Wayang sudah ada dalam bahasa Indonesia.
https://surabaya.tribunnews.com/2010/07/22/menonton-wayang-dalam-bahasa-indonesia

Jaman dulu saja sudah ada wayang Potehi dalam bahasa Indonesia di
klenteng-kleneng.

Pada tanggal Min, 4 Agu 2019 pukul 03.04 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> Wayang adalah spesifik kebudayaan di Jawa. Bagi penduduk di luar pulau
> Jawa, pada prinsipnya mereka tidak mengerti pagelaran wayang, jadi kalau
> diadakan pertunjukan wayang maka tentu mereka yang tahu atau mengerti akan
> menjadi penonton utama. Mungkin masalahnya seperti istilah ”kampret dan
> cebong”,waktu kampanye Pemilu hanya orang Jawa dan bukan orang Jawa yang
> bisa berbahasa Jawa yang mengerti arti kedua kata tsb, jadi untuk bisa
> dipahami perlu dilancarkan dan intensifkan Jawanisasi. hehehehehehehe
>
>
> https://sp.beritasatu.com/#
> *Pagelaran Wayang di Istana Usung Nilai Kebinekaan*
>
> [image: Pagelaran Wayang di Istana Usung Nilai Kebinekaan]Suasana
> Pagelaran Wayang Kulit di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 2 Agustus
> 2019 malam. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
>
> Dina Fitri Anisa / FMB Sabtu, 3 Agustus 2019 | 11:07 WIB
>
> *Jakarta, Beritasatu.com* - Untuk pertama kalinya, lapangan Istana
> Merdeka menggelar pagelaran wayang kulit yang berlangsung pada, Jumat
> (2/8/2019) malam. Pagelaran yang dihadiri sekitar 1.500 orang ini menjadi
> saksi kebinekaan Indonesia.
>
> Meski kesenian wayang kental akan budaya Jawa, tetapi acara ini dibuka
> dengan beberapa hiburan lintas budaya. Mulai dari tarian lilin dari
> Sumatera Selatan, lagu *Sajojo* yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit, dan
> juga lagu campursari khas Didi Kempot.
>
> “Hal semacam ini sangat baik, dan semoga ke depannya ada daerah-daerah
> lain yang dilibatkan. Dengan keberagaman seperti ini, Indonesia menjadi
> semakin indah di mata dunia,” terang Didi Kempot kepada *SP*, usai turun
> dari panggung pertunjukkan di lapangan Istana Merdeka, Jumat (2/8/2019)
> malam.
>
> Setelah pembukaan berlangsung, dalang Ki Manteb Sudarsono naik ke atas
> panggung, menandakan bahwa pagelaran wayang dengan lakon *Kresno Jumeneng
> Ratu*, dimulai. Sebuah lakon yang mengisahkan tentang keberhasilan Kresna
> menjadi seorang raja yang mengayomi masyarakat serta juru damai terhadap
> pihak-pihak yang bersengketa.
>
> Dalam pagelaran tersebut, Ki Manteb tidak hanya berusaha menghibur
> masyarakat umum yang datang, tetapi sekaligus menanamkan nilai-nilai
> kebangsaan. Salah satunya dengan menyosialisasikan Empat Pilar MPR, yaitu
> berisikan prinsip-prinsip Pancasila, UUD NRI Tahun1945, NKRI, dan Bhinneka
> Tunggal Ika.
>
> Selanjutnya deretan penampil lainnya, seperti Soimah, Butet Kertaradjasa,
> Cak Lontong, Akbar, Endah Laras, Den Baguse Ngarso, dan juga Kirun yang
> mengisi limbuk'an dan goro-goro. Merespon Lakon Kresna, mereka memberikan
> penampilan segar dan mengocok perut.
>
> Uniknya, dalam adegan singkat tersebut, para pemain menonjolkan
> karakteristik budaya yang berbeda. Mulai dari Jawa, Madura, dan juga Batak.
> Beberapa lagu daerah asal tersebut juga diperdengarkan. Menurut penulis
> cerita limbuk'an dan goro-goro, Agus Noor drama singkat tentang keberagaman
> ini adalah titipan dari Presiden Joko Widodo.
>
> “Titipan dari presiden adalah, meskipun wayang berasal dari Jawa, tetapi
> yang ditampilkan jangan budaya dari Jawa saja. Buatlah pagelaran wayang
> untuk Indonesia. Itu konteks yang ingin ditekankan,” jelas Agus.
>
> Dalam kesempatan tersebut, Cak Lontong juga menilai, keunikan pementasan
> wayang kali ini mampu memunculkan narasi yang kuat tentang kebinekaan.
> Dengan demikian, disadari atau tidak, Presiden tengah menanamkan kepada
> masyarakat akan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia yang adi luhung.
>
> “Ini adalah pembuktian kebudayaan sangat dihargai, bagaimana menempatkan
> budaya wayang yang dapat mencerminkan tradisi bangsa kita. Semoga Istana
> memiliki pagelaran lain, sekarang wayang kulit, nanti bisa ketoprak , dan
> dari luar jawa lagi,” terangnya.
>
> Dengan mengundang ribuan orang berkumpul menonton wayang semalam suntuk di
> lapangan Istana Merdeka, merupakan sebuah keputusan yang langka bagi
> seorang Presiden. Hal tersebut diungkap oleh Akbar, yang merasa sangat
> bahagia pagelaran wayang kulit dan masyarakat biasa akhirnya bisa menginjak
> halaman istana.
>
> “Ini pertama kali wayang di istana, menurut saya ini bentuk dari
> pelestarian budaya wayang. Lebih dari itu, saat ini pemerintah memberiman
> kesan bahwa, istana ini milik siapa saja. Rakyat di sini bisa menonton
> wayang. Bukan tempat esklusif yang tertutup, terbukti banyak sekali yang
> datang,” jelasnya.
>
>
>
> Sumber: Suara Pembaruan
>
> 
>

Kirim email ke