proyeksi awal di kisaran
6,1 sampai 6,5 persen.
"Walaupun mengalami penurunan dibanding tahun 2017 yakni 7,10 persen,
saya kira pertumbuhan ekonomi di Sulteng terutama di tiga daerah
tersebut cukup tinggi, sebab masih sanggup tumbuh pascabencana yang
cukup besar," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng Miyono.
Beberapa faktor dari internal maupun eksternal dapat menjadi pendorong
sekaligus penghambat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018. Faktor
tersebut ialah :
/Gas Amonia/
Korporasi pengolahan gas amonia telah mampu memproduksi sebesar 300.000
metrik ton pada Juli 2018, walaupun sempat mundur dari jadwal produksi
perdana. Jumlah produksi itu terhitung cukup besar, disebabkan utilitas
produksi telah mencapai 116 persen dari kapasitas produksi 700.000
metrik ton. Atas produksi itu, gas amonia mampu menyumbang ekspor
sebesar 98,74 miliar dolar AS selama periode Juli - Desember 2018.
Dengan besaran tersebut, gas amonia mampu menyumbang 4,88 persen dari
total ekspor Sulteng pada periode yang sama. Diperkirakan pada tahun
2019, angka itu akan bertambah karena produksi dimulai pada awal tahun.
/Diversifikasi Sektor Investasi/
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng
menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut pada 2018 juga
di topang oleh realisasi investasi yang mencapai Rp21,7 triliun.
Kepala DPMPTSP Christina Shandra Tobondo mengemukakan realisasi
investasi tersebut lebih tinggi dari target tahun 2018 sebesar Rp20,3
triliun. Pencapaian ini tidak lepas dari terdiversifikasinya realisasi
investasi berdasarkan sektor.
"Tahun 2017 realisasi investasi sebagian besar ditopang oleh realisasi
investasi pada industri logam dasar yang mencapai 62 persen. Tahun 2018
terdapat tujuh sektor yang berperan penting yaitu industri logam 23
persen, sektor perkebunan 13 persen dari total investasi. Hal ini di
sebabkan rencana/replating/perkebunan kelapa sawit oleh beberapa
korporasi," ujar Shandra.
/Nilai Hilirisasi HRC-CRC/
Hilirisasi nikel sudah menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sulteng.
Pada tahun 2018 hilirisasi nikel memiliki produk baru yakni/hot and cold
rolled coiled/atau HRC dan CRC. Produk itu meningkatkan nilai tambah
ekspor Sulteng. Total realisasi ekspor hilirisasi nikel mencapai 3,43
miliar dolar AS atau tumbuh hingga 83,55 persen (yoy) di bandingkan
dengan tahun 2017 yang hanya mencapai 1,87 miliar dolar AS.
*Industri Manufaktur*
Industri manufaktur besar dan sedang mempunyai peran yang sangat vital
terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng. IBS menjadi sumber pertumbuhan
tertinggi dalam iklim ekonomi Sulteng.
Pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2018 mencapai 6,30 persen, dan berada
di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,17 persen. Hal itu tidak lepas
dari peran IBS sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang mencapai 1,22 persen.
Kepala BPS Sulawesi Tengah Faizal Anwar mengemukakan pada 2018
sektor-sektor perekonomian Sulteng secara umum mengalami peningkatan
pertumbuhan walaupun ada beberapa sektor mengalami pelambatan akibat
dari bencana 28 September 2018.
"PDRB Sulteng maupun industri manufaktur sama-sama mengalami pertumbuhan
yang positif dibanding tahun sebelumnya, yakni sebesar 6,30 persen untuk
PDRB dan 9,77 persen untuk industri manufaktur," ucap Faizal Anwar.
Tahun 2018, nilai kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDRB
pada tahun 2018 mencapai Rp18,98 miliar. Peran IBS juga berdampak
terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya yang juga mengalami peningkatan,
seperti perdagangan, angkutan dan komunikasi, persewaan khususnya pada
daerah di sekitar sektor IBS.
*Investasi di Kawasan Industri Morowali*
Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP merupakan perusahaan
pengelola kawasan industri di Morowali dengan luas lahan 2.000 hektare
dan akan dikembangkan menjadi 3.000 hektare area. Kawasan IMIP dan
industri merupakan kerja sama antara Bintang Delapan Group dari
Indonesia dan Tsinghan Steel Group dari China.
Total kapasitas produksi smelter/nikel pig iron/sebesar 2 juta ton/tahun
dan 3,5 juta ton stainless steel/tahun. Nilai ekspor mencapai 2 miliar
dolar AS pada tahun 2017 dan naik menjadi 3,5 miliar dolar AS pada tahun
2018.
Pada 2017 ekspor stainless steel dari Morowali sebesar 2,6 miliar dolar
ASd engan nilai investasi sebesar 4 miliar dolar AS. Di perkirakan pada
2018 nilai investasi mencapai 5 miliar dolar AS dengan nilai ekspor
mencapai 5 miliar dolar AS dengan tujuan India, Amerika Serikat, dan Eropa.
*Investasi di Tojo Una-una*
PT Saraswati Coconut Product adalah perusahaan penanaman modal asing
yang memproduksi berbagai macam produk kelapa. Perusahaan ini
beraktivitas di Desa Mantangisi, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo
Una-una, Sulteng.
Perusahaan tersebut memproduksi berbagai jenis produk salah satunya
yakni/desiccated coconut dan frozen coconut concentrate/. Perusahaan ini
telah mengembangkan teknologi terbaru untuk mengolah buah kelapa.
"Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, produksinya
mencapai 18 juta ton/tahun. Nah, sementara di Kabupaten Tojo Una-una
kelapa tumbuh subur dan menjadi salah satu komoditas unggulan," sebut
Kepala DPMPTSP Christina Shandra Tobondo.
Pemprov Sulteng, kata Shandra, sangat berharap agar kerja sama Pemprov
Sulteng dengan PT Saraswati Coconut Product terus terjalin agar dapat
meningkatkan ekspor dan impor, yang dapat berdampak terhadap PDRB
Kabupaten Tojo Una-una, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Selain perusahaan tersebut, Pemprov Sulteng juga berharap terjalin kerja
sama yang baik dengan PT Seger Agro Nusantara yang merupakan perusahaan
eksportir jagung dari Kabupaten Tojo Una-una ke Filipina.
*Ekonomi Sulteng 2019*
Pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2019 diproyeksikan akan terus membaik
pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi yang meluluhlantakkan Kota
Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala pada 28 September 2018 lalu.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun ini di
kisaran 6,0 sampai 6,4 persen, agak melambat dibanding tahun 2018 yang
berada pada kisaran 6,3 persen.
"Melambatnya pertumbuhan ekonomi ini tidak lepas dari dampak bencana.
Kita tahu sendiri tiga daerah itu yang terdampak parah dari aspek
ekonomi akibat bencana tersebut," kata Kepala Kantor Perwakilan BI
Sulteng Miyono.
Walau melambat, Miyono mengatakan pertumbuhan ekonomi Sulteng 2019 masih
lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada
di kisaran lima persen.
"Dengan mempertimbangkan indikator ekonomi domestik, kondisi ekonomi
serta perkembangan konstelasi global , pertumbuhan ekonomi Sulteng pada
triwulan II 2019 diprakirakan membaik pada kisaran 6,3-6,7," ujarnya.
Ia menjelaskan membaiknya perekonomian Sulteng di triwulan II 2019
pascabencana 2018 disebabkan sejumlah faktor antara lain perbaikan
sektor konsumsi rumah tangga yang sempat melambat. Kemudian tingkat
investasi yang semakin meningkat seiring tahap rekonstruksi yang mulai
berjalan secara masif dan pengembangan pabrik pengolahan baru
pertambangan migas dan nikel.
Dari sisi eksternal, tingkat ekspor diprakirakan masih berada pada level
yang tinggi meskipun akan mengalami perlambatan.
"Tingkat impor diprakirakan masih akan tumbuh tinggi seiring masih
kuatnya impor barang modal pendukung serta impor bahan baku industri
stainless steel. Meski impor tumbuh tinggi dan ekspor tumbuh terbatas,
ekspor bersih diprakirakan masih akan menghasilkan surplus," katanya.
Sementara inflasi Sulteng pada Juni 2019 nanti, lanjutnya, diperkirakan
menu run dibandingkan Maret 2019. Inflasi pada Juni diperkirakan berada
antara 4,6-5,0 persen.Tingkat inflasi yang melebihi target tersebut
lebih disebabkan oleh faktor/base effect/tahun sebelumnya, khusus
pascabencana yang saat itu sangat tinggi.
"Namun jika dilihat perkembangan inflasi secara/year to date/, tingkat
inflasi pada Juni 2019 diperkirakan hanya 1,61 persen. Masih cukup jauh
dari target inflasi nasional sebesar 3,5 persen," ujarnya.
Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola berbincang-bincang dengan
Kepala DPMPTSP Sulteng Christina Shandra Tobondo. terkait nilai
investasi Sulteng dalam Sulteng Expo 2019 (Antaranews/MUhammad
Hajiji/DPMPTSP)
Oleh Muhammad Hajiji
Editor: Risbiani Fardaniah
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com