AS Merupakan Batu Sandungan Kerja Sama dan Pembangunan Global

http://indonesian.cri.cn/20190727/2dd6885b-ab64-a05b-8bab-7e24c6658d77.html
2019-07-27 14:02:17

Sekitar 100 tokoh golongan keras AS terhadap Tiongkok baru-baru ini dalam sepucuk surat terbuka bersama dengan sembarangan menyebut Tiongkok dengan kepentingan ekonomi membujuk sekutu AS dan negara-negara lain dalam rangka memperbesar pengaruh globalnya. Ternyata, opini tersebut merupakan fitnahan yang bermaksud jahat terhadap perkembangan ekonomi Tiongkok yang mendatangkan manfaat kepada seluruh dunia, dan juga memanifestasikan rasa dengki sejumlah orang AS terhadap kekuatan ekonomi Tiongkok yang terus meningkat.

  Padahal, unilateralisme dan proteksionisme yang dianut politikus AS barulah batu sandungan bagi kerja sama dan pembangunan berbagai negara di dunia.

Selama beberapa tahun ini, AS bertolak dari kepentingannya sendiri main tongkat tarif dan memberikan pagar perdagangan sehingga dengan kasar mengacaukan rantai industry dan rantai nilai global dan mendatangkan dampak serius terhadap perdagangan, investasi bahkan ekonomi global.

   Sejak tanggal 10 Oktober 2018, AS dengan alasan apa yang disebutnya keamanan nasional memperluas lingkup pemeriksaan risiko investasi asing di 27 bidang dan menerapkan pelaporan paksaan sehingga memukul lebih lanjut keyakinan para investor global. Laporan Teropongan Ekonomi Dunia yang diumumkan Dana Moneter Internasional IMF baru-baru ini sekali lagi menurunkan 0,1 poin prakiraan laju pertumbuhan ekonomi global tahun ini dan tahun depan dibandingkan prakiraan bukan April lalu.

   Sementara itu, hegemonisme AS tengah dengan serius merugikan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban manusia.

   Dengan pemikiran hegemonis “Amerika Nomor Satu”, AS tengah terus mempergawat defisit pembangunan global. Sedangkan, sejumlah politikus AS tak menghiraukannya malah menyebut upaya Tiongkok yang membantu perkembangan negara-negara lain sebagai godaan kepentingan ekonomi, itu benar-benar absurd. Perkembangan Tiongkok sebagai negara besar yang bertanggung-jawab tak saja bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rakyat terhadap kehidupan indah dan juga berharap membantu negara dan rakyat negara lain bersamaan merealisasi pembangunannya sendiri.

   Selama beberapa tahun ini, rasio kontribusi Tiongkok terhadap pertumbuhan ekonomi dunia berturut-turut melampaui 30 persen yang menempati urutan pertama di dunia.

   Institut Global McKinsey baru-baru ini dalam laporannya mengatakan, dari tahun 2000 hingga 2017, indeks ketergantungan dunia kepada ekonomi Tiongkok naik dari 0,4 hingga 1,2. Ini menunjukkan, masyarakat internasional memperoleh banyak manfaat dari perkembangan ekonomi Tiongkok.

   Setahu umum, Tiongkok pada 2013 mengemukakan inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan, dan tujuannya ialah mempertahankan prinsip berkonsultasi bersama, membangun bersama dan berbagi bersama, memobilisasi lebih banyak sumber daya dan melalui konektivitas merealisasi sinergi pasar dan membebaskan dinamika pertumbuhan agar lebih banyak negara dan daerah bergabung dalam globalisasi ekonomi. Sejauh ini, belum ada satu negara pun yang terjerumus dalam jebakan hutang karena berpartisipasi dalam inisiatif tersebut.



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke