Tak Efisien, Faisal Basri Kritik Proyek Jaringan Gas Jonan
CNN Indonesia | Jumat, 26/07/2019 10:06 WIB
Bagikan :
Tak Efisien, Faisal Basri Kritik Proyek Jaringan Gas Jonan Ekonom Faisal
Basri. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --Ekonom Institute for Development of Economics
and Finance (Indef)*Faisal
Basri*<https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri>mengkritik proyek
jaringan *gas <https://www.cnnindonesia.com/tag/gas>*(jargas) rumah
tangga yang dijalankan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM)*Ignasius Jonan <https://www.cnnindonesia.com/tag/ignasius-%20jonan>*.
Menteri Jonan diketahui memang tengah menjalankan proyek jargas.
Kementerian ESDM menargetkan pembangunan jargas bisa mencapai 4,7 juta
sambungan rumah tangga pada 2025.
Jargas dipilih sebagai alternatif penggunaan Liqufied Petroleum Gas
(LPG) 3 kilogram (kg) yang saat ini disubsidi dan pasokannya sebagian di
impor.
"Proyek ini tidak ada di Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), eh
tiba-tiba nongol," ujar Faisal, Kamis (25/7).
Lihat juga:
Jaringan Gas 293.533 Rumah Tangga Tersambung pada 2020
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190620194302-85-405104/jaringan-gas-293533-rumah-tangga-tersambung-pada-2020/>
Menurutnya, proyek tersebut tidak efisien. Pasalnya, pengadaannya mahal
karena jaringan transmisinya memiliki panjang ribuan kilometer.
Pemerintah harus membangun jaringan pipa yang sebagian ditugaskan kepada
perusahaan pelat merah. "Kebetulan proyek ini butuh pipa. Produsen pipa
cuma 2 yaitu Citra Turbindo dan Bakrie Pipe," ujarnya.
Selain itu, sambung ia, jargas juga tidak bisa dimanfaatkan oleh pelaku
usaha mikro keliling yang membutuhkan kompor portabel. Alih-alih jargas,
Faisal menilai pemerintah seharusnya mendorong program kompor listrik
yang lebih efisien.
Terlebih, hampir 100 persen masyarakat sudah terjangkau oleh jaringan
listrik. Faisal memahami pemerintah ingin mengurangi impor LPG melalui
proyek jargas di dalam negeri.
Namun, Faisal mengingatkan untuk menghemat impor pengeluaran di dalam
negeri harus lebih rendah dari kurs US$1.
"Kalau saya menghemat impor US$1 tapi ongkosnya Rp20.000, itu bodoh,"
tuturnya.
Pemerintah melalui PT PLN (Persero) saat ini juga sedang menjalankan
mega proyek 35 ribu MegaWatt (MW) yang akan lebih banyak memasok listrik
yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena penugasan tersebut, utang
perusahaan pelat merah terus meningkat.
Dengan menjalankan proyek jargas, pemerintah kembali menambah beban
BUMN. "Proyek listrik 35 ribu MW saja belum selesai. Ini ada mega proyek
lagi," tuturnya.
Lihat juga:
Kementerian ESDM Ajukan Anggaran Rp9,67 Triliun di RAPBN 2020
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190620155857-532-405012/kementerian-esdm-ajukan-anggaran-rp967-triliun-di-rapbn-2020/>
Ke depan, sambung Faisal, pemerintah bisa bekerja sama dengan PT PLN
(Persero) untuk penyediaan kompor listrik bagi masyarakat. Cara ini bisa
menggantikan penyediaan tabung gas 3kg oleh pemerintah.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Djoko
Siswanto mengungkapkan untuk wilayah yang memiliki sumber gas, lebih
baik memanfaatkan gas apalagi kalau bersumber dari gas flare.
"Sayang kan gas dibakar percuma dan mencemari udara, untuk wilayah yang
sudah tersedia listriknya dan berlebihan listriknya silakan pakai kompor
listrik," tuturnya ketika dikonfirmasi Jumat (26/7).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services
Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai saat ini biaya penggunaan kompor
listrik sekitar 20 persen lebih murah dari LPG nonsubsidi tetapi masih
lebih mahal dibandingkan dari jargas.
Lihat juga:
Harga Gas Turun, Penyaluran Subsidi LPG Jadi Lebih Hemat
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190715210534-85-412409/harga-gas-turun-penyaluran-subsidi-lpg-jadi-lebih-hemat/>
"Kalau dengan harga yang sekarang, masih lebih murah jargas dibandingkan
kompor listrik," jelas Fabby.
Penetrasi kompor listrik juga perlu waktu. Maklum harga kompor listrik
cukup mahal.
Selain itu, daya yang dibutuhkan kompor listrik juga besar di atas 1.000
Watt. Artinya, masyarakat yang hanya memiliki daya listrik kecil tidak
bisa menikmatinya.
"Paling tidak Anda harus memiliki daya 5.500 VoltAmpere VA, masak Anda
hanya punya kompor 1?," ujarnya.
Lihat juga:
70 Ribu Rumah Tangga di Muba Bakal Terpasang Jaringan Gas
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190620165603-85-405041/70-ribu-rumah-tangga-di-muba-bakal-terpasang-jaringan-gas/>
Jika pemerintah ingin mendorong kompor listrik, pemerintah dapat
menyasar golongan menengah ke atas terlebih dahulu. Selain itu, penghuni
apartemen dan rumah susun juga bisa menjadi sasaran pengguna kompor
listrik yang potensial.
Selain itu, pemerintah juga harus rajin melakukan sosialisasi penggunaan
kompor listrik kepada masyarakat. Pasalnya, menurut Fabby, tidak mudah
mengubah pola masyarakat yang terbiasa memasak menggunakan api.
Sebagai informasi, BPH Migas mencatat pembangun jargas hingga 2018 telah
mencapai 325.852 sambungan rumah tangga (SR) yang tersebar di 40
kota/kabupaten. Tahun depan, Kementerian ESDM mengusulkan anggaran
pembangunan jargas melonjak lebih dari 4 kali lipat dari pagu tahun ini
yaitu dari Rp852,48 miliar menjadi Rp3,52 triliun.
Seiring peningkatan anggaran, target pembangunan jargas tahun depan juga
melesat dari 78.216 sambungan rumah tangga (SR) di 17 kota/kabupaten
menjadi 293.533 SR di 53 kota/kabupaten.
Lihat juga:
Jonan Ungkap Impor LPG RI Capai Rp 40 Triliun Per Tahun
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190401072431-85-382427/jonan-ungkap-impor-lpg-ri-capai-rp-40-triliun-per-tahun/>
*(sfr/agt)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com