SURAT DARI SINGAPUR 

= SUICIDE =
Kenyataanya kasus Suicide atau Bunuh Diri bukan topik yang  nyaman dibicarakan 
secara terbuka; kalau tidak mau dikatakan taboo sama sekali. Seperti juga 
halnya dengan penyakit jiwa, Suicide  adalah topik taboo di antara kebanyakan 
masyarakat Singapura.
Tapi kasus Suicide semakin meningkat dalam beberapa tahun ini, kondisi telah 
memanas dan mengkawatirkan. Sehingga telah menjadi issue serious bagi 
pemerintah Singapura. Meningkatnya kasus Suicide meluas ke seluruh demographics 
di antara masyarakat Singapura yang multi cultural dan multi racial. Jadi bukan 
hanya terdapat pada satu sektor masyarakat saja. Ini fakta yang sangat 
significant. 
Menurut statistik, Suicide telah menjadi kasus kematian tertinggi bagi mereka 
yang berusia antara 10 dan 29 tahun. Bayangkan betapa seriousnya situasi.. 
Mulai dari anak anak berusia 10 tahun sudah termasuk dalam statistik kematian 
Suicide! Dan, dari keseluruhan  jumlah angka kasus tersebut 66.6% adalah laki 
laki. 
Menurut para kritikus, kebiasaan menutup diri terhadap issue ini sangat 
menghambat usaha menangani masalah dengan effective. Banyak yang merasa untuk 
menangai masalah, terlebih dulu perlu mengubah pandangan negative masyarakat 
terhadap clinical depression dan mental depression yang justeru mengakibatkan 
Suicide.
Laporan WHO (World Health Organisation) tahun 2016 menyatakan Singapura 
tercatat sebagai nomor 105 by age-standardised suicide rate dalam usaha 
memperbaiki / mencegah terjadinya Suicide. Pada tahun 2016 Suicide rate di 
Singapura tercatat 8.54%, meningkat dari 8.43% tahun sebelumnya. Pada tahun 
2016 saban hari paling kurang terjadi satu kasus Suicide. Jumlah angka Suicide 
pada tahun tersebut tercatat 429 kasus.
Suicide adalah illegal di Singapura, seperti yang tertera dalam Penal Code 
Section 309. Barang siapa yang berupaya melakukan Suicide  akan terancam  
hukuman penjara tidak lebih dari satu tahun atau hukum denda, atau hukum 
penjara dan juga denda. Sedangkan bagi mereka yang terbukti berusaha membantu / 
menganjurkan / mempermudah orang lain melakukan Suicide,  diancam hukuman 
penjara lebih berat. Dan jika korban yang bersangkutan dibawah usia 18, 
hukumannya bisa melebihi 10 tahun penjara.Melihat semakin bertambahnya kasus 
Suicide, ancaman hukuman tersebut ternyata tidak berhasil menurunkan angka 
kematian. Orang yang sudah bersedia melakukan Suicide tentunya tidak akan 
pernah memikirkan soal beratnya hukuman penjara pada dirinya jika sekiranya 
tertangkap. Pada detik detik tertentu ia bahkan tidak lagi berpikir secara 
waras, apalagi masalah ancaman Penal Code sebagai pencegah. Berdasarkan alasan 
diatas, The Penal Code Review Committee pada tanggal 9 September 2018 
menganjurkan agar Penal Code tersebut dihapuskan saja karena sudah terbukti 
tidak berhasil menurunkan angka kasus Suicide.Banyak suara mengeritik caranya 
Singapura menangani kasus Suicide dan survivors. Dianjurkan sebaiknya mereka 
tidak dikenakan hukuman penjara tapi sebaliknya perlu diberi bantuan medical 
treatment selayaknya dalam menangani orang yang menghadapi tekanan jiwa berat. 
Ini lebih berkemanusiaan daripada menggunakan hukuman penjara sebagai halangan. 
Sementara banyak kebijakan preventive telah dibangun dengan maksud menurunkan 
terjadinya Suicide. Satu dari organisasi yang banyak diketahui umum SOS ( The 
Samaritan of Singapore ) adalah non profit suicide prevention centre, bagian 
dari The National Council of Social Service Singapore, dan berafiliasi dengan 
AAS ( The American Association of Suicide Theology ) dan FOTES (International 
Federation of Telephonic Emergency Services ).
Fast paced living lifestyle senantiasa mendesak masyarakat saling beradu untuk 
maju, untuk sukses selekas mungkin. Tekanan ini dapat dirasakan dalam kehidupan 
masyarakat Singapura sehari hari. Para karyawan di kantor dianjurkan belajar 
menggunakan ala alat IT yang terbaru, teknologi terbaru. Akibatnya mereka 
dibuat berkompetisi dengan yang muda, yang baru lulus dari perguruan tinggi. 
Tentunya kompetisi yang tidak setaraf. 
Anak kecil usia tiga tahun sudah dikirim mengikuti "Enrichment" study. Dengan 
maksud agar nanti ketika masuk sekolah kanak kanak sudah lebih pandai membaca, 
menulis dan menghitung dibanding anak anak lainnya. Dan tekanan agar selalu 
mencapai angka tertinggi dalam kelas berjalan terus selama sekolah. Tekanan 
stress berbenih sejak kecil. Ini yang menjadi pokok masalah sehingga anak kecil 
menjadi angka statistik Suicide. 

MAY SWAN
Singapore 22 July 2019

Kirim email ke