https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1578-tafsir-orang-biasa
/*Tafsir Orang Biasa*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group * Pada: Jumat, 26
Jul 2019, 05:00 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1578-tafsir-orang-biasa>
<https://twitter.com/home/?status=Tafsir Orang Biasa
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1578-tafsir-orang-biasa
via @mediaindonesia>
Tafsir Orang Biasa
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/07/fbedd4fb257e99513990684f4d3d2692.jpg>
/MI/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
INI dua pertemuan lokusnya sama-sama di Menteng, Jakarta Pusat, meski
berbeda jalan. Kawasan elite tentu saja. Latar waktunya sama pula, Rabu
(24/7) siang hari. Kedua perjumpaan juga ‘disempurnakan’ persamuan makan
siang. Makan bersama dalam adab mana pun menunjukkan keakraban, kedekatan.
Inilah pertemuan Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto dan
Surya Paloh dengan Anies Baswedan. Pertemuan yang riuh ditafsirkan.
Salah satunya nujum itu perkiraan pasangan Pilpres 2024, Prabowo akan
berpasangan dengan Puan Maharani atau Prabowo-Budi Gunawan; Anies
Baswedan-–jika sukses memimpin Jakarta--mungkin dipasangkan dengan tokoh
lain lagi.
Pertemuan Mega-Prabowo ialah ‘kelanjutan’ pertemuan Prabowo-Jokowi di
Stasiun MRT Lebak Bulus yang juga diakhiri makan siang di kawasan
Senayan. Pertemuan Mega-Prabowo tak mengagetkan karena sudah
diberitakan. Meski baru saja 'Perang Bubat' pada pilpres, kedua tokoh
ialah pasangan calon presiden dan wakil presiden Pemilu 2009. Wajar jika
keduanya punya kedekatan.
Namun, pertemuan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Gubernur
DKI Jakarta Anies Baswedan agak mengejutkan. Terasa tiba-tiba. Kedua
tokoh juga berbeda politik pada Pilkada Jakarta 2017 dan pilpres yang
baru usai. Akan tetapi, Anies juga bukan orang jauh. Ia salah seorang
deklarator ormas NasDem pada 2010, bahkan Anies yang membacakan
deklarasi itu.
Wajar jika Surya mengatakan ‘rumah berangkat’ Anies memang dari NasDem.
Surya juga mengatakan ini pertemuan antara ‘abang’ dan ‘adik. Wajar
pula jika si ‘abang’ meminta ‘si adik’ lebih mengoptimalkan kemampuannya
dalam memimpin Jakarta. Menurut Surya, Anies baru menggunakan lima dari
10 potensi dirinya dalam memimpin Jakarta.
Pertemuan Surya-Anies memang paling banyak mengundang pertanyaan dan
komentar, juga kejengkelan. Banyak yang bertanya, kenapa Surya seorang
nasionalis yang konsisten bertemu Anies yang ketika pilkada Jakarta
dilumuri politik identitas yang membelah?
Tak sedikit yang memuji. Bahwa pertemuan itu penting untuk menarik
tokoh-tokoh itu ke rumah kebangsaan. Seorang teman menulis, bagaimanapun
kerasnya perseteruan, politik memang harus lekas punya jalan bersama.
Akan tetapi, ia menanyakan, 'Bagaimana mereka yang mati pada kerusuhan
21-22 Mei? Siapa yang bertanggung jawab? Keringat mereka juga masih
basah, tapi ‘atasan’ mereka sudah cipika-cipiki dan tertawa-tawa di
ruang sejuk', tulis teman saya via Whatsapp. "Tetapi, pelajaran yang
berharga, berpolitik harus dijauhkan dari kebencian. Maaf, ini tafsir
dari orang biasa," imbuhnya.
Teman lain lagi menulis 'Ini pertemuan zigzag para elite serupa
permainan catur yang cerdas, yang meruntuhkan ‘pertahanan’ kedua
kelompok pendukung calon presiden yang mengeras'. Setidaknya, kini
setelah para elite yang berbeda politik bertemu, perseteruan sudah mulai
melemah.
Pertemuan Mega-Prabowo ditafsirkan isyarat masuknya Gerindra ke koalisi
Jokowi. Ini bisa dibaca dengan sambutan Mega yang istimewa. Pertama,
makan siang dengan menu nasi goreng buatan sang tuan rumah. Nasi goreng
Mega memang untuk tamu-tamu istimewa. Gus Dur dan Jokowi antara lain
yang pernah menikmati hidangan ini.
Kedua, Mega juga dididampingi kedua anaknya, Puan Maharani dan Prananda
Prabowo Prananda tak sering muncul di depan publik; selain kader PDIP
yang juga Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Sekjen PDIP Hasto
Kristiyanto, dan Kepala BIN Budi Gunawan. (Etiskah Kepala BIN kerap
muncul di ruang publik?
Mega bahkan menyilakan Prabowo bicara sendiri kepada Jokowi jika ada
hasrat berkoalisi. Ia pun siap jadi penyambung lidah Prabowo kepada sang
presiden terpilih itu. Mega seperti tak merasa perlu bicara rencana
bergabungnya Gerindra kepada partai-partai koalisi. Jika Gerinda
benar-benar berkoalisi, bisa jadi ini baik untuk rekonsialisi bangsa
yang nyaris terbelah. Namun, sangat mungkin kegaduhan justru akan
terjadi di kubu koalisi Jokowi sendiri. Kinerja kabinet pun akan terganggu.
Misalnya Fadli Zon menjadi salah seorang menteri, saya membayangkan
sindirian-sindirannya yang keras kepada Jokowi. Presiden planga-plongo,
'Petruk dadi Ratu', dan 'salesman bukan negarawan'. Sosok yang
direndahkan itu jadi atasannya dan ia jadi pembantunya. Bagaimana ia
menempatkan diri?