Si Tuabangka tak perlu diajak. Biarkan dia jalan sendirian. Amien,
Amien..............Rais!!!
----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ChanCT [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 14 Juli 2019 14.37.18 GMT+2Judul:
[GELORA45] Di Balik Pesan Semar dan Raksasa, Hingga Surat Prabowo ke Amien Rais
Politik Sepekan
Di Balik Pesan Semar dan Raksasa, Hingga Surat Prabowo ke Amien Rais
POLITIK 14 Juli 2019, 19:10:33 WIB Banyak makna dan pesan simbolik
dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo di FX Sudirman, Jakarta. Salah satunya
adalah barisan punakawan dan raksasa. Tokoh-tokoh wayang itu muncul dalam
lukisan di tempat makan Sate Khas Senayan, (Miftahul Hayat/JawaPos)
JawaPos.com – Banyak makna dan pesan simbolik dalam Pertemuan Jokowi dan
Prabowo di FX Sudirman, Jakarta. Salah satunya adalah barisan punakawan dan
raksasa. Tokoh-tokoh wayang itu muncul dalam lukisan di tempat makan Sate Khas
Senayan, tempat kedua tokoh itu makan siang.
Ada tujuh tokoh wayang yang ada di lukisan tersebut. Tiga di kiri, empat di
kanan. Dua kelompok wayang ini dipisahkan oleh sebuah gunungan. Dalam
pewayangan, gunungan biasanya digunakan sebagai pembuka atau penutup sebuah
babak.
Tokoh wayang yang ada di sebelah kanan adalah para punakawan. Mereka adalah
Semar dan tiga anaknya yaitu Petruk, Gareng dan Bagong (paling belakang
sendiri). Di sebelah kiri ada Togog dan sobatnya, Bilung. Sementara paling
belakang sendiri adalah figur raksasa.
Diketahui, dalam dunia pewayangan, Punakawan bertugas menjadi pendamping para
ksatria berwatak baik. Mereka adalah penghibur para ksatria. Sedangkan Togog
dan kawanannya adalah pendamping abdi dalem raksasa yang berwatak jahat.
Lalu, adakah pesan khusus di balik latar belakang lukisan di tempat kedua
kontestan pilpres 2019 itu bertemu dan makan siang? Menjawab pertanyaan
tersebut, Sudjiwo Tedjo yang dikenal sebagai dalang wayang nyentrik mencoba
menyoroti lukisan punakawan dan raksasa itu.
Tedjo pun menyoroti karakter tokoh-tokoh pewayangan itu. Salah satunya sosok
Togog yang punya nama lain Tejo Mantri. Kata dia, Togog adalah kakaknya Semar.
“Big Bang dalam wayang adalah telur yang pecah, kulitnya jadi Togog, putihnya
jadi Semar dan kuningnya jadi Bathara Guru,” cuit Sudjiwo Tedjo.
Tak cuma lukisan itu yang disorot. Sudjiwo Tedjo juga mengulas soal Jokowi dan
Prabowo yang bertemu di jalan. Menurut dia, pertemuan tersebut mengandung kode
tersendiri. Karena tak saling bertamu.
“Khas teater Jawa Timur-an yang urakan. Saya bangga,” ungkapnya.
Sementara itu, Peneliti cerita rakyat dari Universitas Indonesia (UI) Suni
Wasono mengatakan, lukisan wayang yang latar belakang itu memang mendatangkan
banyak tafsir. Dalam lukisan itu, ada tokoh Semar dan Togog.
Menurut Suni, dalam kisah pewayangan, tugas Semar bukan hanya sebagai
pendamping para ksatria. Semar adalah jelmaan Dewa Ismaya yang menjelma dalam
wujud manusia. Namun, bisa saja dalam konteks politik, Punakawan itu adalah
representasi rakyat.
“Dengan adanya lukisan itu bisa ditafsirkan kalau pimpinan yang didukung sudah
rukun, rakyatnya pun rukun. Kalau pimpinan mereka sudah berekonsilisasi,
rakyatnya pun bersatu,” katanya.
Pertemuan itu pun mendapat apresiasi dan pujian banyak tokoh. Salah satunya
adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang menilai, peristiwa
bertemunya Jokowi dan Prabowo menjadi momentum yang sangat penting dan bagus
untuk merawat kerukunan. Utamanya dalam kehidupan politik kebangsaan.
“Jokowi dan Prabowo memberi contoh kenegarawanan yang sangat tinggi bahwa
kontestasi politik itu tidak menyebabkan retak sesama tokoh bangsa,” kata
Haedar di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.
Bahkan, ia merasa, dalam konteks kehidupan nasional pertemuan itu akan merekat
kembali suasana kehidupan kebangsaan. Tentu saja harapannya elemenelemen bangsa
jadi lebih bersatu. Kedua, lanjutnya, pertemuan itu memberikan masyarakat
penguatan untuk kepentingan kohesi sosial atau orang secara umum sering
menyebut sebagai rekonsiliasi politik dalam makna yang longgar.
“Jokowi dan Prabowo menutup dengan silaturahim. Sehingga, rekonsiliasi nasional
atau kohesi sosial kebangsaan itu memperoleh legitimasi yang kuat dari kedua
tokoh dan elite puncak yang berkontestasi dalam pilpres yang lalu,” ujar
Haedar.
Haedar merasa, pertemuan yang dilakukan di Stasiun MRT Jakarta memberi isyarat
tempat itu jadi satu simbol kemajuan Jakarta. Artinya, Indonesia boleh berbeda
politik tapi begitu selesai kita menatap ke depan. Tujuannya, tidak lain
membangun Indonesia berkemajuan. Ia yakin, masyarakat dan segenap komponen
bangsa akan bersatu dan membangun negeri tercinta ini jadi Indonesia yang
maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat.
“Sebagai negara yang modern di tengah persaingan global yang semakin penuh
dengan tantangan,” ujar Haedar.
Ia berharap, Allah SWT senantiasa meridhai Indonesia sebagai bangsa yang tetap
utuh dalam perbedaan dan menjadi bangsa yang penuh perdamaian dansemakin maju.
Sementara eks Ketua MK Mahfud MD mengungkapkan, pertemuan Jokowi-Prabowo bisa
menghentikan pertikaian politik. “Pesan simbolik pertemuan Pak Prabowo dan Pak
Jokowi hari ini cukup bagus. Bisa menghilangkan spekulasi atau
dorongan-dorongan orang untuk memecah terus kedua tokoh ini,” tutur Mahfud di
Yogyakarta, kemarin.
Namun, tak semua pihak gembira dengan pertemuan Prabowo-Jokowi. Dedengkot PAN
Amien Rais merespons pertemuan ini dengan sindiran yang bernada sinis. Ia
mengatakan, tidak diberitahu soal pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo..
Amien Rais justru bertanya-tanya tentang pertemuan Prabowo dan Jokowi di
Jakarta kemarin. Saat menanggapi pertemuan itu, Amien malah bicara soal adanya
Semar, Gareng dan Petruk di layar.
“Tadi di MRT sudah dengan Pak Jokowi sudah pelukan, sudah makan bersama, di
gambar layarnya ada Semar, Gareng, Petruk dan lain-lain, itu nanti kita
lihat,” ujar Amien Rais saat ditemui wartawan di rumahnya, Condongcatur, Depok,
Sleman, DIY, (13/7).
Namun, Amien Rais saat itu tak menjelaskan lebih jauh soal pernyataan tersebut.
Dia tak mau lagi bicara banyak sebelum dia membaca surat yang dikirimkan
Prabowo kepadanya pada Sabtu (13/7) siang. Surat tersebut kini berada di
rumahnya di Gandaria, Jakarta Selatan.
“Saya diberi tahu ajudan saya, Pak Ismail bahwa Pak Prabowo mengirim surat
amplop tertutup, sepertinya agak tebal, mungkin dua lembar,” kata Amien
“Isinya apa dibaca saja sekarang supaya saya tahu’, ‘Enggak pak, ada di rumah
di Gandaria’. Sementara Ismail ajudan saya ada di Pondok Bambu,” sambung Amien
menirukan dialog dengan ajudannya.
Amien Rais juga menegaskan tak mengetahui jika Prabowo akan menemui Jokowi.
“Sama sekali belum tahu. Makanya itu, mengapa kok tiba-tiba nylonong?” pungkas
Amien Rais.
Editor : Dimas Ryandi
Reporter : Gunawan Wibisono
| | 不含病毒。www.avg.com |