BI: Indonesia Harus Bisa Ambil Momentum Perang Dagang AS-Tiongkok
EKONOMI <https://www.jawapos.com/ekonomi/>
24 Juli 2019, 09:29:26 WIB
BI: Indonesia Harus Bisa Ambil Momentum Perang Dagang AS-Tiongkok
Ilustrasi Gedung Kantor Pusat Bank Indonesia Jakarta (Dok.JawaPos.com)
*JawaPos.com –*Bank Indonesia (BI) menilai momentum perang dagang antara
Amerika Serikat dan Tiongkok harus dimanfaatkan oleh Indonesia dengan
mengambil adanya keuntungan peralihan investasi dari kedua negara
tersebut. BI justru beranggapa bahwa perang dagang bisa jadi momentum
tepat untuk dimanfaatkan negara-negara emerging market.
Sebagaimana diketahui, perang dagang memang telah membuat perekonomian
seluruh negara mengalami pelambatan. Termasuk Indonesia. Hal itu
dipengaruhi oleh rendahnya kinerja ekspor dunia akibat permintaan globan
yang mulai menurun.
“Kita jangan pesimis ini menjadi tren permanen. Indonesia harusnya bisa
memanfaatkan dan menangkap beralihnya sebagian investasi asing ke
Tiongkok ke negara lain dan menangkap diversifikasi investasi Tiongkok
keluar Tiongkok,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara saat
silahturahmi dengan awak media menyusul berakhirnya masa jabatanya di
Kantor BI, Jakarta, Selasa (23/7).
Mirza menyatakan, negara berkembang lainnya disebutkan telah terlebih
dahulu berhasil mengambil momentum perang dagang tersebut. Ia berharap
Indonesia dapat menyusul. Salah satunya caranya dengan stimulus
kebijakan dan fiskal yang menarik investor asing.
“Saat ini yang berhasil menarik investasi masuk sebagai diversifikasi
itu Vietnam dan Thailand,” terangnya.
Pemerintah, kata Mirza, sejatinya telah menangkap adanya momentum
investasi yang keluar dari Tiongkok. Hanya saja yang masih jadi
persoalan adalah eksekusinya yang belum berhasil. Untuk mewujudkan itu,
diperlukan kerjasama seluruh pihak.
“Eksekusi bukan mudah, jadi perlu dikoordinasikan pusat dan daerah. Kita
harus undang investasi, tingkatkan ekspor, tingkatkan perjanjian
kerjasama dengan berbagai negara,” jelasnya.
Di sisi lain, Mirza memperkirakan bahwa perang dagang antara dua negara
adidaya tersebut hanya berlangsung sementara. Menurut Mirza, perang
dagang hanya bagian agenda politik Presiden AS Donald Trump untuk
melenggang sebagai presiden kali kedua.
“Perang dagang ini lebih kepada agenda politik Presiden Amerika.
Retorika anti imigran dan barang impor dari luar amerika hanya instrumen
untuk kampanye 2020,” tukasnya.
Editor : Mohamad Nur Asikin
Reporter : Igman Ibrahim
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com