Sumber Radikalisme di Kampus Bisa dari Pendidikan di Bawahnya
Sumber Radikalisme di Kampus Bisa dari Pendidikan di Bawahnya
Peserta berfoto seusai Dialog Civitas Academica dalam Pencegahan
Terorisme di kampus Universitas Jember, Rabu (24/7/2019). ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BWKamis, 25 Juli 2019 | 23:30 WIB
*Jember, Beritasatu.com -*Direktur Pencegahan Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal (Pol) Hamli,
mengatakan, masih tingginya angka radikalisme di lingkungan kampus di
Indonesia disinyalir berasal dari jenjang pendidikan di bawahnya.
Hal ini disampaikan Hamli saat menjadi pemateri di kegiatan Dialog
Civitas Academica dalam Pencegahan Terorisme di kampus Universitas
Jember, Rabu (24/7/2019), yang diselenggarakan oleh BNPT dan Forum
Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur.
“Ada salah satu kampus di Jawa Timur yang tujuh puluh persen
mahasiswanya bersumber dari sumber yang terindikasi. Dari SMA-nya,
pondok pesantrennya, mereka sudah terpapar,” ungkap Hamli.
Dia meminta civitas academica di Jawa Timur tidak reaktif dengan data
yang disampaikannya. Hal ini diingatkannya menjurus pada data serupa
tentang temuan radikalisme di sejumlah kampus negeri di Indonesia yang
pernah juga disampaikan, tetapi ditanggapi secara emosional.
“Dulu rektornya pada marah semua. Asal data BNPT dipertanyakan. Namun,
ini hasil pengamatan lapangan, setelah dijelaskan detailnya mereka baru
sadar dan ramai-ramai bergerak melakukan penanggulangan,” tambah Hamli
dalam keterangan tertulis kepada*Beritasatu.com.*
Temuan radikalisme di lingkungan kampus, masih kata Hamli, memang bukan
hal baru. Pada 1983 pihaknya pernah melakukan pengamatan dan menemukan
adanya aktivitas keagamaan di salah satu masjid di lingkungan kampus
yang berlangsung hingga pukul 03.00 dinihari.
“Ini seharusnya menjadi perhatian kampus. Kenapa sampai ada aktivitas di
masjid kampus sampai pukul tiga pagi? Pencegahan bisa diawali dari
kecurigaan-kecurigaan atas hal-hal yang janggal,” tandasnya.
Dalam paparannya, dia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan civitas
academica dan lingkungan sekitar kampus dalam pencegahan terorisme. Hal
itu diakuinya akan menjadi sebuah sinergi nyata dalam upaya
penanggulangan terorisme.
“/Hard approach,/pendekatan keras dalam penanggulangan sebenarnya tidak
perlu dilakukan. Penanggulangan terorisme akan efektif jika dilakukan
dengan cara/soft approach,/dan itu membutuhkan keterlibatan masyarakat,”
pungkas Hamli.
Selain Brigjen Hamli, diskusi itu juga menghadirkan narasumber mantan
teroris Kurnia Widodo, Ketua FKPT Jatim Soubar Isman, Rektor Unej Moh.
Hasan.
Sumber: Suara Pembaruan
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com