Makan siangnya pasti mahal
 

 ---
 Sedangkan panggung belakangnya, menurut Refly, bisa digambarkan dengan istilah 
'no free lunch' atau 'tidak ada makan siang gratis'.

"Tidak ada makan siang yang gratis. Tentunya pertemuan kali ini akan diikuti 
dengan negosiasi," ujar Refli kepada CNNIndonesia TV, Sabtu (13/7).



---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 ANALISIS 'Misteri' Negosiasi Politik di Balik Pertemuan Jokowi-Prabowo CNN 
Indonesia | Sabtu, 13/07/2019 14:18 WIB
 Bagikan :    
 Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto saling berjabat tangan saat bertemu di 
Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
 
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada makan siang gratis. Demikian pakar hukum 
tata negara, Refly Harun, memaknai pertemuan antara Presiden Joko Widodo 
https://www.cnnindonesia.com/tag/joko-widodo"; style="background:transparent; 
text-decoration:none;color:rgb(68, 68, 68); dan Prabowo Subianto 
https://www.cnnindonesia.com/tag/prabowo-subianto"; 
style="background:transparent; text-decoration:none;color:rgb(68, 68, 68); di 
Stasiun MRT Lebak Bulus, Sabtu (31/7).
 
 Pertemuan itu diwarnai momen Jokowi dan Prabowo bersalaman dan berpelukan. 
Namun, Refly menyebut pertemuan yang dilihat publik itu hanya 'panggung depan'. 
 
 Dari panggung depan itu orang bisa memaknai pertemuan Jokowi dan Prabowo untuk 
menyelesaikan 'pertarungan' dua kubu berikut pendukungnya.
 
 
 Sedangkan panggung belakangnya, menurut Refly, bisa digambarkan dengan istilah 
'no free lunch' atau 'tidak ada makan siang gratis'.
 
 "Tidak ada makan siang yang gratis. Tentunya pertemuan kali ini akan diikuti 
dengan negosiasi," ujar Refli kepada CNNIndonesia TV, Sabtu (13/7).
 
 Ia bahkan menyebut negosiasi di antara Jokowi dan Prabowo mungkin sudah 
terjadi sebelum pertemuan itu. Lalu setelah pertemuan, lanjut dia, akan 
dilakukan negosiasi-negosiasi lanjutan.
 
 Lihat juga:  Jokowi Berpelukan dengan Prabowo di MRT Lebak Bulus
 Ada banyak hal yang bisa dinegosiasikan. Dari hal-hal paling mendasar terkait 
kepentingan nasional, hingga mungkin hal-hal yang tak terkait dengan itu. Yang 
pasti, kata Refly, negosiasi di panggung belakang ini tidak akan bisa diketahui 
oleh masyarakat.
 
 Refly menjelaskan negosiasi itu mungkin bisa dimaknai sebagai hal yang normal 
dalam proses rekonsiliasi kali ini. 
 
 Terlebih, kata dia, setelah bertarung cukup keras di Pilpres 2019 baik 
kontestan dan pendukungnya membutuhkan pemulihan secara moril maupun materiil.
 
 Kubu Prabowo disebutnya paling membutuhkan pemulihan secara moril. Alasannya, 
karena tiga kali mengalami kekalahan dalam kontestasi Pilpres.
 
 Lihat juga:  Prabowo Siap Bantu Jokowi 5 Tahun Ke Depan
 
 "Ini sangat menyakitkan," ujar dia.
 
 "Secara moril mereka perlu untuk diobati. Perlu healing, sehingga secara moril 
bisa terangkat kembali sebagai pemenang, tapi pemenang dari sebuah proses 
kontestasi yang bermartabat, kalah terhormat," jelas Refly.
 
 Sedangkan secara materiil menurut Refly kedua kubu sudah mengorbankan materi 
sangat banyak. Oleh karena itu, perlu juga dilakukan pemulihan. 
 
 Setelah naik MRT dari Lebak Bulus ke Senayan, Jokowi dan Prabowo makan siang 
di sebuah restoran di Fx Sudirman, Sabtu (13/7). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
 
 Ia memprediksi mungkin ada kesepakatan-kesepakatan tertentu yang sudah 
dilakukan demi pemulihan tersebut.
 
 "Apakah ada deal-deal tertentu yang barangkali disepakati yang menurut saya 
pemulihan secara moril dan materiil itu perlu," tambah dia.
 
 Sudahi Cebong vs Kampret
 
 Pengamat politik dari Universitas Padjajaran, Firman Manan menilai pertemuan 
Jokowi-Prabowo bisa mendinginkan dan merukunkan hubungan pendukung di akar 
rumput. 
 
 Dia menyoroti secara khusus para pendukung Prabowo, yang menurutnya, masih 
belum puas atas hasil Pilpres 2019. 
 
 "Mungkin tidak keseluruhan karena hanya yang garis garis keras saja yang tidak 
puas," kata Firman.
 
 Lihat juga:  Jokowi: Tak Ada Lagi Cebong dan Kampret
 Ia mengapresiasi pernyataan positif yang dikeluarkan Jokowi dan Prabowo selama 
pertemuan. 
 
 Firman mencatat sejumlah ucapan penting, seperti ucapan selamat dari Prabowo 
kepada Jokowi dan kesediaannya membantu pemerintah lima tahun ke depan. 
Kemudian, ketika Jokowi mengatakan tak ada lagi Cebong dan Kampret.
 
 Bagi Firman, pernyataan-pernyataan tersebut akan menyatukan seluruh retakan 
yang terjadi usai Pilpres 2019. Sebab masyarakat Indonesia pasti akan melihat 
sikap, tingkah perilaku, dan ucapan elit politik yang didukung dalam Pilpres 
2019.
 
 "Pertemuan ini akan memberikan kesan pertarungan politik ini biasa, ritual 
demokrasi lima tahunan, dan sudah selesai, pemenang sudah ada, yang kalah sudah 
mengakui dan berikan selamat. Jadi pertarungan itu tidak perlu lagi 
diperpanjang karena sudah selesai," ujar Firman.
 
 (ani/wis)
 
 
 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 不含病毒。www.avg.com 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 #DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
 

Kirim email ke