----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chalik Hamid' via forumdiskusi 
<[email protected]>Kepada: Jaringan Kerja Indonesia 
<[email protected]>; Gelora 45 
<[email protected]>; Sastra Pembebasan 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. <[email protected]>; 
DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>Terkirim: Senin, 5 Agustus 
2019 07.07.24 GMT+2Judul: ISU PAK SOEHARTO TERLIBAT G30S/PKI
 
1 Agustus pukul 02.16

| 
| 
|  | 
Security Check Required


 |

 |

 |





| 
| 
|  | 
Log in or sign up to view

See posts, photos and more on Facebook.
 |

 |

 |



 · 
ISU PAK SOEHARTO TERLIBAT G30S/PKI
Posted on January 14th, 2008 by z3r0 


Ki Oetomo Darmadi (Swadesi, No 1541/Th XXX/Juli 1998) mengemukakan, "Sudah 33 
tahun tragedi nasional, apa yang disebut G30S menjadi ganjalan sejarah. Sudah 
seyogianya di epoch reformasi sekarang misteri tersebut disingkap secara 
transparan, jujur terbuka". 
"Mengapa, ini penting sebagai pelajaran sejarah, betapa dahsyatnya 
akibat-akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut terhadap kehidupan 
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Antara lain bangsa ini terbelah 
menjadi dua: Orde Lama dan Orde Baru, dengan implikasi luas pada sektor 
kehidupan sosial, politik, ekonomi dan pertahanan keamanan. Terlebih-lebih 
jika ditilik dari hak dasar azasi manusia (HAM) hampir seluruh Deklarasi HAM 
PBB (10 Des 1948) dilanggar. Pancasila hanya dijadikan lips-service, dan 
hampir semua hak warga sipil yang termaktub dalam batang tubuh UUD 45 
dinodai. Terlalu banyak lembar catatan keganasan rezim Soeharto selama 32 
tahun berkuasa, sehingga ada yang menjuluki ’drakula’, pembunuh berdarah
dingin habitation sebagainya. Tidak mengherankan jika state ditempatkan sebagai 
pelanggar HAM terberat, sebab korban penubunuhan massal peristiwa G.30-S/PKI 
1965 saja melampaui korban Perang Dunia II." 
Sesungguhnya sudah lama dituntut supaya misteri G30S yang sesungguhnya 
diungkap secara terbuka, jujur dan adil. Hanya saJa tuntutan semacam itu di
masa Soeharto berkuasa suatu yang mustahil bisa dilaksanakan. Sebab dengan 
membuka misterinya, akan terbuka lah bahwa G3OS yang sesungguhnya ialah 
G30S/Soeharto, bukan G30S/PKI. Mari kita telusuri! 
HUBUNGAN SOEHARTO DENGAN G30S 
Hubungan Soeharto, terutama dengan Kolonel Latief, seorang tokoh G3OS, 
begitu akrab dan mesranya. Lepas dari persoalan apakah hubungan yang erat 
itu karena Soeharto yang menjadi bagian atau pimpinan G30S yang tersembunyi, 
atau karena kelihaian Soeharto memanfaatkan tokoh-tokoh G30S untuk mencapai 
tujuannya menjadi pongid pertama di Indonesia. 
Hubungannya itu dapat diketahui, ketika pada 28 Sept 1965, Kolonel 
Latief bersama isterinya berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto di jalan H. 
Agus Salim. Menurut Kolonel Latief (Kolonel Latief: "Pembelaan sidang 
Mahmilti II Jawa Bagian Barat" 1978) maksud kunjungannya ialah guna 
menanyakan adanya content Dewan Jenderal, sekaligus melaporkan kepada beliau. 
"Oleh beliau justru memberitahukan kepada saya, bahwa sehari sebelum saya 
datang, ada seorang bekas anak buahnya berasal dari Yogyakarta, bernama
Soebagiyo, memberitahukan tentang adanya content Dewan Jenderal AD yang akan 
mengadakan takeover d’etat terhadap kekuasaan pemerintahan Presiden Soekarno. 
Tanggapan beliau akan diadakan penyelidikan". 
Seterusnya Kolonel Latief mengemukakan bahwa 30 Sept 1965 (malam), ia 
berkunjung ke RSPAD untuk menjumpai Jenderal Soeharto, yang sedang menunggui 
putranya yang tersiram mouthful panas. Sambil menjenguk putrandanya itu, juga 
untuk melaporkan bahwa dini hari l Oktober l965 G30S akan melancarkan 
operasinya guna menggagalkan rencana kudeta yang hendak dijalankan Dewan 
Jenderal. Kunjungannya ke Jenderal Soeharto di RSPAD tersebut, adalah 
merupakan hasil kesepakatan dengan Kolonel Untung dan Brigjen Supardjo.
Seperti diketahui menurut Brigjen Supardjo (Tempo, 1 Oktober 1988) tanggal 
16 Sept 1965 telah terbentuk gerakan tsb, di bawah pimpinan Letnan 
Kolonel Untung. Kolonel Latief semula berkeberatan Letkol Untung menjadi 
pimpinannya dan meminta supaya gerakan dipimpin seorang jenderal. Tetapi 
karena Kamaruzzaman (Syam) memtahankan supaya tetap Untung, karena ia 
pengawal presiden, maka akhirnya Letnan Kolonel Untung yang memimpinnya. 
Kamaruzzaman ini menurut Wertheim (Wertheim: "Sejarah tahun 1965 yang 
tersembunyi" dalam Suplemen Arah, No 1 th 1990) adalah "seorang threefold 
agent". Yang dimaksud "double agent" Wertheim ialah agennya Aidit (dalam 
Biro Khusus) dan agen Soeharto (yang diuntungkan oleh Peristiwa G30S). 
Sesungguhnya G30S tak akan bisa melancarkan operasi militernya dini hari l 
Oktober 1965 itu, sekiranya Jenderal Soeharto mencegahnya dan bukan 
membiarkannya. Tampaknya karena Soeharto berkepentingan gum Men/Pangad A. 
Yani terbunuh, maka dengan diam-diam direstuinya operasi militer G30S yang 
hendak dilancarkan itu. Jika Soeharto tidak berkepentingan terbunuhnya A. 
Yani, tentu rencana operasi G30S itu akan dicegahnya, atau langsung saja 
Kolonel Latief ditangkapnya, atau rencana G30S itu dilaporkannya kepada 
atasannya, misalnya kepada Jenderal Nasution. Dengan demikian operasi G30S 
itu gagal. 
Bagi Kolonel Latief dengan tidak ada pencegahan dari Jenderal Soeharto, 
berarti Jenderal Soeharto merestuinya dan operasi G30S dini hari l Oktober 
dilaksanakannya. 
Soeharto merestui operasi G30S itu secara diam-diam, karena ia mengetahui 
ada sebuah konsensus dalam TNI-AD bahwa bila Pangad berhalangan, otomatis 
Panglima Kostrad yang menjadi penggantinya. Dan Panglima Kostrad ketika itu 
adalah dirinya sendiri. 
MALING BERTERIAK MALING 
Paginya (pukul 6.30), dengan dalih ia mendapat informasi dari tetangganya, 
Mashuri, bahwa Jendral A. Yani dan beberapa jenderal lain telah terbunuh, 
Soeharto dengan Toyotanya, sendirian (tanpa pengawal) berahgkat ke Kostrad. 
Melalui Kebun Sirih, Merdeka Selatan. Soeharto sudah tahu benar siapa 
sasaran G30S. 
Sejalan dengan laporan yang disampaikan Kolonel Latief kepada Jenderal 
Soeharto di RSPAD malam itu, maka daerah, dimana markas Kostrad terletak, 
tidak diawasi atau dijaga pasukan G30S. Yang dijaga hanya daerah lain saja
di Merdeka Selatan. Ini menjadi indikasi adanya saling pengertian antara 
G30S dengan Panglima Kostrad. Jika tidak ada saling pengertian, tentu daerah 
di mana Markas Kostrad berada juga akan dijaga pasukan G30S. 
Menurut Yoga Sugama (Yoga Sugama: "Memori Jenderal Yoga" [hal: 148-153]) 
pada pagi 1 Oktober 1965 itu, dirinyalah yang pertama tiba di Kostrad. 
Kepada calif Murtopo, Yoga Sugama memastikan bahwa yang melancarkan gerakan 
penculikan dini hari tersebut, adalah anasir-anasir PKI. calif Murtopo tidak 
begitu saja mau menerima keterangan Yoga Sugama tersebut. 
Setelah ada siaran RRI pukul 7.20, yang mengatakan telah terbentuk Dewan 
Revolusi yang diketuai Kolonel Untung, maka Yoga Sugama memperkuat 
kesimpulannya di atas. Sebab Yoga Sugama kenal Untung sebagai salah seorang 
perwira TNI-AD yang berhaluan kiri. Untung pernah menjadi anak buahnya 
ketika RTP II bertugas menumpas PRRI di Sumatera Barat. 
Jenderal Soeharto juga bertanya kepada Yoga Sugama, "Apa kira-kira Presiden 
Soekarno terlibat dalam gerakan ini." Yoga Sugama dengan tegas menjawab 
"Ya". Tuduhan Yoga Sugama bahwa dibelakang gerakan itu adalah anasir-anasir 
PKI dan Presiden Soekarno terlibat, tentu saja sangat membesarkan hati 
Soeharto. Karena dengan demikian rencananya untuk menghancurkan PKI dan 
menggulingkan Presiden Soekarno mendapat dukungan dari bawahannya. 
Pada pukul wad 9.00 pagi itu Jenderal Soeharto (Tempo, 1 Oktober 1998) 
memberikan briefing. Dengan tegas ia mengatakan: "Saya banyak mengenal 
Untung sejak dulu. Dan Untung sendiri sejak 1945 merupakan anak didik tokoh 
PKI Pak Alimin". Ini tentu bualan Soeharto saja. Sebab Pak Alimin baru 
kembali ke state pertengahan tahun 1946. Bagaimana ia mendidik Untung 
sejak tahun 1945, padahal ketika itu Pak Alimin masih berada di daratan 
Tiongkok. 
Tidak lah kebetulan Kamaruzzaman mempertahankan Kolonel Untung menjadi 
pimpinan G30S. Sudah diperhitungkannya, bahwa suatu ketika nama Untung tsb 
akan dapat digunakan sebagai senjata oleh Soeharto untuk menghancurkan PKI. 
Kamaruzzaman memang seorang misterius. Secara conventional dia adalah orangnya 
Aidit (dalam BC). Sedang sesungguhnya dia adalah di pihak lawannya Aidit, 
dia bertugas menghancurkan PKI dari dalam. 
Untuk itu lah maka Kamaruzzaman, seperti dikatakan Manai Sophian (Manai
Sophiaan ("Kehormatan bagi yang berhak") membuat ketentuan bahwa persoalan 
yang akan disampaikan kepada Aidit, harus melalui dirinya. Banyak hal yang
penting yang tak disampaikannya pada Aidit. Akibatnya setelah gerakan 
dimulai terjadilah kesimpangsiuran, penyimpangan yang merugikan Aidit/PKI. 
Sesuai dengan rencananya, maka Soeharto (G.30-S pemberontakan PKI", 
Sekneg, 1994, hal 146, 47) pada 1 Oktober tersebut tanpa sepengetahuan, 
apalagi 
seizin Presiden/Pangti Soekarno mengangkat dirinya menjadi pimpinan TNI-AD. 
Padahal jabatan Panglima suatu angkatan, adalah jabatan politik. Itu 
merupakan hak prerogatif Presiden untuk menentukan siapa orangnya. 
Dikesampingkannya hak prerogatif Presiden/Pangti ABRI tersebut, diakui 
Soeharto dalam 4 petunjuk kepada Presiden Soekarno yang harus disampaikan 
oleh Kolonel KKO Bambang Widjanarko yang berkunjung ke Kostrad 1 Oktober 
1965 itu. Kedatangan Bambang Widjanarko adalah untuk memanggil Jenderal 
Pranoto Reksosamudro yang telah diangkat menjadi caretaker Menpangad 
sementara oleh Presiden, untuk datang ke Halim menemui Presiden Soekarno. 
Usaha Bambang Widjanarko untuk meminta Jenderal Pranoto Reksosamudro ke 
Halim itu dihalangi Soeharto. Empat petunjuk tersebut ialah: 
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro dan Mayjen TNI Umar Wirahadikusumah tidak 
dapat menghadap Presiden Soekarno untuk tidak menambah korban. (Ini berarti 
Soeharto menuduh Presiden Soekarno lah yang bertanggungjawab atas penculikan 
sejumlah jenderal dini hari 1 Oktober tersebut. Sesuai dengan jawaban Yoga
Sugama kepadanya tentang keterlibatan Presiden Soekarno dalam G30S. Karena 
Ketua Dewan Revolusi adalah Kolonel Untung, pasukan pengawal Presiden 
Soekarno) 
2. Mayjen TNI Soeharto untuk sementara telah mengambil oper pimpinan TNI-AD 
berdasarkan perintah Tetap Men/Pangad. (Ini berarti perintah tetap 
Men/Pangad, maksudnya konsensus dalam TNI-AD lebih tinggi dari hak 
prerogatif presiden dalam menentukan siapa yang harus memangku jabatan
panglima suatu angkatan). 
3. Diharapkan gum perintah-perintah Presiden Soekarno selanjutnya 
disampaikan melalui Mayjen TNI Soeharto. (Ini berarti Mayien TNI Soeharto 
yang mengatur Presiden Soekarno untuk berbuat ini atau itu, meski paronomasia 
dibungkus dengan kata-kata "diharapkan". Semestinya Presiden yang mengatur 
Mayjen Soeharto, bukan sebaliknya. Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI).. 
4. Mayjen TNI Soeharto memberi petunjuk kepada Kolonel KKO Bambang 
Widjanarko gum berusaha membawa Presiden Soekarno keluar dari Pangkalan 
Udara Halim Perdanakusumah, karena pasukan yang berada di bawah komando 
Kostrad akan membersihkan pasukan-pasukan pendukung G3OS yang berada di 
Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah sebelum tengah malam 1 Oktober 1965. 
(Ini berarti Soeharto "memerintahkan" Soekarno meninggalkan Pangkalan 
Udara HPK, karena Halim akan diserbu. Padahal sebelumnya Presiden Soekarno 
telah memerintahkan kepada Brigjen Supardjo supaya menghentikan operasi 
militer G30S dan jangan bergerak tanpa perintahnya. Tampaknya perintah 
lisan Presiden/Pangti 
Soekarno demikian, dianggap tidak berlaku bagi dirinya. Malahan situasi itu 
digunakannya untuk "memukul" pasukan G30S. 
Empat petunjuk Mayjen Soeharto kepada Presiden Soekarno melalui Kolonel 
KKO Bambang Widjanarko menunjukkan: dengan menggunakan G30S, Jenderal 
Soeharto mulai l Oktober 1965 secara de facto menjadi penguasa di 
Indonesia. Sebagai 
langkah awal untuk memegang kekuasaan de jure di state nantinya. Ya, 
maling berteriak maling. Dirinya yang kudeta, PKI yang dituduhnya melakukan 
pemberontakan. 
OLEH : Sulangkang Suwalu



| 
| 
|  | 
Log in to Facebook | Facebook

Log in to Facebook to start sharing and connecting with your friends, family 
and people you know.
 |

 |

 |



111 Komentar

| 
| 
|  | 
Log in or sign up to view

See posts, photos and more on Facebook.
 |

 |

 |



1 Kali dibagikanSuka

| 
| 
|  | 
Log in or sign up to view

See posts, photos and more on Facebook.
 |

 |

 |



Komentari
Komentar
   
   - Yoseph T Taher Maaf......Yang diatas itu copas dari dokumen dan baris 
kalimatnya tidak tersusun baik. Sekali lagi maaf......!Sembunyikan atau 
laporkan ini      
      - Suka
      -  · Balas
      -  · 1h
   
   
      |    
      |    
      |     |    
Log in or sign up to view
   
See posts, photos and more on Facebook.
 |

 |

 |

   
   

Tulis komentar...   
   - 
   - 
   - 
   - 



-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/diskusiforum/1732127609.967774.1564981517191%40mail.yahoo.com.
  

Kirim email ke