Politik Sepekan
Di Balik Pesan Semar dan Raksasa, Hingga Surat Prabowo ke Amien Rais
POLITIK <https://www.jawapos.com/nasional/politik/>
14 Juli 2019, 19:10:33 WIB
Di Balik Pesan Semar dan Raksasa, Hingga Surat Prabowo ke Amien Rais
Banyak makna dan pesan simbolik dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo di FX
Sudirman, Jakarta. Salah satunya adalah barisan punakawan dan raksasa.
Tokoh-tokoh wayang itu muncul dalam lukisan di tempat makan Sate Khas
Senayan, (Miftahul Hayat/JawaPos)
*JawaPos.com –*Banyak makna dan pesan simbolik dalam Pertemuan Jokowi
dan Prabowo di FX Sudirman, Jakarta. Salah satunya adalah barisan
punakawan dan raksasa. Tokoh-tokoh wayang itu muncul dalam lukisan di
tempat makan Sate Khas Senayan, tempat kedua tokoh itu makan siang.
Ada tujuh tokoh wayang yang ada di lukisan tersebut. Tiga di kiri, empat
di kanan. Dua kelompok wayang ini dipisahkan oleh sebuah gunungan. Dalam
pewayangan, gunungan biasanya digunakan sebagai pembuka atau penutup
sebuah babak.
Tokoh wayang yang ada di sebelah kanan adalah para punakawan. Mereka
adalah Semar dan tiga anaknya yaitu Petruk, Gareng dan Bagong (paling
belakang sendiri). Di sebelah kiri ada Togog dan sobatnya, Bilung.
Sementara paling belakang sendiri adalah figur raksasa.
Diketahui, dalam dunia pewayangan, Punakawan bertugas menjadi pendamping
para ksatria berwatak baik. Mereka adalah penghibur para ksatria.
Sedangkan Togog dan kawanannya adalah pendamping abdi dalem raksasa yang
berwatak jahat.
Lalu, adakah pesan khusus di balik latar belakang lukisan di tempat
kedua kontestan pilpres 2019 itu bertemu dan makan siang? Menjawab
pertanyaan tersebut, Sudjiwo Tedjo yang dikenal sebagai dalang wayang
nyentrik mencoba menyoroti lukisan punakawan dan raksasa itu.
Tedjo pun menyoroti karakter tokoh-tokoh pewayangan itu.Salah satunya
sosok Togog yang punya nama lain Tejo Mantri. Kata dia, Togog adalah
kakaknya Semar.
“Big Bang dalam wayang adalah telur yang pecah, kulitnya jadi Togog,
putihnya jadi Semar dan kuningnya jadi Bathara Guru,” cuit Sudjiwo Tedjo.
Tak cuma lukisan itu yang disorot. Sudjiwo Tedjo juga mengulas soal
Jokowi dan Prabowo yang bertemu di jalan. Menurut dia, pertemuan
tersebut mengandung kode tersendiri. Karena tak saling bertamu.
“Khas teater Jawa Timur-an yang urakan. Saya bangga,” ungkapnya.
Sementara itu, Peneliti cerita rakyat dari Universitas Indonesia (UI)
Suni Wasono mengatakan, lukisan wayang yang latar belakang itu memang
mendatangkan banyak tafsir. Dalam lukisan itu, ada tokoh Semar dan Togog.
Menurut Suni, dalam kisah pewayangan, tugas Semar bukan hanya sebagai
pendamping para ksatria. Semar adalah jelmaan Dewa Ismaya yang menjelma
dalam wujud manusia. Namun, bisa saja dalam konteks politik, Punakawan
itu adalah representasi rakyat.
“Dengan adanya lukisan itu bisa ditafsirkan kalau pimpinan yang didukung
sudah rukun, rakyatnya pun rukun. Kalau pimpinan mereka sudah
berekonsilisasi, rakyatnya pun bersatu,” katanya.
Pertemuan itu pun mendapat apresiasi dan pujian banyak tokoh. Salah
satunya adalahKetua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang menilai,
peristiwa bertemunya Jokowi dan Prabowo menjadi momentum yang sangat
penting dan bagus untuk merawat kerukunan. Utamanya dalam kehidupan
politik kebangsaan.
“Jokowi dan Prabowo memberi contoh kenegarawanan yang sangat tinggi
bahwa kontestasi politik itu tidak menyebabkan retak sesama tokoh
bangsa,” kata Haedar di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.
Bahkan, ia merasa, dalam konteks kehidupan nasional pertemuan itu akan
merekat kembali suasana kehidupan kebangsaan. Tentu saja harapannya
elemenelemen bangsa jadi lebih bersatu. Kedua, lanjutnya, pertemuan itu
memberikan masyarakat penguatan untuk kepentingan kohesi sosial atau
orang secara umum sering menyebut sebagai rekonsiliasi politik dalam
makna yang longgar.
“Jokowi dan Prabowo menutup dengan silaturahim. Sehingga, rekonsiliasi
nasional atau kohesi sosial kebangsaan itu memperoleh legitimasi yang
kuat dari kedua tokoh dan elite puncak yang berkontestasi dalam pilpres
yang lalu,” ujar Haedar.
Haedar merasa, pertemuan yang dilakukan di Stasiun MRT Jakarta memberi
isyarat tempat itu jadi satu simbol kemajuan Jakarta. Artinya, Indonesia
boleh berbeda politik tapi begitu selesai kita menatap ke depan.
Tujuannya, tidak lain membangun Indonesia berkemajuan. Ia yakin,
masyarakat dan segenap komponen bangsa akan bersatu dan membangun
negeri tercinta ini jadi Indonesia yang maju, adil, makmur,
bermartabat dan berdaulat.
“Sebagai negara yang modern di tengah persaingan global yang semakin
penuh dengan tantangan,” ujar Haedar.
Ia berharap, Allah SWT senantiasa meridhai Indonesia sebagai bangsa yang
tetap utuh dalam perbedaan dan menjadi bangsa yang penuh perdamaian
dansemakin maju.
Sementara eks Ketua MK Mahfud MD mengungkapkan, pertemuan Jokowi-Prabowo
bisa menghentikan pertikaian politik. “Pesan simbolik pertemuan Pak
Prabowo dan Pak Jokowi hari ini cukup bagus. Bisa menghilangkan
spekulasi atau dorongan-dorongan orang untuk memecah terus kedua tokoh
ini,” tutur Mahfud di Yogyakarta, kemarin.
Namun, tak semua pihak gembira dengan pertemuan Prabowo-Jokowi.
Dedengkot PAN Amien Rais merespons pertemuan ini dengan sindiran yang
bernada sinis. Ia mengatakan, tidak diberitahu soal pertemuan antara
Jokowi dengan Prabowo.
Amien Rais justru bertanya-tanya tentang pertemuan Prabowo dan Jokowi di
Jakarta kemarin. Saat menanggapi pertemuan itu, Amien malah bicara soal
adanya Semar, Gareng dan Petruk di layar.
“Tadi di MRT sudah dengan Pak Jokowi sudah pelukan, sudah makan bersama,
di gambar layarnya ada Semar, Gareng, Petruk dan lain-lain, itu nanti
kita lihat,” ujar Amien Rais saat ditemui wartawan di rumahnya,
Condongcatur, Depok, Sleman, DIY, (13/7).
Namun, Amien Rais saat itu tak menjelaskan lebih jauh soal pernyataan
tersebut. Dia tak mau lagi bicara banyak sebelum dia membaca surat yang
dikirimkan Prabowo kepadanya pada Sabtu (13/7) siang. Surat tersebut
kini berada di rumahnya di Gandaria, Jakarta Selatan.
“Saya diberi tahu ajudan saya, Pak Ismail bahwa Pak Prabowo mengirim
surat amplop tertutup, sepertinya agak tebal, mungkin dua lembar,” kata
Amien
“Isinya apa dibaca saja sekarang supaya saya tahu’, ‘Enggak pak, ada di
rumah di Gandaria’. Sementara Ismail ajudan saya ada di Pondok Bambu,”
sambung Amien menirukan dialog dengan ajudannya.
Amien Rais juga menegaskan tak mengetahui jika Prabowo akan menemui
Jokowi. “Sama sekali belum tahu. Makanya itu, mengapa kok tiba-tiba
nylonong?” pungkas Amien Rais.
Editor : Dimas Ryandi
Reporter : Gunawan Wibisono
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com