Mau tarik ijuran, silahkan. Mau bayar denda, silahkan. Mau umroh juga kemauan 
sendiri. Mau melarikan diri dari Indonesia, juga kemauan sendiri. Kalau pulang, 
juga silahkan. Masuk penjara adalah kewajiban. Tak satupun penjahat di 
Indonesia boleh bebas melenggang.
   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'j.gedearka' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: 
"[email protected]" <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 12 Juli 2019 21.05.59 GMT+2Judul: 
[nasional-list] FPI Tarik Iuran Anggota untuk Bayar Denda Overstay Rizieq
     
 


 
 

 
 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190712190040-20-411703/fpi-tarik-iuran-anggota-untuk-bayar-denda-overstay-rizieq
 
 
 FPI Tarik Iuran Anggota untuk Bayar Denda Overstay 
 
 
Rizieq 
  CNN Indonesia | Jumat, 12/07/2019 19:57 WIB   Bagikan :          Anggota dan 
simpatisan FPI bakal ditarik iuran untuk membayar denda overstay Rizieq Shihab 
(REUTERS/Darren Whiteside)    Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Bantuan Hukum 
Front Pembela Islam (FPI) Sugito Atmo Prawiro mengatakan pihaknya berencana 
menarik iuran dari para anggota dan simpatisan. Iuran dikumpulkan untuk 
membayarkan denda overstay Imam Besar FPI Rizieq Shihab.
 
 "Kami bayar sendiri dari anggota dan simpatisan," ucap Sugito saat dihubungi 
CNNIndonesia.com, Jumat (12/7).
 
 Langkah itu akan diambil jika pemerintah tidak mau membayarkan denda yang 
harus ditanggung Rizieq. Sugito yakin kasus overstay diakibatkan oleh institusi 
di Indonesia yang menghalang-halangi Rizieq keluar Arab Saudi.
 
 
 "Seharusnya kan yang membayar pemerintah. Kalau tidak bersedia, ya kita bayar 
sendiri," tutur Sugito.
 
|   
Lihat juga:
 Polri Minta Rizieq Tak Perlu Cemas Pulang Jika Tak Bersalah  |

 Sugito menjelaskan bahwa pada 10, 11 dan 12 Juli 2018, Rizieq berusaha keluar 
dari Arab Saudi untuk memperpanjang masa izin tinggal. Namun, pihak imigrasi 
Arab Saudi mencekal sehingga Rizieq tidak dapat keluar.
 
 Sugito mengatakan ada institusi dari Indonesia yang meminta pihak imigrasi 
Arab Saudi mencekal Rizieq. Dia tidak bisa menyebut nama institusi yang 
dimaksud karena tidak dijelaskan oleh pihak imigrasi setempat.
 
 "Pada waktu itu imigrasi tidak menjelaskan. Tadinya kami minta foto copy-nya, 
tapi tidak diberikan," kata Sugito.
 
|   
Lihat juga:
 Waketum Gerindra Bantah Syarat Rekonsilliasi Pulangkan Rizieq  |

 Walhasil, Rizieq tidak bisa keluar dari Arab Saudi untuk memperpanjang masa 
izin tinggal. Hal itu berakibat masa izin tinggal Rizieq kadaluarsa sejak 20 
Juli 2018.
 
 Sugito mengatakan Rizieq juga tidak akan langsung pulang ke tanah air jika 
denda overstay sudah dibayar. Menurutnya, masalahnya bukan soal denda, tapi 
terkait pencekalan.
 
 Dia menyebut Rizieq masih dicekal sehingga tidak bisa pergi ke luar Arab 
Saudi. Pencekalan itu juga masih atas permintaan institusi resmi di Indonesia.
 
 "Sampai sekarang masih dicekal," kata Sugito.
 
|   
Lihat juga:
 Nasib Rizieq Shihab dan Aturan Overstay di Arab Saudi  |

 Sebelumnya, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel 
menyebut Rizieq memiliki denda yang harus dibayar kepada pemerintah setempat.. 
Denda itu terkait masa izin tinggal Rizieq yang sudah habis sejak 20 Juli 2018 
lalu.
 
 Agus menyebut Rizieq harus membayar denda overstay terlebih dahulu jika ingin 
meninggalkan Saudi. Jumlahnya satu orang Rp110 juta.
 
 Agus mengatakan denda tersebut harus dibayar oleh Rizieq dengan catatan tak 
memiliki masalah hukum. Namun, Agus tak tahu apakah Rizieq punya masalah hukum 
atau tidak selama tinggal di Saudi.
 
(gil)
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 Megawati Tak Setuju Menteri Muda, Apa Kata Partai Koalisi Jokowi? Presiden 
Joko Widodo (kiri), Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 
(BPIP) Megawati Soekarnoputri (kedua kanan), berjalan bersama usai pertemuan 
tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/5/2019). ANTARA FOTO/Puspa 
Perwitasari/ama. Presiden Joko Widodo (kiri), Ketua Dewan Pengarah Badan 
Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri (kedua kanan), 
berjalan bersama usai pertemuan tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 
(21/5/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama. Oleh: Bayu Septianto - 12 Juli 
2019 Dibaca Normal 1 menit Megawati mengatakan menteri berusia muda harus punya 
bekal pengalaman di parlemen serta pengetahuan mengenai proses pembuatan 
undang-undang. Pernyataan ini setidaknya didukung PKB dan Nasdem. tirto.id - 
Generasi muda yang bermimpi menjadi menteri di kabinet Joko Widodo-Ma'ruf Amin 
harus punya pengalaman di parlemen serta pengetahuan mengenai proses pembuatan 
Undang-Undang. Demikianlah syarat yang disampaikan Ketua Umum PDI Perjuangan 
Megawati Soekarnoputri. Pernyataan ini keluar untuk menanggapi wacana pemilihan 
menteri milenial atau anak muda beberapa waktu terakhir. "Ini yang saya lihat 
kelemahan kita dewasa ini. Orang disodor-sodorkan, tapi tidak mengerti secara 
praktis tata pemerintahan," kata Megawati di Beijing, Cina, dalam keterangan 
tertulis yang disampaikan kepada wartawan, Rabu (10/7/2019) malam. Presiden 
ke-5 RI itu bilang banyak contoh orang gagal di pemerintahan karena tidak punya 
latar belakang dan pengalaman apa pun dalam menjalankan roda pemerintahan. "Dan 
saya suka bilang,  [jadi menteri] memang mau mejeng saja? Saya tidak akan 
menyebut nama." Presiden Joko Widodo saat ini masih mencari sejumlah figur muda 
yang dapat mengisi jabatan-jabatan strategis di kementerian, termasuk dari 
partai politik. Ia memastikan nama-nama menteri dalam kabinet lima tahun 
mendatang akan diumumkan dalam waktu  dekat. "Saya minta dari partai juga ada 
yang muda. Ada dari profesional juga. Kalau enggak ada dari partai, ya, kita 
cari sendiri. Profesional muda, kan, sekarang banyak banget," kata Jokowi usai 
membuka acara Pameran Kain dan Kerajinan Indonesia di JCC, Senayan, Jakarta 
Pusat, Jumat (12/7/2019). Baca juga: Menteri-Menteri Usia Muda di Era Revolusi 
dan Pasca-Kemerdekaan Sepakat dengan Mega Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, 
Johnny G Plate, sepakat dengan syarat yang disampaikan Megawati, bahwa anak 
muda sebaiknya harus banyak belajar dulu. "Sebagaimana kami juga belajar dulu, 
ya," kata Johnny di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/7/2019). Kalau 
memang akhirnya ada anak muda dipilih, maka Johnny yakin Jokowi sudah 
mempertimbangkan kompetensinya. "Pak Jokowi pasti mengambil generasi muda yang 
punya kompetensi, kemampuan baik. Karena generasi muda itu yang akan menjadi 
role model atas generasi muda lainnya di indonesia." Ketua DPP PKB, Abdul Kadir 
Karding, juga sepakat dengan syarat untuk menteri muda yang disampaikan 
Megawati. Sosok anak muda yang jadi menteri semestinya memiliki kematangan 
dalam banyak hal.  Sosok tersebut harus paham soal aturan ketatanegaraan, punya 
jiwa pemimpin, serta memiliki kemampuan manajerial dan mengeksekusi kebijakan. 
"Kalau hanya muda tapi mejeng saja apa yang disampaikan Bu Mega sangat relevan 
dengan kebutuhan ke depan," kata Karding kepada reporter Tirto, Kamis 
(11/7/2019). Selain itu, menurut Karding juga akan muncul masalah lain jika 
Jokowi memilih menteri muda yang berasal dari partai politik. Ia khawatir kader 
senior merasa terlangkahi karier politiknya. Baca juga: Megawati Kritisi 
Menteri Muda, Jokowi Diminta Lebih Selektif Sementara Golkar cenderung setuju. 
Bambang Sosatyo, Wakil Koordinator Bidang (Wakorbid) Pratama Partai Golkar 
sekaligus Ketua DPR, bahkan sudah menyebut nama salah satu kader yang dianggap 
pantas. Bukan Soal Muda atau Tua Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute 
(IPI) Karyono Wibowo mengatakan Jokowi mesti punya standar kualitas yang 
terukur dalam memilih menteri di kabinetnya, baik itu generasi muda maupun tua. 
Beberapa aspek di antaranya pengalaman, prestasi, kompetensi, akseptabilitas, 
dan rekam jejak. Standar-standar itulah yang lebih penting, kata Karyono. 
Selain itu, ia mengatakan yang paling penting adalah si calon memenuhi syarat 
yang ditentukan Jokowi. "Sehingga dalam konteks memilih menteri tidak perlu ada 
narasi yang muda melangkahi yang tua," ucap Karyono kepada reporter Tirto, 
Kamis (11/7/2019). Baca juga artikel terkait KABINET JOKOWI atau tulisan 
menarik lainnya Bayu Septianto (tirto.id - Politik) Reporter: Bayu Septianto 
Penulis: Bayu Septianto Editor: Gilang Ramadhan PKB dan Nasdem tak 
mempermasalahkan syarat dari Megawati.
 
 Baca selengkapnya di artikel "Megawati Tak Setuju Menteri Muda, Apa Kata 
Partai Koalisi Jokowi?", https://tirto.id/ed86    

Kirim email ke