Arsip Rahasia AS: Hoax Mao Zedong Terlibat G30S
Reporter:Rio Apinino | 18 Oktober, 2017
https://tirto.id/arsip-rahasia-as-hoax-mao-zedong-terlibat-g30s-cyz3
*/Kabel/**//**/diplomatik AS menyingkap berita harian/**//*/*Angkatan
Bersendjata*//**/*/soal Mao Zedong/**//**/terlibat penculikan jenderal
ternyata fiktif belaka./*
*Peristiwa G30S memperuncing hubungan Indonesia dengan Cina karena
Negeri Tirai Bambu dituduh terlibat.*
25 April 1966, koran resmi tentara,/Angkatan Bersendjata/, menerbitkan
sebuah artikel yang berisi tuduhan terhadap Partai Komunis Cina (PKC)
dan Mao Zedong. Artikel ini menuduh Mao terlibat dalam gerakan
penculikan dan pembunuhan elit tentara pada 1 Oktober 1965. Elit tentara
yang dinamakan Dewan Jenderal ini diisukan akan mengkudeta Sukarno.
Artikel ini memang hanya satu dari sekian banyak laporan serupa. Namun
ia jadi menarik karena jadi artikel pertama yang menuduh Cina dan Mao
terlibat.
Paragraf pertama artikel itu dibuka oleh kalimat bombastis, “Berdasarkan
fakta, sekarang bisa disebutkan bahwa kudeta Gestapu/PKI direkayasa dan
diatur di Peking dalam kerangka revolusi dunia yang disokong oleh
Peking.” Dikatakan bahwa kudeta tersebut adalah “langkah awal untuk
merealisasikan mimpi Mao”. Selanjutnya, artikel ini membahas mengapa
kesimpulan itu bisa muncul.
Menurut artikel tersebut, rencana kudeta dimulai ketika Aidit datang ke
Cina selama delapan hari pada Agustus 1965. Dan selama itu, tulis
artikel tersebut, Aidittiga kali bicara dengan Mao. Dalam salah satu
pertemuan, Mao bilang, “Menurut pengamatan saya, mengeliminir semua
jenderal senior seperti Nasution dan Yani… akan membuat tentara seperti
naga tanpa kepala.”
Aidit ragu dengan usul itu. Dia membalas pernyataan Mao dengan
mengatakan bahwa untuk mengeliminir semua tentara reaksioner, artinya
juga harus membantai ratusan tentara lain yang loyal kepada mereka.
Mao meyakinkan Aidit bahwa langkah tersebut tidak jadi soal. Mao
menjelaskan dalam konteks memenangkan komunisme di suatu negara,
pembunuhan terhadap elemen reaksioner dibutuhkan.Maomenguatkan
argumennyadengan bilang bahwa dirinya sendiripernah melakukan hal
serupa. Bahkan dengan jumlah yang lebih besar: 20 ribu.
Artikel itu menggambarkanMao bicara soal pembunuhan dengan sangat
enteng, sambil tertawa tanpa henti.
“Meski kamu tidak punya kesempatan membantai 20 ribu orang, kamu
setidaknya harus membunuh semua jenderal reaksioner, dan itu harus
dilakukan dengan mengesankan. Niatnya bukan hanya balas dendam, tapi
juga untuk meneror mereka yang masih hidup, sehingga tidak berani
menentang komunisme,” kata Mao, masih sambil tertawa.
Untuk lebih meyakinkan Aidit menjalankan strategi kotor tersebut, Mao
berjanji untuk menyokong penculikan dengan memberikan bantuan sangat
besar: peralatan militer yang cukup untuk 30 ribu orang.
Artikel ini menjadi landasan tentara menjustifikasi pembantaian dan
pemenjaraan terhadap etnis Tionghoa. Masyarakat juga tersulut, terbukti
dengan banyaknya pembantaian terhadap etnis minoritas tersebut yang
dilakukan sipil di berbagai daerah.
Misteri terbesar artikel yang mirip seperti naskah teater ituadalah
narasumbernya.Sejarawan Victor M. Fic, misalnya, dalam catatan kaki di
bukuJakarta Coup: October 1, 1965 (2004)
<https://books.google.co.id/books?id=HphoV_27IOkC&pg=PA308&lpg=PA308&dq=indon+coup+planned+by+aidit+and+mao&source=bl&ots=9RlHSSzkkk&sig=hAIKAzACNqKNv7DG8DTFsuD43b0&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwinjuPor_nWAhVJuY8KHYkcBF0Q6AEINTAD#v=onepage&q=indon%20coup%20planned%20by%20aidit%20and%20mao&f=false>,
mengatakan bahwa artikel itu bersumber dari “seseorang yang tidak mau
diketahui namanya.. kemungkinan besar merupakan sumber militer”.
Narasumber tentara itu tidak juga diketahui sampai kemudian Pusat
Deklasifikasi Nasional (NDC) Amerika Serikat (AS) membuka arsip rahasia
yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Selasa (17/10)
kemarin.
Arsip Rahasia AS: Hoax Mao Zedong Terlibat G30S
Alih-alih menginformasikan soal siapa sang narasumber, satudari 39 arsip
yang dideklasifikasi tersebut malah menyebutkan bahwa laporan tentara
yang diberi judul “Abortive communist coup planned and arranged by the
Peking regime as part of itsconcept of world revolution” itu sebagai hoax/./
Dalam telegram 222 dari American Consul General Hong Kong ke American
Embassy Jakarta, tertanggal 27 April 1966, disebutkan bahwa artikel
/Angkatan Bersendjata /itu isinya sebagian besar hanyalah reproduksi
(nyaris /copy-paste/) dari artikel yang pernah muncul dalam terbitan
berbahasa Tiongkok yang berbasis di Hong Kong pada 16 Desember 1965.
Artikel itu ternyata tidak pernah dibuat sebagai analisis serius
terhadap kondisi Indonesia, lebih-lebih soal keterlibatan Mao. Dikatakan
hoaxkarena artikel tersebut sumbernya adalah igauan seseorang untuk
tujuan mendiskreditkan PKC. Bisa jadi dia simpatisan Kuomintang yang
memang bersitegang dengan PKC.
“(Tulisan yang jadi sumber Tentara Indonesia menuduh Mao) adalah bagian
dari seri fiktif yang secara tegas ditulis untuk menertawakan rezim
Peking. Semua hal tersebut adalah produk imajinasi si penulis,” tulis
artikel tersebut.
<https://tirto.id/tentang-pasokan-ribuan-senjata-dari-cina-pada-1965-cxeo>
Taomo Zhou, dalam/paper///berjudul/China and the Thirtieth of September
Movement///(2014)
<https://archive.org/stream/pdfy-6pehcw-Fp4-9FZeG/Taomo%20Zhou%20-%20China%20and%20the%20Thirtieth%20of%20September%20Movement_djvu.txt>juga
menyangkal artikel di/Angkatan Bersendjata///ini. Dengan bersumber arsip
kementerian luar negeri RRC, Zhou mengatakan bahwa meski memang ada
bantuan ribuan senjata ke Indonesia dalam periode itu, namun itu lebih
sebagaiupaya pelemahan kekuatan Barat di Asia Tenggara dan Pasifik.
Pada saat itu, komunikasi poros Jakarta-Peking memang sangat intens.
Dalam rangka hubungan itu, beberapa pejabat militer dan sipil Indonesia
mengunjungi Cina. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri
Subandrio sendiri yang berangkat ke Negeri Tirai Bambu.
Dalam kunjungan pada awal 1965, Perdana Menteri Cina, Zhou En Lai
menawarkan bantuan 100.000 senjata ringan kepada Indonesia.Kalau
dibandingkan Uni Soviet, bantuan militer Cina dalam kurun waktu 1960
sampai September 1965 jauh lebih kecil. Dan Soviet sama sekali tidak
dikaitkan dengan penculikan.
Omar Dhani, Kepala Angkatan Udara Indonesia
<https://tirto.id/m/omar-dhani-cT>, pergi ke Cina pada 16 September 1965
untuk menindaklanjuti janji Zhousoal pasokan senjata. Para pemimpin Cina
bisa saja menyetujui permohonan AURI untuk membawa 25.000 pucuk itu.
“Akan tetapi karena terbatasnya ruang-waktu dan kesempatan antara
kunjungan Omar Dani dan meletusnya G30S, secara logistik sangat sukar
bagi AURI untuk mengatur dan menerima pengiriman senjata-senjata itu,”
tulis TaomoZhou dalam “Tiongkok dan G30S”di buku/G30S dan Asia: Dalam
Bayang-Bayang Perang Dingin/.
Selain itu, janji senjata dari Zhou itu butuh prosesperakitan dan
pengepakan. Belum lagi pengiriman. Jika harus dikirimkan sekitar 25.000
senjata sebelum 30 September 1965, hal itu tidak mungkin.
Senjata-senjata yang dipakai milisi dalam G30S di sekitar Pangkalan
Halim sangat minim. Jadi Taomo berpendapat, besar kemungkinan
senjata-senjata itu belum sampai ke Indonesia ketika G30S meletus.
Sumber:Tirto.Id
<https://tirto.id/arsip-rahasia-as-hoax-mao-zedong-terlibat-g30s-cyz3>
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com