Suara Anak yang Terabaikan
Oleh :
Paulus Mujiran
Selasa, 23 Juli 2019 07:30 WIB
https://kolom.tempo.co/read/1227444/suara-anak-yang-terabaikan/full&view=ok
Sejumlah anak mengikuti lomba balap karung saat aksi menyambut Hari Anak
Nasional di Solo, Jawa Tengah, Ahad, 21 Juli 2019. Lomba tersebut
sekaligus untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak.
ANTARA Sejumlah anak mengikuti lomba balap karung saat aksi menyambut
Hari Anak Nasional di Solo, Jawa Tengah, Ahad, 21 Juli 2019. Lomba
tersebut sekaligus untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada
anak-anak. ANTARA
*Paulus Mujiran*
/Peneliti The Dickstra Syndicate, Semarang/
Dalam puncak Hari Anak Nasional pada 23 Juli, hal rutin yang dilakukan
pemerintah ialah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk
menyampaikan suaranya dalam tajuk "Suara Anak Indonesia". Biasanya
anak-anak itu secara bersama-sama membacakannya di depan presiden atau
menteri di tingkat nasional atau gubernur dan bupati/wali kota di
tingkat daerah. Suara anak ini biasanya dirumuskan dalam momen pelatihan
bersama anak beberapa waktu sebelumnya, yang mengangkat isu tematik di
daerah.
Dari tahun ke tahun, penekanan isu yang diangkat anak-anak ini beragam.
Tahun lalu, misalnya, berfokus pada kampanye anti-iklan rokok. Tahun ini
fokus ditekankan pada pemanfaatan media digital, termasuk media sosial.
Di daerah, dengan isu menonjol tertentu, seperti pernikahan usia anak,
kekerasan pada anak, dan stunting, biasanya mereka mengangkat isu-isu
itu dalam suara anak-anak mereka. Hal itu menarik karena anak diberi
kesempatan untuk bersuara di hadapan pejabat pemerintah yang tentu saja
amat membanggakan bagi anak-anak itu.
Perumusan suara anak itu biasanya menggunakan alur isu berdasar cluster
dalam Konvensi Hak Anak, seperti hak sipil dan kebebasan, lingkungan
keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan,
pendidikan pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, serta
perlindungan khusus. Beberapa masalah yang kerap diangkat dalam suara
anak, antara lain akta kelahiran, informasi layak anak, kerapuhan dalam
keluarga, putus sekolah, dan kekerasan terhadap anak.
Selain memberikan ruang dalam suara anak, pemerintah melibatkan
anak-anak dalam musyawarah perencanaan pembangunan dari tingkat
desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Dalam musyawarah itu, anak-anak diberi kesempatan memberikan sumbang
sarannya atas pembangunan yang sedang dan akan berlangsung. Diharapkan,
dengan cara itu, partisipasi anak dalam pembangunan akan terwujud.
Baik suara anak dalam momentum puncak Hari Anak Nasional maupun dalam
musyawarah perencanaan pembangunan selalu menyisakan pertanyaan hampa:
untuk apa suara anak dibacakan? Untuk apa anak diundang dalam musyawarah
perencanaan pembangunan? Fakta membuktikan, pembacaan suara anak
hanyalah ritual yang diulang dari tahun ke tahun, tapi minim aksi nyata
dari pembuat kebijakan untuk menindaklanjuti suara anak itu. Suara anak
hanya enak didengar, tapi tidak diperlukan.
Suara anak digaungkan dalam setiap peringatan Hari Anak, tapi dampak
yang dirasakan anak tidak signifikan. Tidak banyak pemerintah daerah
yang menjadikan suara anak sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan
publik mereka. Suara anak kemudian menjadi mirip slogan "habis dibaca
kertas dibuang". Itulah nasib suara anak.
Hal tersebut terjadi lantaran ruang kebijakan itu milik orang dewasa.
Ketika roda kebijakan pembangunan sudah berlangsung dan semua dirumuskan
oleh orang dewasa, kehadiran anak hanya menciptakan dunia "seolah-olah".
Begitu pun dengan mentalitas pejabat publik: yang penting suara anak
dibacakan; yang penting anak dalam musyawarah, tak peduli apakah anak
dapat menyuarakan aspirasinya atau tidak; dan yang penting dalam daftar
presensi dan foto hadir anak-anak karena akan ditanya pada saat evaluasi
kota/kabupaten layak anak.
ADVERTISEMENT
Sikap menyepelekan suara anak merupakan watak birokrat sejak dulu.
Mental formalitas "yang penting bapak senang" tidak juga luntur walaupun
kekuasaan telah silih berganti. Hal itu membuktikan rasa enggan pejabat
mendengarkan masukan-masukan dari publik (anak dan rakyat). Tradisi
membaca suara anak terus dipertahankan dengan persiapan yang matang,
sementara setelah itu suara anak yang orisinal dari jeritan anak-anak
dicampakkan begitu saja.
Untuk apa anak-anak dihadirkan dalam musyawarah mengenai rancangan
pembangunan ketika draf usulan sudah jadi dan anak-anak hadir hanya
untuk merestuinya? Seyogianya pelibatan anak-anak benar-benar berangkat
dari bawah, dari mana isu itu diangkat. Anak-anak, karena keluguan dan
kepolosan mereka, sejatinya memiliki usul-usul yang layak didengarkan.
Mereka bukan tokenisme sosok yang hanya "plonga-plongo", tapi informasi
mereka amat lengkap dan memadai.
Saya berharap tradisi membaca suara anak dalam momentum Hari Anak layak
dihentikan sepanjang hanya memajang anak di atas panggung dan bersuara,
lalu suara mereka dicampakkan. Hal itu hanya membuat anak-anak mendapat
kebanggaan semu. Pemerintah harus lebih bersungguh-sungguh memberikan
ruang partisipasi anak, bukan justru mengebirinya dalam momentum
pembacaan suara anak.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com