https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti
Senin 22 Juli 2019, 09:56 WIB
Kolom Kang Hasan
Para Penolak HTI
Hasanudin Abdurakhman - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti#>
Hasanudin Abdurakhman
<https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti#>
Share *0* <https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti#>
Tweet <https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti#> Share
*0* <https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti#> 16
komentar <https://news.detik.com/kolom/d-4634047/para-penolak-hti#>
Para Penolak HTI Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Di zaman sekarang dibangun atau terbangun kesan, kalau orang
menolak Hizbut Tahrir atau yang lebih dikenal dengan sebutan HTI, ia
dianggap anti-Islam. Pemerintah di bawah pimpinan Presiden Jokowi
dianggap anti-Islam salah satu alasannya adalah karena membubarkan HTI
dan membuat statusnya menjadi ilegal. Tapi apakah hanya Jokowi, yang
bolehlah dianggap mewakili PDIP sekaligus kaum abangan, yang menolak
HTI? Sebenarnya tidak demikian.
Kita harus memilah masalahnya menjadi dua, yaitu antara HTI dan gagasan
/khilafah/. HTI adalah penganjur gagasan /khilafah/. Tapi HTI bukan
satu-satunya penganjur gagasan itu. HTI hanya satu-satunya yang berani
terang-terangan menganjurkannya. Yang lain diam-diam saja.
Yang cukup dekat dengan HTI dalam soal /khilafah/ adalah Partai Keadilan
Sejahtera atau PKS. Sebelum mendirikan partai orang-orang yang aktif
dalam organisasi ini sudah lebih dahulu bergerak dalam suatu wadah yang
sangat informal, yang bisa kita sebut jaringan bawah tanah, yang tentu
saja tanpa nama. Di kalangan internal mereka menyebut diri Jamaah
Tarbiyah. Substansi ajarannya sangat dekat dengan Ikhwanul Muslimin dari
Mesir. Sebagaimana HTI, Jamaah Tarbiyah ini juga bergerak mendidik orang
(kader) untuk berjuang menegakkan /khilafah Islamiyah/. Ini adalah
negara transnasional yang tidak mengenal sekat bangsa. Mereka disatukan
oleh identitas tunggal, yaitu Islam. Hanya saja, Jamaah Tarbiyah tidak
membahas agenda itu di ruang terbuka.
Pihak-pihak lain seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Dewan Dakwah, dan
sebagainya tidak menganjurkan tegaknya /khilafah/. Bagi orang-orang NU,
misalnya, /khilafah/ versi mereka adalah negara Republik Indonesia ini.
Negara bertujuan untuk melindungi sekaligus membuat umat Islam
sejahtera. Negara seperti Indonesia sudah menjalankan fungsi itu,
sehingga negara ini sudah layak disebut /khilafah/, sehingga tidak
diperlukan /khilafah /transnasional tadi.
Tapi itu adalah sikap formal. Bukan berarti dalam tubuh ormas-ormas tadi
tidak ada yang punya gagasan soal /khilafah/. Ada! Keberadaan mereka
melalui dua jalur, yaitu intrinsik dan infiltrasi. Bagaimana maksudnya?
Gagasan soal /khilafah/ itu dibangun atas dasar dalil-dalil yang dikenal
di kalangan pengkaji Islam. Ada yang berupa ayat Quran, hadis, ada pula
hasil pemikiran ulama. Bagaimana dalil-dalil itu dimaknai, sangat
tergantung pada tafsir pengkajinya. Yang pernah bersinggungan langsung
dengan pemikir Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir saat belajar di
Timur Tengah bisa saja terpengaruh. Bisa pula mereka membangun gagasan
secara independen dari dalil-dalil yang mereka baca. Orang-orang seperti
ini ada dalam ormas mana pun.
Kelompok kedua adalah produk infiltrasi. Baik Jamaah Tarbiyah maupun HTI
sejak dulu aktif membina orang-orang yang sudah berafiliasi dengan ormas
lain. Jadi ada kader NU yang HTI atau Tarbiyah, demikian pula di
Muhammadiyah. Mereka tetap jadi kader di dua tempat. Itu memang
disengaja oleh kedua gerakan tadi. Mereka memang berniat merebut NU dan
Muhammadiyah.
Jadi, siapa yang menolak HTI? Di atas sudah saya sebut, bahwa secara
formal NU dan Muhammadiyah menolak mereka. Alasannya, karena kedua
organisasi ini menganggap NKRI adalah wadah final untuk umat Islam
Indonesia. Ada lagi sejumlah organisasi lain yang lebih kecil. Selain
itu, ada alasan yang lebih pragmatis, yaitu mereka merasa terganggu oleh
infiltrasi organisasi itu. Dalam hal yang kedua ini mereka tidak hanya
merasa terganggu oleh HTI, tapi juga oleh Jamaah Tarbiyah. Beberapa
tahun yang lalu PP Muhammadiyah sampai pernah mengeluarkan surat edaran
yang memperingatkan warganya soal adanya infiltrasi itu.
Menariknya, Jamaah Tarbiyah juga menolak HTI. HTI mereka anggap
menyimpang, termasuk dalam hal akidah. Saya pernah menjadi kader Jamaah
Tarbiyah saat masih jadi mahasiswa di dekade 90-an. HTI yang waktu itu
belum mendirikan organisasi formal berusaha merekrut pengikut di
kampus-kampus. Jamaah Tarbiyah juga melakukan hal yang sama.
Sederhananya, mereka bersaing berebut pengaruh. Saya waktu itu pernah
ditugaskan untuk membendung pengaruh HTI itu. Sebelum berangkat ke
sebuah acara di mana saya akan berhadapan langsung dengan kader HTI,
saya diberi pengarahan oleh tokoh penting Jamaah Tarbiyah.
Tapi kenapa Mardani Ali Sera bisa bersatu dengan Ismail Yusanto dalam
gerakan ganti presiden tempo hari? Boleh jadi keduanya sudah berubah.
Saya mendeteksi perubahan mendasar pada Jamaah Tarbiyah. Dulu sejauh
yang bisa saya pahami, mustahil mereka akan terlibat dalam pemerintahan
yang mereka anggap sesat (/taghut/). Tapi kini mereka terlibat, baik di
legislatif maupun eksekutif. Menurut seorang rekan saya yang kader PKS,
perdebatan untuk memutuskan berdiri atau tidaknya partai sangat keras.
Tapi boleh jadi pula itu sifatnya sementara saja. Sangat sering terjadi,
gerakan-gerakan Islam bersatu ketika ada musuh bersama. Setelah musuh
bersama itu dikalahkan, mereka akan cakar-cakaran dengan sesama.
Jadi, yang menolak HTI sebenarnya bukan hanya kalangan abangan-sekuler.
Orang-orang Islam pun banyak yang menolak. Termasuk yang sangat dekat
dengan mereka.
*Hasanudin Abdurakhman* /cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang
profesional di perusahaan Jepang di Indonesia/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*