*Pulau Jawa harus dimerdekakan, bebas dan berdaulat penuh dari kaitan
dengan lain-lain pulau. Pulau Jawa sudah sangat maju dan bisa lebih maju
lagi. Kalau mau perang saudara atau perang antara kiaya, monggo-monggo
dipersilahkan dengan hormat biar saja terjadi di pulau Jawa, jangan membawa
problem dan beban buat orang lain yang selama ini dimiskinkan dan
ditinggalkan. Perang saudara atau perang Kiaya di Pulau Jawa tidak
disebarkan ke lain wilayah, sangat berakibat lebih merugikan rakyat daerah
di luar pulau Jawa. Ayo sumbangkan kemerdekaan pulau Jawa merdeka dan
kedaulatan.*


*https://nasional.tempo.co/read/1228614/jika-umat-islam-tak-dialog-pengamat-khawatir-2024-perang-saudara?utm_source=Digital%20Marketing&utm_medium=Web%20Notif&utm_campaign=Nasional_Mutia&utm_content=&utm_term=
<https://nasional.tempo.co/read/1228614/jika-umat-islam-tak-dialog-pengamat-khawatir-2024-perang-saudara?utm_source=Digital%20Marketing&utm_medium=Web%20Notif&utm_campaign=Nasional_Mutia&utm_content=&utm_term=>
*


*Jika Umat Islam Tak Dialog, Pengamat Khawatir 2024 Perang Saudara*

Reporter:
*Halida Bunga*

Editor:
*Juli Hantoro*

Kamis, 25 Juli 2019 19:21 WIB

0 KOMENTAR
<https://nasional.tempo.co/read/1228614/jika-umat-islam-tak-dialog-pengamat-khawatir-2024-perang-saudara/full&view=ok#comments>
[image: Ridlwan Habib bersama Ahmad Khoirul Umam dalam diskusi Tren Gaya
Hijrah: Peluang atau Ancaman bagi NKRI di Jakarta, Kamis, 25 Juli 2019.
Tempo/Halida Bunga Fisandra]
<https://statik.tempo.co/data/2019/07/25/id_858561/858561_720.jpg>

*Ridlwan Habib bersama Ahmad Khoirul Umam dalam diskusi Tren Gaya Hijrah:
Peluang atau Ancaman bagi NKRI di Jakarta, Kamis, 25 Juli 2019.
Tempo/Halida Bunga Fisandra*

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Pengamat terorisme dan
radikalisme, Ridlwan Habib khawatir bakal ada perang saudara antar- umat
Islam  <https://www.tempo.co/tag/islam>pada 2024. Hal itu bisa terjadi jika
segregasi, perpecahan, dan polarisasi kelompok internal umat Islam
pascaPemilu 2019 tidak menemukan ruang dialog.

Ridlwan menyandarkan kekhawatiran itu setelah melihat hingga Pemilu 2019
berakhir, belum ada rekonsiliasi di tingkat akar rumput umat Islam.

"Di elite politik iya. Prabowo ketemu di MRT. Prabowo makan nasi goreng.
Tapi di grassroot itu belum muncul. Itu yang harus dicari solusinya," kata
Irdlwan seusai bicara di diskusi bertajuk Tren Gaya Hidup Hijrah: Peluang
atau Ancaman bagi NKRI di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2019.

Ridlwan mencontohkan, ada pihak menganggap kelompok khilafah harus dibasmi
dari Indonesia. Sementara pihak yang lain juga menganggap kelompok liberal
lah yang harus dibasmi.


"Jadi narasinya sudah basmi-basmian menghilangkan dan menegasikan kelompok
lain. Kan jadi tidak ada lagi ruang hidup harmonis untuk umat islam dan
umat lain," katanya.

Terkait tahun politik 2024 mendatang, Ridlwan mengatakan era Joko Widodo
telah selesai dan menjadi tahun tarung bebas politik."Kalau ajang tarung
bebas lagi ya *voter*. *Voter* itu lah ormas-ormas Islam ini," katanya.


Terkait ormas Islam
<https://tekno.tempo.co/read/1222262/tentang-organisasi-islam-di-indonesia-ini-kata-akademisi-inggris>
seperti
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, Ridlwan menilai keduanya masih bertindak
secara politik dan melupakan fungsi utama mereka sebagai ormas Islam yang
seharusnya mengayomi semua kepentingan. Dia mengingatkan agar dua ormas itu
tak terjebak pada politik praktis.

"Jika berada pada politik *an sich*, maka tidak ada lagi yang akan mewadahi
ini. Larinya ke kelompok hijrah itu, yang rata-rata dikendalikan kelompok
transnasional," katanya.

Kirim email ke