*Toleran kepada sesama, tetapi bagi yang tidak sesama? hehehehe*

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190728095009-20-416164/jokowi-tegaskan-islam-di-indonesia-toleran-dan-moderat



Jokowi Tegaskan Islam di Indonesia Toleran dan Moderat
CNN Indonesia | Minggu, 28/07/2019 10:16 WIB


[image: Jokowi Tegaskan Islam di Indonesia Toleran dan Moderat]Jokowi saat
pembubaran TKN Jokowi-Ma’ruf di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (26/7). (CNN
Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo
<https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi> menegaskan Islam di Indonesia
bersifat moderat dan modern. Ia membantah saat ini dirinya
menghadapi peningkatan fundamentalisme di Indonesia.

"Saya percaya Islam di Indonesia toleran. Islam di Indonesia modern dan
berpikiran panjang," kata Jokowi saat wawancara dengan CNN beberapa waktu
lalu.

Hal itu disampaikan setelah dirinya menyelesaikan pertarungan dengan 'lawan
lamanya' Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres
<https://www.cnnindonesia.com/tag/pilpres-2019>) 2019. Menurutnya, saat ini
seluruh warga Indonesia harus bersatu merestorasi keadaan dan bekerja sama
membangun negeri.


Lima tahun lalu, Jokowi memenangkan Pemilu 2014 dengan menjanjikan lapangan
kerja baru, memberantas korupsi dan menjamin hak asasi manusia. Namun dalam
kampanye untuk periode kedua, ia merangkul garis kanan.

Lihat juga: Gerindra Makin 'Pede' Gabung Koalisi, Klaim Tak Minta Kursi
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190727163443-32-416063/gerindra-makin-pede-gabung-koalisi-klaim-tak-minta-kursi/>

Hal itu dilakukan melalui memilih Kyai Haji Maruf Amin sebagai calon wakil
presiden dalam Pilpres 2019.

Jokowi menyebut Maruf sebagai muslim yang moderat. Maruf saat itu masih
menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia serta Rais Aam Syuriah Nadhlatul
Ulama 'berhasil' menarik suara pendukung Prabowo Subianto yang berbasis
konservatif.

Namun Jokowi membantah dirinya merangkul kelompok garis keras hanya untuk
memenangkan Pilpres.

"Kami ingin bekerja bersama seluruh lapisan masyarakat. Kami ingin bersama
semua orang membesarkan negara ini, bukan dengan mereka yang ingin
menghancurkan ideologi negara ini. Tidak ada kompromi," kata Jokowi.

Meski berulang kali menyatakan Islam Indonesia moderat namun kenyataannya
terlihat peningkatan perkara intoleransi. Kelompok pejuang hak asasi
manusia menyatakan hal itu terjadi terhadap kelompok minoritas dan
komunitas LGBT.

Lihat juga: PKS Tanggapi Putra Jokowi Masuk Bursa Pilkada Solo
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190727191334-32-416091/pks-tanggapi-putra-jokowi-masuk-bursa-pilkada-solo/>

Mulai dari tuduhan penistaan ayat suci Alquran oleh mantan Gubernur DKI
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang berujung pada aksi
besar-besaran di depan Istana pada 2016 hingga penangkapan 141 orang yang
diduga LGBT di sebuah pusat kebugaran dalam satu malam oleh polisi pada Mei
2017.

Human Rights Watch melaporkan penggerebekan dan tindakan main hakim sendiri
menyebabkan sekitar 300 orang tertangkap pada tahun itu. Angka tertinggi
yang pernah tercatat di Indonesia.

Dalam laporan dunia 2019, Human Rights Watch mengatakan pemerintahan Jokowi
'mengambil langkah kecil' pada 2018 untuk melindungi hak-hak sekelompok
orang Indonesia yang paling rentan.

"Meski Jokowi mengeluarkan permohonan toleransi beragama dalam pidato
kenegaraan tahunan pada 16 Agustus, pemerintahannya gagal menerjemahkan
dukungan retoriknya untuk HAM menjadi kebijakan yang bermakna dalam masa
jabatan pertamanya," tulis laporan tersebut.

Foto: Agus Suparto/Fotografer Pribadi Jokowi

Mengenai hal ini, Presiden Jokowi menyatakan sebagian besar masyarakat
Indonesia adalah umat muslim yang menolak untuk menerima homoseksualitas.

"Untuk toleransi, bisa dilihat semua orang memiliki toleransi yang baik.
Namun ketika ke peraturan dan hukum saya dapat pastikan akan ada penolakan
besar dari rakyat," ucap mantan Wali Kota Solo ini.

Sikap berbeda diberikan dalam menghadapi teroris. Jokowi menyatakan
pemerintahannya sama sekali tak memberi ruang terhadap terorisme dan
radikalisme. Namun ia menyadari wajar apabila dua hingga empat persen dari
total warga Indonesia merupakan anggota kelompok garis keras.

"Itu menjadi kewajiban negara untuk mengetahui bagaimana cara merangkul
mereka," tuturnya.

Lihat juga: Polri Jelaskan Alasan Densus 88 Masuk Tim Teknis Kasus Novel
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190726211109-12-415946/polri-jelaskan-alasan-densus-88-masuk-tim-teknis-kasus-novel/>

Hal itu dibuktikan melalui rencana pembebasan otak dari kejadian Bom Bali
2002, Abu Bakar Baasyir, dengan alasan kemanusiaan. Tetapi rencana itu
ditolak banyak pihak sehingga Jokowi membatalkannya.

Pada Mei 2018, kelompok terafiliasi ISIS meledakkan bom di sejumlah gereja
di Surabaya dan turut menewaskan polisi. Enam pelaku diketahui pernah ikut
berperang di Irak dan Suriah, berdasarkan laporan kepolisian.

Jokowi mengatakan polisi terutama Detasemen Khusus 88 anti-teror memiliki
dua cara menghadapi teroris, yakni pendekatan halus dan membawa mereka
kembali pada ideologi yang dianut Indonesia atau menggunakan penegakan
hukum yang ketat.

"Kami tidak memberikan toleransi kepada terorisme di Indonesia," Jokowi
menegaskan.

Kirim email ke