----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Minggu, 4 Agustus 2019 
04.40.45 GMT+2Judul: [nasional-list] Pagelaran Wayang di Istana Usung Nilai 
Kebinekaan
     

 
Wayangadalah spesifik kebudayaan di Jawa. Bagi penduduk di luar pulauJawa, pada 
prinsipnya mereka tidak mengerti pagelaran wayang, jadikalau diadakan 
pertunjukan wayang maka tentu mereka yang tahu ataumengerti akan menjadi 
penonton utama. Mungkin masalahnya sepertiistilah ”kampret dan cebong”,waktu 
kampanye Pemilu hanya orang Jawa dan bukan orang Jawayang bisa berbahasa Jawa 
yang mengerti arti kedua kata tsb, jadi untuk bisa dipahami perlu dilancarkan 
dan intensifkan Jawanisasi. hehehehehehehe





https://sp.beritasatu.com/#

PagelaranWayang di Istana Usung Nilai Kebinekaan

SuasanaPagelaran Wayang Kulit di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 
2Agustus 2019 malam. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
 
 Dina Fitri Anisa / FMB Sabtu, 3 Agustus 2019 | 11:07 WIB
  
 Jakarta, Beritasatu.com - Untuk pertama kalinya, lapangan Istana Merdeka 
menggelar pagelaran wayang kulit yang berlangsung pada, Jumat (2/8/2019) malam. 
Pagelaran yang dihadiri sekitar 1.500 orang ini menjadi saksi kebinekaan 
Indonesia.
 
 Meski kesenian wayang kental akan budaya Jawa, tetapi acara ini dibuka dengan 
beberapa hiburan lintas budaya. Mulai dari tarian lilin dari Sumatera Selatan, 
lagu Sajojo yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit, dan juga lagu campursari khas 
Didi Kempot.
 
 “Hal semacam ini sangat baik, dan semoga ke depannya ada daerah-daerah lain 
yang dilibatkan. Dengan keberagaman seperti ini, Indonesia menjadi semakin 
indah di mata dunia,” terang Didi Kempot kepada SP, usai turun dari panggung 
pertunjukkan di lapangan Istana Merdeka, Jumat (2/8/2019) malam.
 
 Setelah pembukaan berlangsung, dalang Ki Manteb Sudarsono naik ke atas 
panggung, menandakan bahwa pagelaran wayang dengan lakon Kresno Jumeneng Ratu, 
dimulai. Sebuah lakon yang mengisahkan tentang keberhasilan Kresna menjadi 
seorang raja yang mengayomi masyarakat serta juru damai terhadap pihak-pihak 
yang bersengketa.
 
 Dalam pagelaran tersebut, Ki Manteb tidak hanya berusaha menghibur masyarakat 
umum yang datang, tetapi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Salah 
satunya dengan menyosialisasikan Empat Pilar MPR, yaitu berisikan 
prinsip-prinsip Pancasila, UUD NRI Tahun1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
 
 Selanjutnya deretan penampil lainnya, seperti Soimah, Butet Kertaradjasa, Cak 
Lontong, Akbar, Endah Laras, Den Baguse Ngarso, dan juga Kirun yang mengisi 
limbuk'an dan goro-goro. Merespon Lakon Kresna, mereka memberikan penampilan 
segar dan mengocok perut.
 
 Uniknya, dalam adegan singkat tersebut, para pemain menonjolkan karakteristik 
budaya yang berbeda. Mulai dari Jawa, Madura, dan juga Batak. Beberapa lagu 
daerah asal tersebut juga diperdengarkan. Menurut penulis cerita limbuk'an dan 
goro-goro, Agus Noor drama singkat tentang keberagaman ini adalah titipan dari 
Presiden Joko Widodo.
 
 “Titipan dari presiden adalah, meskipun wayang berasal dari Jawa, tetapi yang 
ditampilkan jangan budaya dari Jawa saja. Buatlah pagelaran wayang untuk 
Indonesia. Itu konteks yang ingin ditekankan,” jelas Agus..
 
 Dalam kesempatan tersebut, Cak Lontong juga menilai, keunikan pementasan 
wayang kali ini mampu memunculkan narasi yang kuat tentang kebinekaan. Dengan 
demikian, disadari atau tidak, Presiden tengah menanamkan kepada masyarakat 
akan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia yang adi luhung.
 
 “Ini adalah pembuktian kebudayaan sangat dihargai, bagaimana menempatkan 
budaya wayang yang dapat mencerminkan tradisi bangsa kita. Semoga Istana 
memiliki pagelaran lain, sekarang wayang kulit, nanti bisa ketoprak , dan dari 
luar jawa lagi,” terangnya.
 
 Dengan mengundang ribuan orang berkumpul menonton wayang semalam suntuk di 
lapangan Istana Merdeka, merupakan sebuah keputusan yang langka bagi seorang 
Presiden. Hal tersebut diungkap oleh Akbar, yang merasa sangat bahagia 
pagelaran wayang kulit dan masyarakat biasa akhirnya bisa menginjak halaman 
istana.
 
 “Ini pertama kali wayang di istana, menurut saya ini bentuk dari pelestarian 
budaya wayang. Lebih dari itu, saat ini pemerintah memberiman kesan bahwa, 
istana ini milik siapa saja. Rakyat di sini bisa menonton wayang.. Bukan tempat 
esklusif yang tertutup, terbukti banyak sekali yang datang,” jelasnya. 
 
 

 
 
 Sumber: Suara Pembaruan
    

Kirim email ke