----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Chalik Hamid 
<[email protected]>Kepada: Jaringan Kerja Indonesia 
<[email protected]>; Gelora 45 
<[email protected]>; Sastra Pembebasan 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>Terkirim: Selasa, 23 Juli 2019 05.57.43 
GMT+2Judul: Fw: [nasional-list] Para Penolak HTI
  

   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'j.gedearka' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: 
"[email protected]" <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Senin, 22 Juli 2019 20.16.13 GMT+2Judul: 
[nasional-list] Para Penolak HTI
     
 


 
 
https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti
 
  Senin 22 Juli 2019, 09:56 WIB 
Kolom Kang Hasan
 
Para Penolak HTI
 Hasanudin Abdurakhman - detikNews          Hasanudin Abdurakhman      Share 0  
  Tweet     Share 0    16 komentar      Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi 
Wahyono/detikcom)  Jakarta - Di zaman sekarang dibangun atau terbangun kesan, 
kalau orang menolak Hizbut Tahrir atau yang lebih dikenal dengan sebutan HTI, 
ia dianggap anti-Islam. Pemerintah di bawah pimpinan Presiden Jokowi dianggap 
anti-Islam salah satu alasannya adalah karena membubarkan HTI dan membuat 
statusnya menjadi ilegal. Tapi apakah hanya Jokowi, yang bolehlah dianggap 
mewakili PDIP sekaligus kaum abangan, yang menolak HTI? Sebenarnya tidak 
demikian.
 
 Kita harus memilah masalahnya menjadi dua, yaitu antara HTI dan gagasan 
khilafah. HTI adalah penganjur gagasan khilafah. Tapi HTI bukan satu-satunya 
penganjur gagasan itu. HTI hanya satu-satunya yang berani terang-terangan 
menganjurkannya. Yang lain diam-diam saja.
 
 Yang cukup dekat dengan HTI dalam soal khilafah adalah Partai Keadilan 
Sejahtera atau PKS. Sebelum mendirikan partai orang-orang yang aktif dalam 
organisasi ini sudah lebih dahulu bergerak dalam suatu wadah yang sangat 
informal, yang bisa kita sebut jaringan bawah tanah, yang tentu saja tanpa 
nama. Di kalangan internal mereka menyebut diri Jamaah Tarbiyah. Substansi 
ajarannya sangat dekat dengan Ikhwanul Muslimin dari Mesir. Sebagaimana HTI, 
Jamaah Tarbiyah ini juga bergerak mendidik orang (kader) untuk berjuang 
menegakkan khilafah Islamiyah. Ini adalah negara transnasional yang tidak 
mengenal sekat bangsa. Mereka disatukan oleh identitas tunggal, yaitu Islam. 
Hanya saja, Jamaah Tarbiyah tidak membahas agenda itu di ruang terbuka.
 
 Pihak-pihak lain seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Dewan Dakwah, dan 
sebagainya tidak menganjurkan tegaknya khilafah. Bagi orang-orang NU, misalnya, 
khilafah versi mereka adalah negara Republik Indonesia ini. Negara bertujuan 
untuk melindungi sekaligus membuat umat Islam sejahtera. Negara seperti 
Indonesia sudah menjalankan fungsi itu, sehingga negara ini sudah layak disebut 
khilafah, sehingga tidak diperlukan khilafah transnasional tadi.
 
 Tapi itu adalah sikap formal. Bukan berarti dalam tubuh ormas-ormas tadi tidak 
ada yang punya gagasan soal khilafah. Ada! Keberadaan mereka melalui dua jalur, 
yaitu intrinsik dan infiltrasi. Bagaimana maksudnya?
 
 Gagasan soal khilafah itu dibangun atas dasar dalil-dalil yang dikenal di 
kalangan pengkaji Islam. Ada yang berupa ayat Quran, hadis, ada pula hasil 
pemikiran ulama. Bagaimana dalil-dalil itu dimaknai, sangat tergantung pada 
tafsir pengkajinya. Yang pernah bersinggungan langsung dengan pemikir Ikhwanul 
Muslimin atau Hizbut Tahrir saat belajar di Timur Tengah bisa saja terpengaruh. 
Bisa pula mereka membangun gagasan secara independen dari dalil-dalil yang 
mereka baca. Orang-orang seperti ini ada dalam ormas mana pun.
 
 Kelompok kedua adalah produk infiltrasi. Baik Jamaah Tarbiyah maupun HTI sejak 
dulu aktif membina orang-orang yang sudah berafiliasi dengan ormas lain. Jadi 
ada kader NU yang HTI atau Tarbiyah, demikian pula di Muhammadiyah. Mereka 
tetap jadi kader di dua tempat. Itu memang disengaja oleh kedua gerakan tadi. 
Mereka memang berniat merebut NU dan Muhammadiyah. 
 
 Jadi, siapa yang menolak HTI? Di atas sudah saya sebut, bahwa secara formal NU 
dan Muhammadiyah menolak mereka. Alasannya, karena kedua organisasi ini 
menganggap NKRI adalah wadah final untuk umat Islam Indonesia. Ada lagi 
sejumlah organisasi lain yang lebih kecil. Selain itu, ada alasan yang lebih 
pragmatis, yaitu mereka merasa terganggu oleh infiltrasi organisasi itu. Dalam 
hal yang kedua ini mereka tidak hanya merasa terganggu oleh HTI, tapi juga oleh 
Jamaah Tarbiyah. Beberapa tahun yang lalu PP Muhammadiyah sampai pernah 
mengeluarkan surat edaran yang memperingatkan warganya soal adanya infiltrasi 
itu. 
 
 Menariknya, Jamaah Tarbiyah juga menolak HTI. HTI mereka anggap menyimpang, 
termasuk dalam hal akidah. Saya pernah menjadi kader Jamaah Tarbiyah saat masih 
jadi mahasiswa di dekade 90-an. HTI yang waktu itu belum mendirikan organisasi 
formal berusaha merekrut pengikut di kampus-kampus. Jamaah Tarbiyah juga 
melakukan hal yang sama. Sederhananya, mereka bersaing berebut pengaruh. Saya 
waktu itu pernah ditugaskan untuk membendung pengaruh HTI itu. Sebelum 
berangkat ke sebuah acara di mana saya akan berhadapan langsung dengan kader 
HTI, saya diberi pengarahan oleh tokoh penting Jamaah Tarbiyah.
 
 Tapi kenapa Mardani Ali Sera bisa bersatu dengan Ismail Yusanto dalam gerakan 
ganti presiden tempo hari? Boleh jadi keduanya sudah berubah. Saya mendeteksi 
perubahan mendasar pada Jamaah Tarbiyah. Dulu sejauh yang bisa saya pahami, 
mustahil mereka akan terlibat dalam pemerintahan yang mereka anggap sesat 
(taghut). Tapi kini mereka terlibat, baik di legislatif maupun eksekutif. 
Menurut seorang rekan saya yang kader PKS, perdebatan untuk memutuskan berdiri 
atau tidaknya partai sangat keras.
 
 Tapi boleh jadi pula itu sifatnya sementara saja. Sangat sering terjadi, 
gerakan-gerakan Islam bersatu ketika ada musuh bersama. Setelah musuh bersama 
itu dikalahkan, mereka akan cakar-cakaran dengan sesama.
 
 Jadi, yang menolak HTI sebenarnya bukan hanya kalangan abangan-sekuler. 
Orang-orang Islam pun banyak yang menolak. Termasuk yang sangat dekat dengan 
mereka.
 
 Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang 
profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
 
 
 
(mmu/mmu)
 

 
 

 
 

 
 

 
      

Kirim email ke